Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Pulang


__ADS_3

Tiba saatnya Dean berangkat, semua penumpang yang ikut dalam pesawat yang ditumpanginya sudah diumumkan agar segera masuk.


"Aku pulang. Terima kasih sudah mengantarku," ucap Dean tersenyum. Disini lah mereka akan berpisah. Tidak terasa sudah dua Minggu dia ada di kota ini.


"Aku yang harusnya mengucapkan terima kasih padamu, karena kau sudah mau datang ke Jakarta untuk mengurusku. Sampaikan salamku pada semua keluarga di Medan," jawab Sea.


Keduanya kembali hening, kehilangan kata-kata, padahal Sea ingin sekali membangun momen yang menyenangkan di saat seperti ini. Dia tidak mau Dean kembali dengan menyimpan kekesalan padanya.


Kembali lagi, peringatan untuk penumpang dengan penerbangan menuju Medan diminta untuk segera naik. "Kalau begitu, aku pergi, sampai jumpa," ucap Dean kikuk. Rasanya aneh kalau dia harus bersikap baik pada pria itu, mungkin karena sudah terbiasa ribut dengan Sea, jadi merasa canggung.


Sea tidak lagi mengatakan apapun, dia hanya mengangguk, dan ketika Dean berbalik, Sea hanya bisa mengamati punggung gadis itu yang semakin menjauh.


"Sampai jumpa lagi, Dean."


***

__ADS_1


Pekik girang terdengar menggema dalam rumah itu. Mak Tiur begitu gembira ketika melihat putrinya sudah berdiri diambang pintu. Dua minggu mungkin bukan waktu yang lama untuk sebagian orang tapi untuk Mak Tiur, itu sudah sangat lama. Dia tidak pernah berpisah dengan anaknya yang manapun dan ini kali pertama dia berpisah dengan Dean. Sujud syukur dipanjatkannya kepada Tuhan karena putrinya itu sudah kembali dengan keadaan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


"Kenapa nggak bilang kalau kau pulang hari ini? 'kan bisa Mamak suruh bapakmu untuk menjemput ke bandara," ucap Mak Tiur setelah melerai pelukan mereka.


"Ngapain merepotkan bapak, Mak. Aku bisa sendiri pulang ke rumah. Oh iya, mana bapak, Sian sama Raden?" tanya Dean mengamati seisi ruangan.


Ketika membuka pintu gerbang hingga masuk ke dalam rumah, Dean tidak mendengar suara bapak dan juga kedua saudaranya, hanya ada ibunya yang sibuk di warung kelontong mereka yang ada di sebelah rumah.


"Biasalah, Rade lagi main bola di lapangan komplek, Sian pergi ke rumah si Merlin dan bapakmu, paling juga dia di warung main catur sama kawannya," jawab Mak Tiur.


"Kami baik, buktinya aku bisa pulang dengan selamat, Mak. Kalau kami bertengkar, mungkin salah satu diantara kami sudah menjadi mayat," ucap Dean santai, senyumnya terbit kala melihat ekspresi ibunya yang bergidik ngeri.


Mak Tiur hanya bisa geleng-geleng kepala. Putrinya itu selalu berhasil membuatnya spot jantung.


"Oh ya, ini oleh-oleh dari Sea untuk Mamak, Bapak, Rade dan juga Sian. Mama bongkarin lah di situ ya, badanku capek kali, mau tidur di kamar, istirahat dulu aku, ya Mak," ucap Dean bangkit berdiri membawa ransel dan tas tangannya lalu mencium pipi ibunya sebelum berlari menaiki tangga menuju kamar yang sudah lama dia tinggalin.

__ADS_1


Begitu membuka pintu kamar, Dean mengembangkan senyum. Dia begitu merindukan kamarnya itu, yang sudah dua minggu tidak ditempati. Penuh semangat Dean melompat ke atas ranjangnya, mengusap-usap permukaan sprei dan juga bantalnya, merasakan kelembutan dan juga rasa dingin dari ranjang yang sudah lama tidak dia tiduri.


Sebelum beristirahat Dean memutuskan untuk mandi dan juga berganti pakaian. Namun, setelah semua dilakukan, bukannya tidur seperti keinginannya di awal, dia justru mengambil ponselnya dan menghubungi Ferdi. Dia lupa menghubungi kekasihnya itu untuk menyampaikan bahwa dia akan menyusul mereka besok ke Parapat.


Dua kali panggilan pada nomor pria itu, Ferdi masih belum mengangkat. Dia juga menghubungi Lindung, tapi sama saja, teman Ferdi itu pun tidak mengangkat teleponnya, akhirnya dia memutuskan untuk menghubunginya nanti saja.


Iseng-iseng, gadis itu membuka Instagram milik gadis yang ikut travelling bersama Ferdi dan tiba-tiba saja jantung Dean seolah berhenti berdetak karena melihat beberapa foto di Instagram Santi, gadis yang diketahui sangat menyukai Ferdi sejak dulu. Ada satu foto yang berhasil membuat Dean naik pitam, foto yang memamerkan kemesraan gadis itu dengan Ferdi.


Keduanya berada di tepi Danau Toba yang begitu indah dengan pemandangan senja, saat matahari tenggelam. Santi tampak merangkul Ferdi dari belakang, bahkan kedua tangannya bergelayut di bahu pria itu.


Hal yang membuat Dean begitu kesal, Ferdi sama sekali tidak merasa keberatan dan risih akan hal itu, justru dia terlihat sangat menikmati momen kebersamaannya dengan Santi.


Dian hampir saja melempar ponselnya ke dinding kamar, tapi dia ingat bahwa ponsel itu didapatkan dengan susah payah. Jadi, merasa rugi jika melampiaskan emosinya dengan menghancurkan barang yang didapatkan dengan penuh perjuangan.


"Lihat saja aku akan membuat perhitungan sama gadis itu! Enak aja mengganggu pacar orang!" umpatnya melempar ponselnya ke atas meja belajar, lalu membenamkan wajahnya di atas bantal.

__ADS_1


__ADS_2