Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Mengurus Pria Menyebalkan


__ADS_3

Desta tersenyum melihat reaksi dan juga mimik wajah Dean ketika melewati jalanan ibukota. Bangunan-bangunan yang tinggi sebenarnya tidak kalah jauh dengan kota kelahirannya, hanya saja Jakarta lebih ramai lebih sumpek dan lihat saja sudah hampir satu jam mereka di perjalanan belum juga sampai karena jalanan yang macet.


Tanpa sadar Dean menoleh ke arah Desta dan mendapati pria itu tersenyum ke arahnya, padahal sudah sejak tadi mengamatinya.


"Kenapa kau melihatku?" tanya Dean nyolot, dia merasa risih diperhatikan seperti itu oleh orang yang tidak kenal terlebih orang itu adalah seorang pria.


"Kamu unik dan begitu polos, jarang bisa menemukan gadis sepertimu di zaman sekarang ini," ucapnya masih dengan senyuman yang melekat di bibir. Sejak tadi Dean menghitung, setiap berbicara padanya, Desta pasti tersenyum, ciri khas orang ramah, menurut Dean.


Entah itu pujian atau hinaan tapi yang jelas bisa membungkam mulut Dean seketika. Dia yang ingin kembali memberi komentar pedas kepada Desta, kini tutup mulut, yang ada justru Dean terdiam dan menunduk.


Rasanya sangat bosan dan begitu penat, tapi akhirnya mereka sampai juga di rumah Sea setelah satu jam lebih dalam perjalanan. Tempat tinggal Sea sebenarnya bukan rumah, namun apartemen di lantai lima.


"Akhirnya kalian sampai juga, aku pikir kalian malah kawin lari," ucap Sea, ketika membuka pintu, dan berhadapan dengan Dean. Hampir saja gadis itu membuka mulut pedasnya pada pria itu, karena bukan sambutan yang diberikan setelah perjalanan jauhnya, justru ejekan.


Dean pikir Desta tersinggung akan ucapan Sea, tapi malah justru tertawa, tidak merasa tersinggung karena merasa perseteruan antara kedua pasangan yang dijodohkan itu sangat menghibur dirinya.


Dean melotot tajam pada Sea, tapi hal itu tidak dipedulikan olehnya, dia masuk membiarkan pintu terbuka agar kedua pendatang itu bisa mengikutinya.

__ADS_1


Sea sudah kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan keras hingga terdengar sampai ke ruang tamu. Dean jadi khawatir, bagaimana mungkin dia tinggal di rumah itu dengan pria yang dianggap yang sudah gila, temperamental dan juga tidak bisa ditebak! Namun, dia harus bersabar dan cepat melalui Ini semua, hanya dua minggu dan dia akan segera kembali ke Medan.


Tidak tahu harus berbuat apa Dean hanya duduk di sofa. Pria gila yang jadi tuan rumah itu belum menunjukkan di mana kamarnya, jadi dia hanya bisa menunggu duduk di sofa ruang tamu, beruntung Desta tidak segera meninggalkannya, sehingga hatinya masih bisa tenang walau hanya sedikit.


Desta sudah mengenal seluruh seluk beluk apartemen itu, berdiri mengambil minuman dalam kulkas dan meletakkan di atas meja. "Minumlah, supaya nggak tegang."


"Terima kasih, apa kau tidak ingin pulang?" tanya Dean basa-basi. Sebenarnya dia tidak tahu harus bicara apa.


"Apakah kau sudah bosan melihatku? Kalau kau merasa terganggu atas kehadiranku, aku bisa pergi dari sini sekarang juga," ucap Desta menaikkan satu alis, menunggu jawaban Dean. Kalau memang gadis itu merasa terganggu, maka dia akan pulang.


"Bukan begitu, justru aku berterima kasih karena kamu menemaniku. Aku juga tidak tahu harus apa. Lihat saja kelakuan pria aneh itu, masuk kamar sementara dia belum menunjukkan di mana kamarku. Dia pikir aku tidak lelah setelah melakukan perjalanan jauh?" umpat Dean yang tidak berhasil mengusir rasa kesalnya terhadap pria itu.


