
Sea belum sempat menanggapi permintaan Dean, telponnya berdering. Matanya masih mengunci mata Dean, tapi dering itu menuntut perhatian.
Pada akhirnya, Sea menjawab panggilan itu, menggantung permintaan Dean.
"Halo...." Hanya itu yang didengar Dean, selebihnya dia hanya melihat wajah Sea, pucat seperti kapas dengan mulut menganga.
"Ada apa?" tanya Dean ikut khawatir. Sea masih memandangi layar ponselnya, lalu meremat benda pipih itu.
"Jawab aku, Sea! Ada apa? Siapa yang menghubungi mu?"
"Mama... Meninggal siang ini," ucap Sea pelan, tanpa getar hanya singkat.
Tubuh Dean bergetar, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Sea. Pastinya hati pria itu sangat sedih saat ini.
Tanpa mengatakan apapun, Sea bangkit menuju kamarnya. Dean mengikuti pria itu dan mendapati sedang memilih pakaian dari dalam lemarinya.
"K-kau mau kemana?" tanya Dean memperhatikan Sea, mengambil beberapa lembar pakaian dan melempar ke ranjang. Teringat sesuatunya dia mengambil ponselnya yang tadi dia letak di ruang tamu, melewati tubuh Dean begitu saja, tidak lama kembali lagi.
"Sea... Kau mau kemana?"
"Menurutmu? Kembali ke Amerika. Mamaku meninggal hari ini. Apa kau tadi tidak dengar apa yang aku katakan?" tanyanya ketus. Kembali mempersiapkan keperluan yang dia butuhkan selama di sana.
__ADS_1
"Rizal, pesankan aku tiket ke New York," ucap Sea menghubungi sahabatnya.
Dean maklum kalau saat ini Sea tampak mengabaikannya. Dia terlalu syok dengan kabar duka ini.
Dean memutuskan keluar dari kamar Sea dan bergegas ke kamarnya, ikut berkemas. Hanya membawa barang seadanya lalu kembali ke kamar Sea, tapi pria itu sudah tidak ada. Dean mencari ke semua tempat di rumah itu, tetap tidak menemukan hingga Dean terlihat panik.
"Dia pasti sudah pergi," cicit Dean dengan mata berair. Lalu bergegas keluar dari apartemen mengejar Sea.
Syukurlah, tepat di parkiran, Dean masih sempat mengejar pria itu. "Kenapa kau tinggalkan aku?" pekiknya hampir menangis, matanya sudah berkaca-kaca.
Sea mengamati kepanikan di wajah gadis itu. "Kau gak bilang mau ikut," ucapnya mengamati Dean yang juga membawa koper di tangannya.
Sopir taksi sempat melihat keduanya dengan menoleh ke belakang, menunggu kapan keduanya masuk ke dalam taksi, dia harus kejar setoran.
"Maaf, Pak, Bu, jadi naik gak ini?" sambar sopir taksi tidak sabaran.
Sea membuka pintu mobil, lalu mempersilakan Dean masuk lebih dulu baru disusul dirinya. Di tengah jalan, Sea segera menghubungi Rizal, meminta agar pria itu memesan tiket satu lagi untuk Dean.
"Gue turut bersuka cita, Bro, atas meninggalnya nyokap Lo," ucap Rizal menyalam dan memeluk Sea.
"Thanks. Gue titip perusahaan," ucap Sea sebelum keduanya naik ke pesawat.
__ADS_1
***
Suasana Duka menyelimuti keluarga Hasea. Terlihat Rudolf menangis di depan pusara Uli. Sebenarnya Uli ingin dimakamkan di tanah air, tapi karena status kewarganegaraannya, membuat hal itu sulit.
Kejadian yang tiba-tiba itu membuat tidak banyak persiapan, hanya Hotman yang menyusul ke Amerika untuk penghormatan sekaligus perpisahan terakhir bagi adiknya, Uli.
Tampak Dean yang sudah kelelahan menangis memeluk bapaknya.
"Kau harus dampingi suamimu, dia lebih membutuhkan mu sekarang. Hibur dia, saat ini sungguh dia sangat rapuh," ucap Hotman.
Setelah acara pemakaman itu, Hotman pamit pulang duluan. Dia meminta membawa kain sarung milik Uli yang akan disimpan oleh Tiur sebagai kenang-kenangan. Mungkin Uli tidak memiliki darah yang sama dengan Hotman, tapi tetap saja, bagi pria itu, Uli adalah adik yang paling dia kasihi.
Dua hari di Amerika, Sea menemani sekaligus menghibur ayahnya. Selama itu pula, dia tidak bertemu dengan Dean yang juga sama kehilangannya dengan Sea.
Dia menyayangi Uli. Kelembutan wanita itu membuatnya benar-benar merasa kehilangan. Lagi pula, Uli adalah ibu Sea, pria yang selama ini menjadi suaminya sekaligus pria yang selalu menjaganya.
Seminggu di Amerika, Sea meminta izin kembali ke tanah air pada ayahnya. Hal itu juga karena dilihat, keadaan Rudolf sudah lebih tenang, bisa menerima kepergian Uli.
Selama di pesawat, Dean terus menangis, memeluk kain yang ditutup Uli pada suaminya, dan meminta agar diberikan pada Dean sebagai kenang-kenangan. Ada satu surat yang ditulis oleh Uli sebelum meninggal.
'Mama sangat menyayangi mu. Mama menitipkan kain sarung dan kain gendong padamu, parumaenku ( Menantuku) agar kelak kau bisa menggunakan untuk menyelimuti sekaligus menggendong cucuku. Mama tahu seharusnya mama lah yang memberikannya saat anak kalian lahir, tapi waktu mama tidak banyak lagi. Mama titip Sea, jaga dia dan mama mohon kau selalu berada di sisinya baik dalam keadaan susah atau senang. Peluk cium, Mama.'
__ADS_1
Sudah sejak tadi Sea bertanya kenapa gadis itu menangis, tapi Dean tidak mau menjawab, justru merapatkan tubuhnya, masuk dalam pelukan Sea.
"Sudahlah, jangan menangis lagi," bisik Sea mencium puncak kepala Dean, karena dia tahu waktu untuk melakukan hal itu tidak akan ada lagi.