Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Kau Adalah Harga Diri ku


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukulnya?" bentak Dean sembari mendorong tubuh Sea. Penuh khawatir, dia memeriksa wajah Ferdi, apa saja yang luka karena pukulan Sea tadi. Pipi pria itu tampak bengkak, dan mungkin tangan Sea juga mengenai sudut bibir pria Ferdi hingga darah segar menetap dari sana.


"Kau masih membelanya? Kau ini bodoh atau apa? Dia baru saja menamparmu!" seru Sea menatap kecewa pada Dean.


Gadis itu sudah berhasil membantu tubuh Ferdi tegak. Satu tangan Ferdi disampirkan di pundaknya. "Lantas, apa hubungannya denganmu? Terserah dia mau berbuat apa padaku, ini urusan kami!" jerit Dean menatap marah pada Sea.


Selama ini rasa bencinya pada pria itu sudah hilang, tapi karena dia sudah memukul wajah pria yang dia cintai, Dean kembali membencinya.


"Apa urusanku? Kau istriku! Sah di mata hukum dan adat. Orang tuamu menitipkan mu padaku!" sambar Sea. Mereka seperti orang bodoh, bertengkar di depan Ferdi yang menjadi penonton.

__ADS_1


"Kita pulang!" lanjut Sea menekan amarahnya. Dia tahu tidak akan selesai kalau terus adu mulut dengan Dean.


"Kau pulang saja duluan, aku akan mengantar Ferdi!" Keputusan Dean sudah final, tertatih memapah Ferdi ke dekat mobil pria itu.


"Kau mau mengantar? Jarak rumahnya berkilo-kilo jauhnya sementara tempat tinggal mu hanya butuh lima menit untuk sampai di rumah. Aku punya batas kesabaran, Dean. Kau pulang dengan ku, atau aku habisi pria brengsek ini!" ancam Sea. Dia tidak habis pikir kenapa Dean masih saja membela pria kasar seperti Ferdi.


"Udah, kau pulang aja. Aku bisa pulang sendiri. Aku minta maaf karena sudah menamparmu tadi," ucap Ferdi membelai pipi Dean yang tadi sempat dia pukul.


Tujuan Sea hanya satu, agar ucapan perpisahan keduanya segera selesai. Dean menatap kesal pada Sea. Ingin sekali memakai pria itu.

__ADS_1


"Udah, pulang sama dia," ucap Ferdi mendorong pundak Dean lembut. Berat hati Dean akhirnya naik ke motor, lalu tanpa sempat mengucapkan hati-hati di jalan pada Ferdi, Sea sudah menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Sontak Dean melingkarkan tangannya di perut rata pria itu.


Sea kecewa pada sikap Dean. Hanya karena cinta membuatnya tidak bisa melihat mana yang benar dan yang salah.


Jelas-jelas perbuatan Ferdi itu tidak pantas, tapi Dean masih saja membelanya. Kalau seseorang memukul Dean, sama aja dengan menghina dan menginjak-injak harga dirinya sebagai pria.


"Apa?" tanya Sea saat mendapati gadis itu tengah melotot padanya. Baru saja tiba di rumah, tampaknya gong perang sudah dibunyikan oleh Dean.


"Aku gak suka kau memukul Ferdi. Bukankah kita sudah janji gak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing?"

__ADS_1


"Buka matamu, Dean. Apa pantas pria yang katanya mencintaimu, justru menamparmu? Ingat kan masih istriku. Kau adalah harga diriku, aku bisa saja menghajarnya sampai mampus, kalau kau tidak melerai tadi. Kau istriku, tidak ada seorang pun bisa menyakiti mu!" jawab Sea, mengikis jarak diantara mereka, lalu memegang dagu gadis itu.


Lalu saat keduanya saling beradu pandang, dorongan hebat dari dalam hati Sea untuk mencium bibir gadis itu. Tanpa menunggu lama, Sea menyatukan bibir mereka. Tentu saja Dean yang terkejut sontak menolak, tapi Sea sudah mendorong tubuh Dean hingga mentok ke tembok, memegang tengkuk gadis itu lalu kembali melu*mat bibir yang selama ini menjadi kerinduannya. Ciuman itu perlahan, tapi menuntut hingga berubah menjadi ciuman buas saat Dean terlena dan pada akhirnya ikut berpartisipasi dengan memainkan lidahnya.


__ADS_2