Dia memang sahabat dekat sekaligus tangan kanan Sea. Hanya dia yang tahu mengenai masalah perjodohan Sea dengan Dean di luar Melodi, tentu saja.


Saat mendengar cerita Sea, Desta sempat terkejut, pasalnya tidak menyangka kalau Sea yang punya prinsip dan juga keras bisa menurut atas permintaan ibunya. Desta tahu sendiri bagaimana rasa cinta pria itu kepada Melodi.


Seharusnya Desta bahagia mendengar kabar Sea sudah dijodohkan dengan wanita lain, yang artinya dia mungkin punya kesempatan untuk mendekati Melodi. Sudah lama pria itu jatuh hati pada gadis itu, tapi karena Melodi memilih Sea yang memang lebih dari segalanya dari Desta, membuat pria memendam perasaannya.

__ADS_1


Setengah jam berbincang Dean merasa Desta adalah pribadi yang menyenangkan sebagai sahabat. Pria itu tulus dan terlihat bisa menyesuaikan diri dengannya yang sedikit keras dan tidak percaya diri. Keduanya tampak seru berbincang, terdengar beberapa kali tawa Dean pecah atas lelucon yang dilempar Desta padanya. Tawa itu menggema hingga sampai ke kamar dan didengar oleh Sea.


Sebenarnya sejak tadi pria itu tidaklah tidur, mencoba mendengarkan diperbincangkan keduanya. Namun, tidak berhasil mendengar.


Semakin dia mendengar Dean tertawa gembira, semakin timbul rasa kesal dan dongkol di hatinya. Sea pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar.


"Apa kau tidak bisa melakukan hal yang berguna? Pergilah ke dapur, buatkan aku bubur! Kau ke sini untuk mengurusku, bukan untuk ngobrol dengan orang lain!"


Keduanya terkejut mendengar hardikan Sea yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka. Pria itu terlihat marah dan tidak suka melihat keduanya bercanda gurau.


"Santai dong bro, lo lagi sakit jangan marah-marah. Kalau lo perlu sesuatu, lo tinggal ngomong, jangan ngebentak Dean seperti itu, dia'kan jadi takut! Lihat tuh," ucap Desta melihat sahabatnya itu marah tanpa alasan.


Kalau memang pria itu membutuhkan sesuatu dan ingin memerintah Dean, seharusnya sudah sejak awal dia mengatakan apa yang harus dilakukan gadis itu, bukan malah ngeloyor pergi masuk ke kamar dan meninggalkan mereka berdua seperti tidak menghargai.


"Alah Lo diam! Gue nggak minta pendapat lo! Udah selesai'kan ngejemput dia? Sekarang lo bisa pulang, banyak yang harus gadis ini kerjakan, dan gue butuh istirahat!" Seru Sea yang kini beralih melihat Desta dengan sinis.


Desta paham dengan mood Sea yang suka berubah-ubah, dia pun mengangguk walaupun sedikit malu terhadap Dean karena diperintah tanpa sopan oleh Sea dihadapan gadis itu. Namun, tidak ingin memperpanjang dan mempermasalah, dia tahu mungkin akibat demam membuat sahabatnya itu sedikit error.

__ADS_1


"Dean, aku pulang dulu. Kalau ada perlu, kau bisa menghubungiku dengan nomor yang aku berikan tadi," ucap Desta lembut kepada Dean. Gadis itu hanya bisa mengangguk, dan terus melihat langkah Desta hingga pintu tertutup kembali. Dean bisa merasakan tatapan tajam Sea terhadapnya kini.


"Kau memang munafik ya, saat bertemu denganku pertama kali, lau pura-pura tidak tertarik, tapi lihat baru beberapa jam kau bertemu dengan temanku, kau sudah bisa dekat dengannya, tertawa tanpa ada rasa malu dan canggung sedikit pun. Sebenarnya kalau memang suka'kan didekati banyak pria?" ucap Sea yang berhasil melukai perasaan Dean.


__ADS_2