
Rasa deg-degan di dadanya Dean masih belum bisa berdetak normal. Ini bukan pertama kali dia naik pesawat, tapi jantung nya berdebar kencang karena ini adalah perjalanannya terpanjang dan terlama di dalam pesawat, dan bersama seorang pria.
Hubungan Dean dan Sea masih tergolong baru, mereka juga berkomunikasi jarang, hanya lewat telepon dan pada saat bertemu pun hanya beberapa hari saja, jadi masih ada rasa canggung dan tidak leluasa. Terlebih, sekarang dia harus bergantung kepada pria itu di negeri orang yang jauh dari orang tuanya.
Jeleknya, kalau Sea ingin membuangnya di suatu tempat atau meninggalkannya maka dia tidak akan tahu jalan pulang. Jadi, dia berpikir sebaiknya dia mengubah sikapnya agar terlihat lebih manis di depan Sea.
"Kau kenapa? Kok diam aja? Apa perjalanan ini membuatmu mabuk?" tanya Sea, melirik ke sebelahnya, sejak tadi Dean hanya duduk termangu dan terlihat begitu kaku, tidak mungkin dia takut dalam penerbangan ini karena dia juga sudah beberapa kali naik pesawat. Lantas apa yang membuat gadis itu terlihat begitu ketakutan, dan wajahnya pucat?
"Aku baik-baik saja, nggak mabuk, kok. Apa perjalanannya masih jauh? Kapan kita akan sampai?" tanyanya membalas tatapan Sea sesaat, lalu kembali menatap lurus ke depan. Pikirannya saat ini bercabang, saat hendak berangkat, dia belum sempat permisi kepada Ferdi, hanyalah mengirim satu pesan yang mengatakan untuk beberapa hari ke depan dia mungkin tidak bisa dihubungi karena berada di luar negeri.
Perjalanan jauh itu akhirnya berakhir, mereka sudah sampai di negeri yang katanya super power. Dean tidak mau membuang waktunya, dia ingin menikmati kesempatan mengunjungi negara itu dengan memperhatikan setiap tempat yang mereka lewati. Perjalanan menuju rumah dari bandara dihabiskannya dengan melihat ke arah jendela mobil.
Satu jam berlalu, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang sangat mewah, dengan taman yang luas. Rumah berlantai dua itu di kelilingi oleh pagar tinggi yang membuatnya tampak angkuh.
"Ini rumahmu?" tanya Dean yang melongo menatap lekat depan rumah itu.
__ADS_1
Mobil masuk setelah pintu gerbang terbuka secara otomatis, dan mobil yang tadi datang menjemput mereka ke bandara masuk ke dalam.
"Turun'lah, dan cek saja apa ini rumahku atau rumah pak RT setempat," ucap Sea tersenyum tipis.
Dean yang mengetahui pria itu sedang menggodanya hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
Tidak mempedulikan reaksi Dean, Sea lantas menarik tangan gadis itu memasuki rumah dengan pintu yang sangat tinggi, di sana sudah berdiri berjajar beberapa pelayan yang bekerja di rumah itu menyambut kedatangan mereka dengan hormat dan senyum yang melekat di bibir mereka.
"selamat datang tuan muda dan juga nona besar," sapa mereka yang kebanyakan adalah pelayan dengan kewarganegaraan Indonesia. hal itu bukan tanpa alasan karena pada awal menikah dengan yang baru Uli tidak begitu mengerti bahasa asing sehingga budaya itu memutuskan untuk mempekerjakan pelayan berkewarganegaraan Indonesia agar memudahkan istrinya berkomunikasi dan juga tidak bosan ada yang mengajaknya untuk bercerita.
"Di mana orang tuaku?" tanya Sea menatap seorang pria bernama mister Smith yang menjadi kepala pelayan di rumah itu.
Sea bergegas menaiki anak tangga bersama Dean yang tangannya masih digenggam pria itu. Dean tidak menariknya karena memang dia membutuhkan pria itu untuk berada di sampingnya. Kalau boleh jujur, Dean begitu ketakutan berada di tempat itu, tempat yang sangat asing baginya.
Ketika mereka membuka pintu kamar, terlihatlah di tengah ruangan Uli yang tengah berbaring dengan ranjang terpisah yang khusus untuk tempatnya berbaring dengan infus dan berbagai macam peralatan medis lainnya yang saat ini sedang dipasang di tubuhnya.
__ADS_1
Ada dokter dan juga dua orang perawat yang berada di ruangan itu, segera berdiri ketika melihat bahwa anak pemilik rumah yang datang mengunjungi ibunya.
"Mama," bisik Sea yang tidak tega melihat keadaan ibunya yang terbaring lemah. Pria itu menggenggam tangan Uli, berharap wanita itu bisa merasakan kehadiran mereka dan membuka mata, serta memberi senyum nya, tapi dokter yang sedang menjaga mengatakan bahwa saat ini keadaan Namboru Uli menurun drastis sehingga kembali jatuh pingsan selama dua hari belakangan ini. Dia tidak akan bisa mendengar siapapun yang mengajaknya bicara.
Hal itu tentu saja membuat Dean merasa sangat sedih dan meneteskan air mata. Dia juga mendekat dan tanpa sadar menyentuh pundak Sea yang terlihat menangis tanpa suara meratapi keadaan wanita yang paling dia sayangi itu.
Dean bisa melihat tubuh Sea bergetar hebat, tapi tetap tanpa suasa, menyembunyikan wajahnya di pergelangan tangan ibunya.
"Sudah, Sea. Namboru pasti sembuh, kita akan selalu mendoakan dan menjaganya," bisik Dean sedikit mendekat ke telinga Sea.
*
*
*
__ADS_1
Mampir gais