
Dean menyelinap di antara banyaknya orang-orang yang saat ini sedang sibuk memasak berbagai jenis makanan di rumah mereka besok dia akan menikah dengan Sea.
Seharusnya pesta diadakan di keluarga Sea, begitulah biasanya adat Batak, tapi karena ayah Sea bukan suku Batak dan hanya diberi marga pada ayahnya kala menikah dengan Namboru Uli, jadi pesta itu dilakukan di rumah Dean, yang dalam istilah adat Batak disebut sitombol.
"Ngapain kau kemari? Apa lagi yang mau kau bicarakan sama ku?" hardik Dean begitu tiba di depan Ferdi. pria itu tadi mengirimnya pesan mengajaknya untuk bertemu.
Dean sudah membalas dengan menolak permintaan itu, baginya tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan. Lagi pula semua sudah terlambat, besok dia sudah akan menikah dengan Sea.
"Aku sudah memikirkannya, benar-benar gak bisa kehilangan kau, De. Aku sudah memikirkannya berulang kali, aku mencoba mengikhlaskanmu dengan pernikahan ini tapi aku nggak bisa," ucap Ferdi yang terlihat sangat kacau.
"Kenapa kau baru sadar sekarang? Dari mana saja kau? Dari kemarin aku minta agar kau membawaku pergi saja dari sini, tapi kau menolak, sekarang ketika besok akan dilangsungkan pesta pernikahanku, kau mengatakan hal ini? Maumu apa?" susul Dean yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Ferdi. Pria itu terlalu pelan-pelan untuk mengambil keputusan.
"Aku ingin malam ini kita pergi dari sini, tinggalkan saja kota ini. Toh, aku juga sudah tamat kuliah, hanya tinggal mengambil ijazah dan aku bisa melamar pekerjaan di manapun untuk menghidupi kita."
Bola mata Dean membulat, gampang sekali pria itu mengatakan hal itu. Mengapa baru sekarang? Kemarin ketika Dean mengajukan hal itu, dengan cepat Ferdi menolaknya. Dia tidak mungkin mengikuti apa yang dikatakan Ferdi kepadanya.
Apa dia tidak melihat bagaimana ramainya orang di rumahnya? Mempersiapkan acara untuk pernikahannya besok. Lari dari rumah malam ini hanya akan membuat orang tuanya malu yang terburuk seperti kata Mak Tiur tadi pagi, ketika mengingatkannya untuk tidak melakukan hal yang bisa mempermalukan kedua orang tuanya, maka mereka lebih baik mati saja.
"Jangan gila kau, Fer! Aku nggak mungkin melakukan hal itu, kau lihat bagaimana banyak orang sudah tahu sudah dan diundang untuk datang ke acara ini besok. Kau ingin aku mempermalukan kedua orang tuaku dengan lari dari rumah?" salak Dean.
__ADS_1
Semua pembicaraan ini dirasanya hanya sia-sia, tidak ada gunanya lagi. Dia sudah membulatkan hati menjalankan takdirnya. Lagi pula seperti kata Sea, mereka menikah hanya sementara, nanti setelah kesehatan Namboru Uli membaik, mereka akan bercerai dan melanjutkan kehidupan mereka masing-masing.
Dean tentu saja tidak akan mengatakan hal itu kepada Ferdi, terserah pria itu mau menunggunya atau tidak. Kalaupun memang mereka tidak berjodoh, dia yakin setelah bercerai dengan Ferdi dia akan menemukan laki-laki yang baik yang mau menerimanya apa adanya, walaupun statusnya saat itu seorang janda.
"Pulang lah, Fer, lupakan keinginanmu itu. Aku mengundangmu datang ke pestaku besok, itu pun kalau kau berminat hadir," ucap Dean dengan lirih, hatinya bergetar dan begitu pedih mengatakan hal itu kepada orang yang sangat dicintai itu.
Ferdi adalah kekasih pertama, sekaligus cinta pertamanya, dari Ferdi, dia punya kepercayaan diri untuk berkenalan dan berhubungan dengan lawan jenisnya. Ferdi adalah pria yang baik dan selalu menghormatinya saat mereka pacaran.
