Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Percepatan Pernikahan


__ADS_3

Sepertinya apapun permintaan Namboru Uli pak Hotman tidak akan bisa menolaknya, buktinya saja pria paruh baya itu mengabulkan permintaan yang menurut Dean tidak masuk akal.


"Jangan gitu'lah Pak, kan udah janji Namboru itu satu tahun lagi baru nikah, ini masih 6 bulan udah mau dipercepat lagi. Malahan aku mau mengajukan setelah koas aja baru nikah," ucap Dean menolak tegas rencana mereka yang ingin mempercepat rencana pernikahan mereka. Hampir saja Dean pingsan kala bapaknya memanggilnya lalu menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Namboru Uli.


"Bapak udah jelaskan dengan Namboru mu, tapi dia terus memohon kepada bapak, saat ini kesehatannya semakin memburuk, dia takut Tuhan memanggilnya sebelum kalian menikah," terang Pak Hotman yang mengerti kegelisahan putrinya.


Dean kehilangan kata-kata apa yang harus lakukan sekarang? Padahal baru kemarin sore dia dan Ferdi merajut mimpi karena pria itu kini sudah wisuda dan kini sedang mencari pekerjaan, tak tahunya justru rencana pernikahan Dean yang dipercepat.


Dean memilih untuk menyingkir dari hadapan ayahnya, dia tidak ingin menjawab saat itu. Dia bermaksud masuk ke kamarnya dan menghubungi Ferdi untuk menceritakan semua yang barusan disampaikan ayahnya.


Tapi sepertinya pria itu belum pulang dari bermain futsal hingga tidak mengangkat telepon Dean, yang membuat garis itu semakin kesal seharusnya saat ada masalah segenting ini bisa menemaninya untuk bertukar pikiran.


Seperti layaknya gadis pada umumnya yang dipaksa untuk berpisah dengan kekasihnya dan harus menerima perjodohan, dia hanya bisa menghabiskan sisa hari itu dengan menangis, lalu karena lelah gadis itu pun tertidur.


Pukul 09.00 malam barulah Ferdi menghubungi Dean


"Maaf, Sayang tadi nggak dengar karena lagi main futsal, ada apa? Mau minta dibelikan makanan? Ya udah, mau nitip apa, nanti aku bawakan sekalian pulang," ucapnya menerka bahwa kekasihnya itu menghubunginya karena ingin menitipkan jajanan seperti biasanya.


"Aku bukan mau menitipkan makanan! Ada hal penting yang harus kita bicarakan dan ini sangat serius," ucap Dean dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Oke,kalau begitu aku langsung menuju rumahmu," jawab Ferdi yang bergegas beranjak, dia sudah memutuskan sambungan dan segera menuju ke parkiran.


Dia sangat mengenal Dean, kalau cara gadis itu berbicara sudah seperti itu, pasti ada hal yang tidak beres yang sedang terjadi dan hal itu membuat jantung Ferdi berdebar. Apa masalah yang dimaksud Dean ada kaitannya dengan hubungan mereka yang masih berlanjut?


Tepat saat Ferdi tiba di depan gerbang rumah keluarga Pak Hotman Radedo, juga baru pulang ke rumah setelah bermain PlayStation dari rumah temannya.


"Eh Bang Ferdi, mau cari kakak, Bang?" sapanya dengan memainkan lato-lato yang ada di tangan. Permainan itu saat ini sedang digandrungi, tidak hanya anak-anak, bahkan orang dewasa pun begitu penasaran untuk memainkannya.


"Iya, tolong panggilkan ya, Do. Bilang bang Ferdi udah ada di depan rumah," jawab Ferdi tersenyum. Dia ingin menyorong motornya masuk ke halaman rumah mereka, tapi dia berpikir dua kali. Apa nanti Pak Hotman bisa menerima kedatangannya, pasalnya pria itu sudah memperingatkannya pada saat mereka terakhir kali bertemu agar mengakhiri hubungannya dengan Dean, karena tidak akan ada ujungnya.


sembari menunggu Ferdi duduk di atas jok motor sport nya, ketika pintu gerbang dibuka, dia menjadi gelagapan karena dia pikir yang datang adalah Dean untuk menemuinya tapi ternyata Mak Tiur yang keluar untuk membuang sampah.


"Malam. Loh, di sini kau? Kenapa nggak masuk? nungguin Dean? Masuklah, nggak enak ditengok orang, nanti dipikir orang kau lagi nagih hutang sama kami," jawabnya menggoda Ferdi.


"Sebentar aja kok, Tante. Ada yang mau aku sampaikan sama Dean," jawabnya ragu-ragu.


Mak Tiur tentu saja tidak memaksa, dia tahu kalaupun pria itu masuk, suaminya'lah yang akan marah, jadi dia hanya sekedar menawarkan Ferdi untuk masuk ke rumah, lalu dia pamit untuk kembali masuk lagi ke dalam.


Di pintu gerbang Mak Tiur berpapasan dengan Dean, ketika gadis itu keluar untuk menemui Ferdi. "Jangan lama-lama, udah malam. Jangan sampai kau buat Bapak mu nanti naik darah tingginya," bisik Mak Tiur sebelum masuk meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu kelihatan sedih kali?"


"Kenapa sih main futsalnya sampai malam kek gini? Apa dalam hidupmu itu lebih penting futsal sama kawan-kawan mu ya? Sikit pun nggak kau pikirkan aku!" ujar Dean membalas pertanyaan.


Demi kedamaian Ferdi tidak menjawab. Dia tahu saat ini Dean sangat kesal, makanya gadis itu marah.


Biasanya juga dia bermain sampai jam segini dan tidak pernah jadi masalah dengan gadis itu. Kebiasaan pergi yang bermain futsal hingga malam, bukanlah baru kali ini, sudah menjadi rutinitasnya. Seminggu tiga kali dan kadang justru Dean akan menemaninya untuk bermain.


Jadi, kalau kini gadis itu marah, bukan semata-mata karena dia bermain futsal hingga malam, tapi karena saat ini ada masalah yang mengganggu pikirannya.


"Oke, aku yang salah, sekarang kau bilang ada masalah apa? Hal apa yang mengganggu pikiranmu? Kenapa kau jadi kesal seperti ini?"


"Namboru meminta agar pernikahan kami dipercepat dan kalau bisa dua bulan dari sekarang pernikahan itu harus dilangsungkan. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Aku pusing, aku tidak tahu harus berbuat seperti apa." Dean sudah hampir menangis memikirkan nasib cintanya bersama Ferdi. Jalan buntu yang dia temui, setiap dia memikirkan kemungkinan yang bisa dia lakukan.


Wajah Ferdi seketika memucat, dia tidak menyangka bahwa kabar yang akan diberitakan oleh Dean akan seberat ini.


"Kau gak bisa nolak lagi? Coba bicara sama Namborumu, siapa tahu kalau bicara empat mata sesama wanita, dia bisa luluh," ucap Ferdi memberi saran. Dia semakin terdesak dengan masalah ini.


"Gak akan bisa. Mereka gak akan mengerti. Kek mana kalau kita kawin lari aja?"

__ADS_1


__ADS_2