Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Mabuk


__ADS_3

Sea kaget bukan kepalang, dia yang masih sadar melihat wajah dia yang sudah memerah di kedua pipinya rasa canggung tentu saja dirasakan pria itu terlebih saat ini gadis itu duduk di atas perutnya dan mulai mengusap pipinya.


"Dean, kau mabuk?" ucapnya berusaha untuk memindahkan Dean dari atas tubuhnya, tapi gadis itu seolah kesurupan dia punya keberanian dan dorongan di dalam dirinya untuk terus menyusul bibir Sea.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada gadis ini, apa dia tidak tahu, kalau apa yang dilakukannya sudah membuatku panas tubuhku? Aku juga pria biasa, yang punya hasrat. Kalau begini aku bisa kehilangan kendali," batin Sea terus menjauhkan wajahnya agar tidak disosor oleh Dean.


"Kenapa kau menjauh? Aku'kan ingin menciummu," rengek Dean yang benar-benar sudah kehilangan kesadarannya.


Sea tentu saja dengan senang hati akan membalas ciuman gadis itu, tapi saat ini dia masih berpikir jernih. Dia takut setelah besok Dean sadar dan mengetahui apa yang sudah mereka lakukan, gadis itu akan membencinya seumur hidup, menganggap dirinya mengambil kesempatan atas ketidaksadarannya.


"De, aku mohon jangan begini, jangan memuji kesabaranku. Kau tidak tahu betapa kuatnya aku menahan diriku untuk tidak melakukannya terhadapmu," ucap Sea yang sudah berhasil melepaskan diri dari Dean.


Pria itu bahkan harus turun dari atas ranjang agar bisa lepas dari kungkungan Dean, tapi gadis itu justru jadi merajuk, merengek, dan mengulurkan tangannya, memohon agar Sea mendekat dan menegangnya.


Sea jadi merasa serba salah. Dia tidak tega melihat Dean yang merengek minta agar dirinya mendekat tapi kalau dia nanti sudah mendekat, dia sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan gadis itu.


"Sea, ke sini... jangan menjauh dariku. Aku takut..," racunya di tengah mabuknya.


Sea pasrah, dia mendekatkan diri dan begitu Dean bisa menjangkau tangannya, gadis itu menarik hingga Sea terjatuh terjerembab ke atas kasur. Rasa panas yang menggelora dalam tubuh dan membuatnya semakin aktif dan ingin bersentuhan dengan Sea.


"Aku kepanasan, bisakah kau mengusap-usap punggungku? Mamaku selalu buat kayak gitu kalau aku susah tidur," rengeknya.


saya pun melakukan apa yang diminta garis itu debar jantungnya tidak bisa dikontrol lagi terlebih saat jemarinya menyentuh punggung Dean.

__ADS_1


Tidak puas dengan usapan tangan Sea yang terhalang oleh bajunya, Dean seketika mengangkat baju kaos yang dia kenakan lalu kembali tengkurap dan meminta Sea untuk mengusapnya kembali.


Bola mata Sea membulat, disajikan pemandangan seperti itu tentu saja birahinya kembali naik. Dia bahkan ingin menyentuh kulit mulus itu. Rengekan Dean yang meminta untuk segera menyentuhnya, membuat Sea tersadar dan melakukan perintah itu.


Kulit Dean begitu mulus, putih tak bercela. Dia mengusap dengan telapak tangannya, berusaha untuk tidak membuat pikirannya tidak ber- traveloka. Lima menit, 10 menit berlalu, akhirnya Dean membalikkan tubuhnya, hingga kini keduanya saling menatap.


Melihat sejumput rambut yang jatuh membingkai pipinya, Sea menyelipkan rambut Dean di balik telinganya, tidak ingin pandangannya terhalang ketika menikmati wajah cantik itu.


Entah siapa yang sudah mulai lebih dulu, yang pasti keduanya sudah mendekatkan wajah mereka dan seketika tubuh keduanya memanas karena ciuman yang begitu menggoda.


keduanya saling memaafkan merasai satu sama lain mencercap rasa nikmat yang coba ditawarkan. nafas keduanya memburu terengah-engah menghirup udara di celah ciuman itu.


Telapak tangan Dean begitu panas menempel di dada Sea, mengirimkan gelenyar hangat di sekujur tubuh. "Dean, apa yang kita lakukan? Sebaiknya kita hentikan, karena besok kita akan menyesali apa yang sudah kita lakukan," bisik Sea tepat di atas bibir Dean, membelai rambut hitam gadis itu penuh kasih sayang.


Dean hanya diam, tapi ciuman tadi seolah menjadi makanan pembuka yang tidak bisa dia tolak untuk melangkah lebih jauh pada menu utama.


Dean sudah berbaring dan tubuhnya di tutupi oleh Sea, menatap dalam mata indah gadis itu. Saat ini hanya dirinya yang sadar, dan dia janji apapun yang akan mereka lakukan malam ini, dia akan bertanggung jawab sepenuhnya. Mungkin benar apa yang selama ini dia tanyakan pada hatinya sendiri, kalau dia sudah jatuh cinta terhadap gadis itu, buktinya saja dia mau melakukannya dengan Dean, hal yang tidak pernah dia lakukan dengan Melodi.


"Aku akan terima jika besok kau membenciku, walau aku berharap kalau kau akan memaafkanku. Dean, aku pikir aku sudah menyayangi mu," bisiknya parau menahan gelombang hasrat yang menerjang.


Dean tersenyum dan menatap Sea seolah tatapan itu mengatakan tidak ada yang perlu pria itu risaukan.


Malam bertabur bintang dan bulan malam ini menjadi saksi betapa keduanya memadu kasih dengan kelembutan dan juga penyerahan diri.

__ADS_1


Sea memperlakukan Dean dengan begitu lembut, tidak tergesa-gesa karena dia tahu ini juga yang pertama bagi gadis itu.


Cumbuan yang diberikan Sea mampu menghalau kesadaran Dean, hanya tersisa rasa nikmat dan menginginkan sentuhan Sea lebih lagi di tubuhnya.


"Sea, aku mau dicium lagi, di bibir," rengek Dean sebagai tatapan sayunya, meminta perhatian pria itu yang tengah sibuk mencercap setiap jengkal kulit leher Dean.


Dengan senang hati Sea mengabulkan permintaan istrinya itu, me****** bibir gadis itu, menyeruak masuk melalui lidahnya hingga bertaut di rongga mulut.


"Kau sungguh nikmat, De. Jangan salahkan aku sayang, kalau melakukan lebih dari ini," ucap Sea masih berupa bisikan.


"Lakukan apa yang kau inginkan, bawa aku pada kenikmatan tadi, aku mohon..."


Permohonan Dean adalah perintah bagi Sea yang akan dilakukan pria itu dengan senang hati.


Mulai membuka satu persatu pakaian gadis itu, lalu pada tubuhnya hingga tidak ada penghalang di antara mereka lagi.


"Aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya, istriku."


*


*


*

__ADS_1


Mampir ya



__ADS_2