
"Benarkah? Jadi kalian akan bercerai?" pekik Ferdi begitu gembira siang itu, kala Dean menyampaikan padanya bahwa Sea sudah setuju untuk bercerai.
Gadis itu hanya mengangguk, dan saat Ferdi memeluknya untuk mengungkapkan perasaan gembiranya, justru Dean merasa sangat sedih. Pikirannya terus membayangkan Sea.
"Dean, kalau begitu aku akan bicara dengan orang tuaku. Kita akan menikah setelah kau resmi bercerai," ungkap Ferdi.
***
Dean pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Sudah seminggu Sea tidak pulang. Dia mengatakan banyak kerjaan, jadi memilih tinggal di hotel dekat kantor. Hanya alasan klise untuk menjauhi Dean.
Gadis itu tahu, hal itu hanya untuk membuat jarak diantara mereka. Harusnya Dean yang pergi dari rumah itu, bukan Sea. Toh, ini adalah rumah pria itu.
Surat yang dititipkan Rizal padanya kemarin masih tergeletak di atas meja. Dean menarik napas mendekati berkas itu, dan membaca ulang.
Surat pengajuan perceraian mereka yang harus dia tanda tangani. Kenapa saat jalan untuk bersama Ferdi semakin terbuka, justru dia tidak ingin berpisah?
Hari-harinya sudah terbiasa dengan keberadaan Sea. Bahkan mereka sudah pernah...
__ADS_1
Kembali Dean menarik napas. Dengan air mata berurai dia menandatangi surat itu karena besok pagi Rizal akan datang mengambilnya.
Sahabat Sea itu menjadi perantara bagi mereka berdua. Tampaknya Sea benar-benar tidak ingin bertemu dengan dirinya.
Dipandanginya surat yang sudah dibubuhi tanda tangan itu. Tangisnya pecah, menangis seorang dengan teriakan yang menyayat, tapi tidak yakin apa yang dia tangisi.
***
Persidangan perceraian itu sudah mulai digelar. Keduanya tidak pernah menghadiri persidangan itu, hanya diwakili oleh pengacara mereka masing-masing. Ferdi lah yang menyediakan pengacara bagi Dean.
Saat mediasi mereka akhirnya bertemu setelah sekian lama. Dean ingin sekali berlari memeluk Sea. Dorongan itu semakin kuat. Sudah berbulan-bulan lamanya mereka tidak bertemu.
"Apa kabar?" tanya Sea menghampiri Dean saat memasuki ruang mediasi.
"Ba-ik," jawab Dean lemah. Perasaannya campur aduk. Dia rindu. Oh, bagiamana perasaannya ini, mengapa begitu tak karuan.
Selebihnya keduanya diam. Lalu mendengar petunjuk pejabat setempat apa yang harus mereka bicarakan selama mediasi.
__ADS_1
Dengan tegas, Sea mengatakan akan tetap bercerai kala ditanya apakah sudah menemukan kesepakatan untuk rujuk. Mendengar pernyataan Se hati Dean semakin hancur.
Di luar kantor pengadilan agama, Sea menyalami Dean, sekaligus mengucapkan selamat pada gadis itu.
"Dua hari lalu aku bertemu dengan Ferdi. Dia mengatakan bahwa kalian akan segera menikah dan kedua orang tua sudah setuju. Aku itu senang, aku doakan agar kalian berdua senantiasa berbahagia," ujar Sea getir. Suaranya tampak bergetar hanya demi menunjukkan kalau dia tidak sedang baik-baik saja akan hal itu.
Dean menerima uluran tangan itu dengan terpaksa, namun membuang wajahnya ke arah lain. Dia tidak ingin Sea melihat kehancuran hatinya saat ini.
Dean ingin mengatakan bahwa dia tidak baik-baik saja. Dia tidak bahagia dan dia benci karena memiliki perasaan yang plin-plan. Tapi dia tidak mampu untuk mengatakan hal itu.
"Terima kasih," jawabnya getir.
"Sebaiknya kita berpisah di sini. Kalau pun aku tidak bisa datang pada acara pesta pernikahan kalian aku pasti akan mengirimkan kado. Sekali lagi aku ucapkan selamat dan semoga kau bahagia," ucap Sea sebelum pergi dari hadapan gadis itu.
Setelah Sea pergi, Dean berjalan ke arah berlawanan. Dadanya sesak, dia perlu menenangkan diri dan memilih taman di dekat pengadilan agama itu untuk tempatnya menenangkan diri.
Dean duduk di sana sendiri dengan hati dan perasaan yang hancur. Dia menangis terisak meratapi hidupnya. Apa benar ini jalan yang dia inginkan? Apa dia akan bahagia dengan Ferdi? Lalu bagaimana dengan Sea? Apakah pria itu bisa melupakan semua kenangan yang pernah mereka lalui bersama?
__ADS_1
Semua pertanyaan itu hanya dia jawab dengan air mata, mencoba mendengarkan kata hatinya namun terasa sangat sesak.