Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Jadi Benci


__ADS_3

Apa yang ditakutkan oleh Sea terjadi. Dean membuka mata dan mendapati dirinya telah berbaring di samping pria itu saling berpelukan hanya ditutupi dengan sehelai selimut.


Dean yang tersentak oleh rasa sakit yang ada pada bagian inti tubuhnya, membuat gadis itu membuka mata dan mulai mencermati apa yang sudah terjadi.


Ketika dia menoleh ke samping dan mendapati wajah Sea yang tertidur dengan pulas, serta dirinya yang tanpa memakai sehelai benang pun, barulah Dean memaksa memorinya untuk mengingat kejadian yang sudah terjadi di antara mereka.


Pukulan besar yang dia rasakan, mendapati kenyataan bahwa mereka sudah melakukan hubungan yang tidak seharusnya.


Dia ingin sekali memukul dan mencekik leher Sea atas apa yang sudah terjadi.


Di mana-mana, ketika keadaan seperti ini muncul, bak di sinetron, pasti si wanita anak menangis, dan mengutuki pria itu karena sudah memper*kosa, tetapi kali ini konteksnya sedikit berbeda. Samar-samar Dean mengingat kejadian malam itu. Dia minum dan karena belum terbiasa meminum wine, walaupun tidak banyak, membuat kepalanya pusing dan ada dorongan dari dalam tubuhnya yang ingin sekali disentuh karena rasa panas itu.


Memorinya juga membawanya mengingat belaian dan juga kecupan yang mereka lakukan bersama. Sea sama sekali tidak memaksanya. Dean jelas ingat akan hal itu, yang membuat dirinya mengutuk kebodohannya serta jijik terhadap dirinya sendiri.


Sekarang apa yang harus dia lakukan? Sebaiknya sebelum Sea bangun, dia harus segera bergegas untuk membersihkan dirinya, lalu berpakaian. Hari ini mereka akan pulang, dan anggap saja semua tidak pernah terjadi, karena ini sebuah kesalahan.


Perlahan Dean menapaki lantai kamar, turun dari ranjang, bermaksud untuk membersihkan dirinya, tapi rasa sakit itu kembali datang menyentak perih hingga membuatnya meringis. Dia memaksakan dirinya untuk bisa berjalan hingga sampai ke kamar mandi.


Di sanalah dia menghabiskan beberapa menit waktunya untuk meratapi keadaannya saat ini. Dia menangis dan juga tidak henti-hentinya mengutuk kebodohannya yang sudah memakan buah terlarang.


Harusnya dia tidak melakukan hal itu. Apa yang harus dia katakan kepada Ferdi? Bagaimana dengan janji dan juga masa depannya bersama ferdi nanti?


Dia berpikir keras tidak ada gunanya meratapi semuanya. Toh, semua ini sudah terjadi. Dia akan bersikap seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka.

__ADS_1


Dia juga akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Ferdi dan berharap semoga saja kekasihnya itu bisa menerima keadaannya saat ini.


Dean mandi, membersihkan seluruh tubuhnya, menggosok dengan sekuat yang dia bisa, berharap semua bekas sentuhan Sean tadi malam hilang dari kulitnya.


Ketika dia keluar dari kamar mandi, Sea masih terlelap tidur. Dia menatap pria itu dengan penuh kebencian walaupun pria itu bukan yang memaksa dirinya tapi seharusnya bisa menahan diri dan menolak.


Setidaknya diantara mereka berdua malam itu masih ada orang yang sadar. Harusnya Sea bisa pindah ke kamar lain, meninggalkannya sendiri agar semua ini tidak perlu terjadi.


"Selamat pagi, kau sudah bangun? Bahkan kau sudah mandi?" sapa Sea ketika melihat Dean yang sudah berpakaian dan tampak cantik, berdiri di depan cermin rias.


Apa yang dipikirkan oleh Sea, menyapanya seperti tidak terjadi hal apapun di antara mereka? Tentu saja dia tidak akan menjawab pertanyaan pria itu. Dia memilih untuk keluar dari sana dan menghempaskan daun pintu dengan keras.


Dia ingin menangis, dia butuh tempat untuk sendiri saat ini memikirkan yang terjadi. Dean perlu ketenangan tapi dia harus ke mana. Dia juga tidak mengenal tempat ini, kalau dia berani pergi dari rumah Sea, jauh dari sini yang ada justru dia akan tersesat.


"Selamat pagi Sayang kau sudah bangun," Sapa Uli ketika melihat Dean sudah berada di teras rumah.


"Mana Sea? Kalian berangkat pagi?" tanyanya meletakkan gunting bunga, mengistirahatkan tubuhnya dan duduk di samping Dean.


"Masih di kamar, Namboru. Mungkin lagi mandi," jawabnya datar.


"Namboru tahu, tadi malam pasti menjadi malam panjang buat kalian," ucap Uli menggoda mantunya itu.


Wajah Dean memerah mendengarnya. Dia tidak berani melihat ke arah mertuanya, apa tadi malam Uli melihat atau mendengar apa yang mereka lakukan di kamar?

__ADS_1


Memikirkan hal itu wajah Dean semakin memanas, dia sudah tidak tahan, ingin menangis.


***


"Hati-hati di jalan, sampai Jakarta kalian kabari Mama ya," ucap Uli memeluk satu persatu, melepaskan kepulangan Sea dan Dean.


Sejak awal berangkat dari rumah, Sea sudah meminta agar ibunya itu tidak perlu mengantarnya ke bandara karena akan selalu seperti ini keadaannya. Wanita itu tidak akan henti-hentinya menangis.


"Udah dong, Ma. Jangan nangis lagi, nanti kalau Mama rindu, kan bisa datang ke Jakarta," ucap Sea menenangkan Uli. Rudolf yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum melihat istrinya yang memiliki perasaan sensitif.


"Sudah, Ma. Mereka sudah akan berangkat," ucap Rudolf menarik Uli dari pelukan Sea.


Akhirnya keduanya berangkat, sejak pagi ini Dean selalu diam, tidak mengatakan apapun. Setiap kali Sea mengajaknya bicara, maka Dean akan diam tidak menjawab.


Setelah empat kali dicuekin, baru'lah Sea sadar kalau istrinya itu marah padanya, dan yang menjadi pokok permasalahannya pasti perihal yang sudah mereka lakukan tadi malam.


Benar, kan? Dean akan membencinya. Sea memutuskan untuk membiarkan Dean dengan amarahnya untuk sementara waktu. Ketika sudah sampai di Jakarta nanti, dia akan menjelaskan semua isi hatinya pada gadis itu, bahwa dia sudah mulai menyayangi Dean, dan ingin pernikahan pura-pura ini berubah menjadi pernikahan sungguhan.


*


*


*

__ADS_1


Yuk mampir



__ADS_2