Hanya karena terbentur oleh suku dan adat istiadat, mereka tidak bisa bersama, padahal mereka tinggal di negara yang beraneka ragam suku dan budaya, menganggap semua adalah saudara. Lantas mengapa ayahnya harus memilih menantu yang bermarga?
"Apakah keputusanmu sudah bulat?" tanya Ferdi berusaha tegar, dia tidak ingin mengemis cinta. Dia sudah cukup memperjuangkannya, kalau memang kemarin dia tidak bisa memberikan jawaban atas permintaan Dean, semata-mata dia memikirkan keluarganya tapi ternyata dia sadari sekarang bahwa perasaannya pada Dean lebih besar, sehingga memutuskan untuk mengikuti kemauan gadis itu.
"Ya, itu sudah menjadi keputusanku, di kemudian hari apakah aku akan menyesali atau tidak biarlah aku yang menanggungnya," jawab Dean dengan tegas.
Dean masih bisa melihat anggukan pelan dari Ferdi sebelum pria itu mengembuskan napas dengan kasar, tidak lama dia menghidupkan mesin motornya dan berlalu dari hadapan Dean membawa sekeping luka yang bersarang di hatinya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, itulah gunanya Tuhan memberikan akal sehat kepada manusia untuk bisa mempertimbangkan tindakan dan perbuatan mana yang harus dilakukan.
Anggap saja memang ini takdir hidup mereka. Ada kata pepatah mengatakan jodoh tidak akan pergi ke mana. Kalau mungkin saat ini langkah Dean harus terhenti dalam ikatan rumah tangga dengan Sea, siapa yang tahu takdir akan membawa dia dan Ferdi kembali bertemu suatu hari nanti.
__ADS_1
Sepanjang jalan Ferdi membayangkan kenangan indah bersama Dean, seolah dia tidak terima dengan keputusan perpisahan ini. Bagaimana mungkin dia sanggup untuk datang ke pesta gadis itu, seperti undangannya tadi, melihatnya bersanding duduk di pelaminan bersama pria lain.
Ferdi sampai di depan rumahnya. Wajah masamnya membuat ibunya tidak berani menyapa putranya itu.
Selama tinggal di kota Medan membuat kelembutan yang dibawa dari suku Jawa sedikit bergeser, bergaul dengan mayoritas suku Batak membuat mereka harus bisa beradaptasi dengan gaya bicara orang Medan pada umumnya.
Dari kamar adiknya, terdengar lantunan lagu yang membuat Ferdi tersentak, lagu itu semakin membuatnya tidak terima atas apa yang terjadi dengan hubungannya dan Dean.
Lirik lagu itu begitu dalam, benar katanya dia yang sudah bertahun-tahun bersama Dean menjaga gadis itu, tapi ternyata semuanya sia-sia dia hanya menjaga calon istri orang lain.
"Bisakah kamu mengganti lagumu itu? Kau gak sadar ini udah malam. Kau berisik!" bentak Ferdi setelah membuka pintu kamar adiknya dengan paksa.
"Kau kenapa, sih? Datang malah marah-marah. Kalau kau berantem sama pacarmu, jangan aku kau buat jadi sasarannya," jawab Fildan, adiknya. Wajah Ferdi semakin memerah, dia kembali diingat pada masalahnya dengan Dean.
Dia tidak tahu dari mana adiknya itu bisa menebak dengan benar atau mungkin para tetangga sudah bergunjing mengenai pernikahan Dean yang akan dilaksanakan besok, hingga keluarganya tahu.
Beberapa kali Dean datang ke rumahnya, tentu saja tetangganya tahu bahwa mereka memiliki hubungan yang spesial.
Begitulah akibatnya kalau pacaran dengan tetangga, ketika berpisah seperti ini maka omongan tetangga yang menyakitkan juga harus siap untuk didengarkan.
__ADS_1
Ferdi terdiam, dia keluar, berjalan ke arah kamarnya. Dia bertemu dengan ibunya yang berada di ambang pintu kamar. "Apa kau baik-baik saja, Nak?" tanya sang ibu merasa khawatir.