Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Peringatan Pak Hotman


__ADS_3

Harapan Dean pupus, setelah bapaknya tidak mengizinkannya untuk pergi menyusul teman-temannya ke Parapat. Walau bagaimanapun dia merayu ayahnya, tetap saja Pak Hotman tidak mengizinkan putrinya untuk menyusul kekasihnya.


Akhirnya dia memutuskan untuk merajuk mengurung diri di kamarnya karena bapaknya tidak memenuhi keinginannya.


"Sudahlah Dean, apa yang dibilang bapakmu itu benar. Kau dengarkanlah, nggak bagus, Nak, kau pergi menemui Ferdi. Kau lihat'kan kek mana tadi marahnya bapakmu," ucap Mak Tiur menasehati Dean.


Mau tidak mau Dean hanya menghabiskan sisa liburannya di rumah. Ketika Ferdi menghubunginya malam itu, Dean ingin sekali membuka kekesalannya mengenai kedekatan Ferdi dengan Santi, tapi dia menahan lidahnya. Dia akan memuaskannya ketika dia bertemu dengan Ferdi sekaligus bila perlu dia akan menemui Santi dan mengancam gadis itu untuk tidak mendekati Ferdi karena pria itu adalah miliknya.


Besok sorenya, Ferdi datang ke rumah sekalian membawa oleh-oleh yang dia bawa dari Parapat.


"Selamat siang Om, Dean nya ada?" Sapa Ferdi yang ketika datang kebetulan Pak Hotman sedang duduk di depan, seperti biasa pria itu asik membaca portal berita yang ada di ponselnya.


Walaupun Pak Hotman tidak menyukai Ferdi mendekati putrinya, terlebih karena saat ini dia sudah ditunangkan dengan paribannya, tidak membuat pria itu bersikap cuek kepada Ferdi. Pak Hotman adalah orang yang dihormati di kompleks itu, terlebih mereka termasuk bertetangga di perumahan itu jadi tidak mungkin pak Hotman bersikap kasar kepadanya.

__ADS_1


"Dean ada, tapi bapak ingin bicara dulu samamu sebentar, bisa'kan?" tanya Pak Hotman dengan suara tegas.


Sejujurnya nyali Ferdi menciut, suara bariton Pak Hotman sedikit banyak mempengaruhi mentalnya, tahu sendiri bagaimana orang Batak ketika sudah berbicara serius.


Ferdi mengikuti arahan Pak Hotman yang menunjuk bangku yang ada di sampingnya untuk duduk agar mereka lebih nyaman berbicara.


"Om bukannya mau ikut campur tentang hubunganmu dengan Dean tapi Om tahu, kau pasti udah tahu mengenai dia yang dijodohkan dengan paribannya, kan? jadi maksud Om kayak gini, apalah gunanya kalian berteman lagi sementara nanti dia dinikahkan dengan paribannya, bukan lebih baik kau cari aja perempuan yang lain? Maaf Om bukan suku*isme, tapi di adat kami orang Batak, ketika Namborunya sudah menunjuk untuk menjadi menantu, maka dia tidak bisa menolak lagi. Kau pun pasti sudah tahukan hal itu dari Dean?" tanya Pak Hotman menatap tajam as militer kepada Ferdi.


Ferdi yang memang keturunan suku Jawa, tentu saja memiliki sopan santun dan etika yang tinggi, dia mengangguk dan baru setelahnya, dia angkat bicara.


"Nggak bisa kayak gitu Ferdi, itu udah keputusan keluarga, mana bisa kami sepihak memutuskan hal itu. Lagi pula baik si Dean ataupun paribannya itu sudah setuju, makanya Om heran kenapa kalian masih berhubungan. Sebenarnya apa yang kalian rencanakan?" tanya pak Hotman, kini sudah mulai curiga, bukankah seharusnya ketika Ferdi mengetahui tentang Dean yang sudah ditunangkan, mereka berpisah? Tapi anehnya, mereka masih akur, bersama, seperti tidak terjadi masalah apapun tetap menjalin hubungan.


"Maaf, Om, tapi kita kami nggak punya rencana apapun, yang kami tahu selagi janur kuning belum melambai masih ada kesempatan untuk memperjuangkan hubungan kami," jawab Ferdi dengan berani.

__ADS_1


"Pokoknya Om minta tolong samamu segeralah sudah hubungan kalian ini, nggak ada gunanya kalian lanjutkan itu pada akhirnya harus berpisah juga," tegas Pak Hotman tepat dengan munculnya Dean di ambang pintu


Setelah kedatangan putrinya Pak Hotman pun pamit untuk masuk ke dalam rumah, membiarkan keduanya berbicara. Pak Hotman percaya kepada Dean bahwa anak gadisnya itu tidak akan salah langkah, dia bisa menjaga jaraknya.


Dia bisa saja memaksakan agar putrinya itu berpisah dan tidak berhubungan sama sekali dengan Ferdi, tapi dia tidak mau menyita kebahagiaan putrinya dalam berteman terlebih karena putrinya sudah menyetujui untuk menikah dengan Sea.


"Apa yang diomongkan bapakku tadi samamu? Apa kau dimarahinya?" Dean menatap intens wajah Ferdi. Kalau tidak memikirkan itu adalah rumahnya, mungkin Dean akan memegang tangan Ferdi karena sudah begitu merindukan pria itu.


"Tidak ada yang penting, hanya ngobrol santai saja. Hanya menanyakan kabar ayah dan ibuku," ucap Ferdi berbohong, dia tidak ingin membuat hubungan ayah dan anak itu menjadi buruk, dia tahu bagaimana perangai Dean.


Mendengar penjelasan Ferdi, Dean sama sekali tidak menaruh curiga, lagi pulang ayahnya bukan tipe orang yang mau mengancam memarahi siapapun, itulah sebabnya mengapa dia dihormati di komplek perumahan ini.


"Ini oleh-oleh aku bawa untukmu dan juga untuk om, tante dan keluarga di sini," ucap Ferdi menyerahkan kantongan berisi pakaian dan juga makanan yang dibelinya dari Parapat dan Tomok, kota yang menjadi destinasi para turis lokal dan mancanegara ketika berkunjung ke danau Toba.

__ADS_1


"Kenapa kau masih cemberut? Ada masalah apa?" tanya Ferdi melihat ke arah kekasihnya itu, sejak tadi tidak ada senyuman yang diberikan Dean kepadanya.


"Tidak ada, hanya saja aku begitu terkejut melihat kedekatanmu dengan Santi!"


__ADS_2