Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Kado dari Ferdi


__ADS_3

Tidak ada yang terjadi malam itu! Memangnya apa yang akan terjadi pada dua orang yang saling membenci walau dalam satu kamar yang sama?


Dean bangun, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk. Ingatannya kembali, hari ini dia mulai menjadi istri Sea.


Ingat akan pria itu, Dean segera mendudukkan tubuhnya, dan mencari keberadaan pria itu, dia masih tertidur di lantai, di dekat tempat tidurnya


Hufffh, satu malam mereka lalu dalam satu kamar, tanpa ada yang terjadi. Tanpa sadar Dean tersenyum, dia masih bisa menyelamatkan dirinya.


Bergegas Dean membersihkan tubuhnya, mandi pagi dan sekaligus mencuci rambutnya yang masih lengket dan keras karena hair spray.


Tidak ingin membangunkan Sea yang masih terlelap.


"Wah, pengantin baru kita udah keluar. Ada yang baru keramas, nih," goda nanguda nya. Roma dan Sarma yang ada di sana juga ikut tertawa.


"Sudah'lah kalian jangan godain menantuku itu lagi," sambar Namboru Uli yang kebetulan lewat dan dengar godaan dari mereka.


Dean sendiri tidak tahu mengapa mereka tertawa. Apa salahnya kalau mandi pagi dan juga keramas? Bukankah memang seharusnya setiap orang yang mandi itu harus bersih dari rambut sampai ujung kaki?


"Mana Sea?" tanya Namboru Uli ketika melihat di ruangan itu hanya ada dirinya.


"Masih tidur Namboru," jawab Dean singkat, lalu segera pamit ke dapur, perutnya lapar. Dia butuh tenaga untuk pura-pura bahagia.

__ADS_1


Belum sampai ke dapur, Sian yang bertemu dengannya di koridor ruangan menarik gadis itu masuk ke kamarnya. "Ini dari Bang Ferdi, dikasihnya kemarin, katanya maaf dia nggak bisa datang ke pestamu. Jadi, benar Kak kalian udah putus? Berakhir begitu aja?" tanya Sian menyerahkan tote bag yang berisi kado dari Ferdi.


Sian cukup mengerti dengan keadaan yang terjadi antara kakaknya, Ferdi dan juga abang iparnya Sea. Jadi dia memutuskan untuk menyimpan kado yang diberikan oleh Ferdi dan menyerahkannya pagi ini.


"Terima kasih tapi aku simpan di sini dulu ya Sian, nanti kalau aku bawa ke kamar, Namboru dan yang lainnya bisa melihat. Gak enak ribut mulut orang itu nanti godain aku," jawab Dean menyerahkan kembali tote bag itu.


Sebenarnya hatinya tergelitik untuk membuka isi kado pemberian dari Ferdi, tapi dia belum siap. Dia memerlukan waktu sendiri untuk menyikapi pemberian Ferdi padanya.


"Apa rasanya sakit?" tiba-tiba Roma sudah duduk di sampingnya. Dean yang sedang menikmati sarapannya hanya melirik sekilas, tidak mengerti maksud dari pertanyaan gadis itu, lalu melanjutkan kembali makannya dan menganggap Roma adalah makhluk kasat mata.


Merasa Dean tidak akan menjawab pertanyaannya akhirnya Roma dengan kesal meninggalkan gadis itu.


Sejujurnya Dean masih belum bisa memaafkan para sepupunya itu yang melemparkan Sea kepadanya. Lihat saja ternyata Sarma tidak jadi menikah dengan kekasihnya yang di bangga-banggakan oleh Nangudanya itu, bahkan kini kabar terakhir yang didengar pria itu sudah kabur entah pergi ke mana.


"Sebenarnya aku menyesal sudah menolak Sea. Seandainya aku tahu kalau Bobby akan melakukan hal bejat seperti itu, lebih baik aku milih Sea!" ucap Sarma saat dia menemani Dean dirias kemarin. Bahkan Sarma bersedia menggantikan posisi Dean di pelaminan.


"Kau dan aku kan sama boru nya, jadi tidak masalah soal undangan," lanjutnya meneruskan ceritanya yang tidak masuk akal.


Dean hanya tersenyum menertawakan ucapan Sarma. Dia masih ingat bagaimana dia memohon kepada kakaknya itu untuk mau menerima lamaran keluarga Namboru kala itu. Lagi pula pertama kali yang ditunjuk Sea untuk menikah dengan paribannya adalah Sarma, tapi gadis itu menolak dan berujung jatuh pada Dean.


Perut Dean sudah kenyang, dia ingin menikmati kesendiriannya dengan berayun-ayun di samping rumah, tapi Mak Tiur memintanya untuk membangunkan Sea, karena ini sudah siang.

__ADS_1


"Kau sudah menikah, mulai sekarang kau lah yang harus mengurus suamimu. Bangunkan dia, ajak sarapan," ucap Mak Tiur yang berat hati dikerjakan oleh Dean.


Posisi Sea masih sama saat dia meninggalkan pria itu tadi. Dean diam ditempatnya mengamati pria itu yang tidur seperti mayat tidak bergerak sedikit pun.


Pipi Dean memerah oleh karena hasil pikirannya, saat itu dia mengakui kalau Sea sangat tampan, dan benar kata Sarma siapa pun akan terpikat pada pesona Sea.


Buru-buru Sea menyentak kepalanya ke kiri dan kanan, membuyarkan isi pikirannya yang dianggap ngaco.


"Sea, bangunlah! Kau diminta untuk turun, sarapan sana. Banyak orang menunggumu keluar," ucap Dean yang duduk di tepi ranjang.


Sea belum membuka mata, bahkan pria itu tidak bergerak sama sekali. Wajah Dean tiba-tiba pucat, pikiran mengenai Sea yang meninggal membuatnya ketakutan bergegas dia duduk di hadapan Sea yang tidur dengan posisi miring.


"Sea... Ayo bangun, jangan buat aku ketakutan!" ucapnya dengan suara serak, sembari menggoyangkan tubuh pria itu.


Entah mimpi apa yang saat ini dia alami, Sea lalu mengulurkan tangannya menjangkau pundak Dean, lalu menarik gadis itu dan terjatuh di atas tubuhnya, memeluk dan mencium bibir Dean dengan mata tertutup.


*


*


*

__ADS_1


Hai, mampir lagi di novel teman ku yok,



__ADS_2