
"Senyum dong, jangan cemberut aja," pinta Mak Tiur menatap putri sulungnya. Tidak menyangka hari ini putrinya akan menikah.
Selama ini Mak Tiur selalu menganggap ketiga anaknya masih kecil masih selalu harus dibuahi dan dimanja bahkan kadang ketika dia makan ketiganya datang menghampiri dan meminta untuk disuapi dengan tangannya.
Melihat Dean berbalut gaun pengantinnya, menyadarkan Mak Tiur bahwa kini putrinya itu yang sudah dewasa. Akan ada masa di mana mereka akan membentuk rumah tangga, mengikuti suami dan meninggalkan ayah dan ibunya.
Tentu saja hatinya tidak siap. Seolah baru kemarin dia melahirkan putrinya itu, kini dia bahkan sudah menghantarkannya ke gerbang rumah tangga.
"Sudah beres!" seru kang rias pengantin mengamati wajah Dean yang sejak tadi dia poles.
"Kau cantik sekali deh mama sampai pangling biasanya kau cuman pakai bedak baby, sekarang ber- makeup kayak gini, kok kayak bukan anak mamak kau ya?" ucap Mak Tiur dengan penuh haru.
Dean yang tidak mood hanya diam, tapi ketika melihat air mata ibunya yang menetes haru menatap ke arahnya, membuat Dean ikut menangis haru. Keduanya berpelukan erat, menangis tersedu, tapi teguran dari kang rias menyadarkan Mak Tiur, buru-buru menghapus jejak air mata putrinya itu, tidak ingin riasan Dean luntur karena sebentar lagi dia akan dibawa ke depan, bertemu dengan calon suaminya untuk mengucapkan janji suci.
Nanguda (Istri paman) Saur, data memberitahu kepada mereka bahwa tiba saatnya Dean dibawa keluar. Walau tidak mencintai Sean, debar jantung Dean berpacu ketika dia di dudukkan di samping Sea.
Dean sempat melirik ketika Sea menatapnya berjalan mendekatinya, tatapan terpesona pria itu tidak bisa diabaikan.
Kata cantik sudah ada di ujung lidah Sea, ingin memuji penampilan Dean hari ini, tapi ditahannya. Tentu saja dia tidak ingin Dean berpikiran lain terhadapnya, jangan sampai gadis itu beranggapan bahwa Sea menyukainya karena penampilannya hari ini.
__ADS_1
Tentu saja gadis itu bukan tipenya. Dia juga membenci pernikahan ini. Bahkan semalam dia jadi bertengkar dengan Melodi karena gadis itu tidak terima atas pernikahan mereka. Walau Sea sudah mengatakan kalau ini adalah pernikahan bohongan, nanti juga mereka akan bercerai, tapi Melodi tetap saja tidak terima, yang berujung meminta putus dari Sea.
Namun, pria itu tidak menanggapi, nanti saat pernikahan ini selesai dan dia kembali ke Jakarta dia akan menjelaskan kepada Melodi, dan membujuk gadis itu agar mau kembali padanya. Bagaimanapun rasa cinta nya kepada Melodi sangat besar, mereka sudah lama bersama, Sea tidak mungkin sanggup berpisah dengan gadis itu.
Acara itu berlangsung dengan hikmah. Sea bisa saja keturunan bule, tapi dia berhasil mengucapkan janji sucinya dalam satu tarikan napas, menyelesaikan tugasnya dan membuat kedua orang tuanya dan juga seluruh keluarga merasa lega.
Teriakan kata sah menggema di ruangan itu, menandakan bahwa acara berjalan dengan lancar dan keduanya sudah resmi menjadi suami istri.
Hari itu adalah hari yang sibuk dan melelahkan bagi Dean setelah selesai akad hari itu juga dilanjutkan dengan acara resepsi.
Biasanya acara adat suku Batak pasti dilakukan di sebuah gedung yang khusus, biasanya disebut SOPO, tapi Pak Horman bersikeras meminta acara itu digelar di halaman rumahnya saja yang memang begitu luas bisa menampung ratusan orang.
Seperti halnya hajatan yang biasa dijumpai di gang-gang rumah para warga ataupun di depan rumahnya, para tetangga menyambut dengan antusias, datang memberikan ucapan selamat pada pengantin yang duduk di pelaminan.
Dean dengan sabar dan juga senyum yang menghiasi bibirnya menerima ucapan selamat dari para tetangga. Hampir semua memuji Sea dengan ketampanan dan juga kegagahan pria itu bersanding di sampingnya.
"Suamimu jauh lebih keren dari si Ferdi, beruntung kali kau ya," ucap Mak Bona, tetangga depan rumah, yang hobi nyinyir dan pecicilan.
Dean hanya menanggapi dengan memberikan senyum manisnya yang terpaksa. Ingin sekali dia menyentil telinga wanita itu yang selalu ikut campur dengan urusan siapapun yang ada di komplek perumahan mereka.
__ADS_1
"Iya benar, gak nyangka kau dapat jodoh seganteng ini, Dean. Padahal kau pun biasa aja nya," sambut Bu Ani, yang juga biang gosip di komplek itu.
Kembali Dean hanya tersenyum, sementara Sea yang tampak tidak peduli tanya memasang wajah masam. Dia membenci dirinya yang tidak bisa bersikap
Diingatkan kembali dengan Ferdi, seketika wajah Dean berubah menjadi sedih. Pria itu tidak datang, sejak tadi dia mengedarkan pandangannya ke tempat banyaknya para tamu tapi tetap tidak menemukan sosok Ferdi.
Dean paham akan posisi dan perasaan Ferdi saat ini. Dia tidak mungkin mendatangi pesta pernikahan mantannya, terlebih mereka baru putus beberapa hari lalu. Kalau dia pun ada di posisi Ferdi, tentu saja dia juga tidak sanggup menginjakkan kaki di pesta pernikahan pria itu.
Lamunannya kembali tersentak ketika beberapa orang tamu undangan mulai mendatangi mereka, menaiki anak tangga menuju panggung yang dibuat untuk pelaminan.
Di barisan ketiga, Dean melihat ibu Ferdi datang bersama para tetangga lainnya, jantungnya berdebar. Walaupun itu bukan Ferdi, tetapi ibunya jelas tahu bahwa Dean dan Ferdi memiliki hubungan. Bahkan baru bulan lalu dia mampir ke rumah mereka, bercanda dengan Ferdi di teras rumah. Kini ibunda justru datang untuk memberinya ucapan selamat atas pernikahan nya.
"Selamat ya, Dean. Semoga kamu bahagia dengan suamimu," ucap ibunda Ferdi menyalami Dean, yang membuat saat itu juga Dean menangis, seolah ucapan itu adalah titipan dari Ferdi.
*
*
*
__ADS_1
Hai, mampir dong ke karya temanku, pasti gak nyesal deh