
Cinta itu buta. Tampaknya pepatah itu benar adanya. Setelah pertengkaran bahkan tamparan yang diberikan Ferdi padanya, nyatanya Dean masih memaafkan pria itu. Bahkan tetap berpacaran dengan Ferdi, seolah kedekatan dan sentuhan yang diberikan Sea tidak ada artinya bagi Dean.
Terluka? Sakit hati? Tentu saja semua itu Sea rasakan, tapi lagi-lagi Sea hanya bisa menahan kekecewaan tanpa bisa mengatakan apapun pada Dean bentuk protesnya.
"Belakangan ini aku lihat kamu banyak bengongnya, kenapa?" tanya Ferdi saat mobil sudah berhenti di depan rumah Sea.
Dean hanya tersenyum, lalu menggeleng lemah. "Udah sampai, aku masuk dulu," ucapnya bermaksud turun dari mobil, tapi tangan Ferdi menahan pergelangan tangannya.
"Ingat, pikirkan apa yang sudah kita bahas. Bicara lah padanya. Aku ingin mendapatkan jawaban secepatnya," ucap Ferdi sebelum melepaskan tangan Dean. Lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk, dan bergegas turun.
Bagaimana dia akan mengatakannya pada Sea. Ini terlalu berat. Dean juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia seharusnya gembira karena sudah mendapatkan restu dari orang tua Ferdi. Lalu bagaimana dengan orang tuanya? Orang tua Sea, dan juga... Sea sendiri?
Walau pun sudah pernah dibuat perjanjian oleh keduanya mengenai perpisahan ketika waktunya tiba dan pernikahan itu hanya bersifat sementara, tapi kenapa jadi begitu sulit untuk mengatakannya?
Dean mendapati Sea masih berada di ruang tamu, menonton televisi dengan remote di tangan kirinya.
"Apa sebaiknya aku bicara dengannya sekarang?" batin Dean mengamati pria itu. Tapi melihat mimik wajahnya tampaknya saya sedang tidak mood untuk diajak berbicara.
__ADS_1
"Kau sedang apa? Kenapa belum tidur?" tanya Dean berdiri di samping pria itu. Sea diam. Tidak menjawab sepatah katapun.
"Sea! Aku bicara padamu!" teriak Dean yang kesal karena sudah diabaikan.
"Apa kau gak lihat? Aku lagi nonton televisi, dan sekarang, mau tidur!" jawabnya ketus lalu menekan tombol off di remote dan setelahnya bangkit menuju kamarnya.
Mau sampai kapan lagi Sea bersabar? Mengapa Dean tidak pernah melihat ketulusannya? Mengapa sedikitpun hati gadis itu tidak bisa tertawan padanya?
Berjam-jam dia menahan kantuknya, walau tubuh nya pegal dan lelah, dia tidak ingin beristirahat sebelum memastikan Dean ada di rumah. Menunggu seorang diri, menerka-nerka sedang apa istrinya dengan pria lain di luar sana.
***
"Pokoknya hari ini kau harus sudah mendapatkan jawab dari Sea!" ucap Ferdi menutup teleponnya.
Desakan itu membuat Dean tertekan, tapi dia tidak punya pilihan lain. Sudah sejauh ini perjalanannya memperjuangkan cintanya dengan Ferdi, dia harus membahas ini dengan Sea.
Sepulang kuliah, Dean pulang dan menemukan Sea juga ada di rumah, dan tampaknya sedang tidak enak badan.
__ADS_1
"Kau mau buat teh? Biar aku yang buat," ucap Dean mengambil cangkir dan menyendok gila ke dalamnya.
"Biar aku yang tuang," sambar Dean mengambil kain dan berniat mengangkat ceret air panas dari kompor.
"Biar aku saja, ini panas," jawab Sea ketus. Dean mengalah. Membiarkan Sean melakukan sisanya. Gadis itu menarik kursi makan, menunggu Sea ikut bergabung bersamanya.
Sea yang melihat gelagat Dean yang ingin mengajaknya berbicara, membuatnya mengambil tempat di samping gadis itu.
"Apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Sea menatap wajah cantik yang sulit ditaklukkan nya itu.
Dean diam sesaat, memilah kalimat yang tepat yang pas dia sampaikan pada Sea. Ini masalah serius, jangan sampai dia salah bicara.
"Ada apa? Kenapa kau diam?"
"Aku ingin kita bercerai secepatnya!"
"Cerai? Kenapa?"
__ADS_1
"Orang tua Ferdi sudah merestui hubungan kami, dan Ferdi ingin segera melamar ku. Kalau soal bapak dan mamak, nanti aku yang akan bicara pada mereka," ucap Dean dalam sekali tarikan napas.