
Sea tidak menyangka kalau mereka akan bisa berbaring di satu ranjang sambil berpelukan seperti ini. Bukan disengaja, semua karena hujan dan petir yang terjadi malam ini, Dean yang ketakutan meminta Sea yang awalnya tidur di bawah naik ke atas ranjang.
Awalnya di antara mereka ada bantal yang menjadi pembatas, tapi lama kelamaan Dean yang tidur lasak, membuat semua bantal itu terpaksa dibuang oleh Sea ke lantai, dan alhasil tubuh gadis itu melekatkan tubuhnya kepada Sea.
Walau lelah, tapi mungkin karena jetlag, Sea tidak bisa tidur tapi dia meyakini bahwa semua itu karena ada Dean di sampingnya, jantungnya tidak berhenti berdetak lebih cepat sejak tadi. Aroma vanilla dari tubuh gadis itu begitu menenangkan dan terasa manis, menarik minat Sea untuk mencium puncak kepala Dean. Lagi pula gadis itu tidak tahu.
Dean pun awalnya tidak bisa tidur, tapi karena kelelahan, membuatnya tertidur dengan menempel pada tubuh Sea.
Diam-diam Sea memperhatikan bentuk wajah Dean. Sangat cantik, bulu mata yang lentik hidung yang tidak terlalu mancung serta bibirnya yang terlihat sangat sensual, membuat pikiran Sea bertra*veloka.
Ini tentu saja siksaan, dia pria normal. Mereka begitu dekat, tentu saja Sea memiliki hasrat, terlebih mengingat kalau gadis yang ada di dekatnya ini adalah istrinya, dia berhak atas diri Dean seutuhnya, tapi mengapa nyalinya ciut?
Sea bukan tidak berani menuntut haknya, tapi untuk apa kalau setelahnya Dean akan sangat membenci nya?
Setelah bertarung dengan pikirannya, meredakan birahi yang muncul dan sangat sulit untuk dikendalikan, akhirnya Sea berhasil terpejam. Dia tertidur dengan tangannya yang memeluk perut Dean.
Paginya mereka segera menjenguk namboru Uli, yang dikabarkan sudah siuman.
Melihat kedatangan Dean dan Sea di rumahnya, Namboru Uli tentu saja begitu gembira, tidak henti-hentinya dia memeluk dan menggenggam tangan Dean.
"Maaf sudah waktunya Ibu Uli sarapan," ucap salah seorang perawat berkewarganegaraan Indonesia, mencela pembicaraan keduanya yang sejak tadi tidak pernah berhenti.
__ADS_1
Kesehatan Uli memang sudah membaik, tapi oleh dokter sudah dijelaskan pada Rudolf, bawa istrinya, harus lebih banyak beristirahat dan jangan kelelahan berbicara dan berinteraksi dengan banyak orang.
Namun, Namboru Uli tidak bisa meredam perasaan bahagianya, dia tidak ingin tidur dan berbincang dengan Dean.
"Maaf Mbak, biar aku aja yang suapi Namboru Uli," tawar Dean meminta piring yang dipegang sang perawat.
Ternyata disuapi Dean membuat Namboru Uli menjadi penuh semangat. Dia menghabiskan makanannya. Sea ada di sana sejak tadi, berdiri di ambang pintu mengamati keduanya bercerita tentang apa saja yang mereka bahas seolah tidak ada hari esok untuk berbincang, hanya bisa mengulum senyum.
Dia begitu gembira melihat ada semangat di wajah ibunya untuk kembali sehat dan sembuh dari penyakitnya. Mungkin Dean memang penawar dan obat yang tepat untuk kesehatan ibunya.
"Bagaimana, De, udah hamil kau, Nang?" tanya Namboru Uli yang membuat Dean hampir saja menjatuhkan gelas berisi air putih yang akan dia sodorkan kepada Namboru nya itu.
Tidak hanya Dean, Sea pun hampir melepas batuknya karena terkejut mendengar pertanyaan dari ibunya, jangan sampai Dean salah jawab, yang akhirnya membuat ibunya tahu bahwa selama ini mereka berpura-pura.
Sea tidak mau hal buruk terjadi kepada ibunya, apapun akan dia lakukan untuk mempertahankan ibunya tetap berada bersama mereka di dunia ini.
"Dean, jangan malu, aku kan mertuamu. Gak perlu kau malu begitu dan jangan panggil lagi aku Namboru, panggil aku Mama," ujar Uli yang seharusnya sejak jadi mantu, Dean memanggilnya dengan sebutan Mama.
Perlahan dia mengangguk, walau merasa gelisah, kalau namborunya itu akan terus mencercanya dengan pertanyaan lainnya yang tidak kalah ekstrim.
"Kenapa nggak kau jawab? Mama mau tanya bagaimana usaha kalian. Kalau memang kau mengalami kesulitan biar bisa kita cari solusinya. Kau tahu sendiri'kan, Mama sama bapak mertuamu, udah pengen sekali punya cucu." Uli masih terus memaksa Dean untuk buka mulut. Baginya hal ini sangat penting, Dean sangat muda, bisa saja dia kurang paham masalah perawatan demi mempercepat kehamilan.
__ADS_1
"Doakan aja yang terbaik, Ma. Kami udah berusaha, semoga Mama secepatnya mendapatkan cucu," jawab Dean sembari melepas senyumnya.
Sea yang sejak tadi mencuri dengar, akhirnya bisa bernapas lega, dia akan berterima kasih kepada gadis itu nanti karena sudah berhasil menenangkan hati ibunya.
Namun, yang jadi persoalan, kenapa jantungnya tetap berdetak lebih kencang, seolah jawaban dari Dean membuatnya melambung tinggi dan berharap bahwa mereka benar-benar akan bisa memiliki anak.
Sea sama sekali tidak tahu, sejak kapan dia sepertinya sudah mulai menyayangi Dean, tapi sebisa mungkin Sea menyangkalnya, karena tidak ingin terjebak pada perjanjian yang sudah dia buat bersama gadis itu sebelum mereka menikah.
"Namboru sudah tidur, dia menyuruhku memanggilnya mama," ucap Dean ketika memasuki kamar dan mendapati Sea sedang duduk di kursi kerjanya, fokus pada laptop dan email yang dikirim oleh asistennya dari Jakarta.
Dean masih menunggu pendapat dari Sea, tapi melihat pria itu seperti tidak bereaksi, dia pun paham kalau Sea sedang sibuk. Dia pun memilih untuk naik keranjang dan bermain dengan ponselnya. Memberikan pesan pada ketiga sahabatnya di room chat grup mereka.
Sejak tadi ketiganya sibuk menanyakan mengenai kegiatannya hari ini, dan apakah dia mengunjungi tempat wisata di sini.
"Aku senang kau memanggil mama pada mamaku. Aku juga gembira kau menemaninya, membuatnya kembali tersenyum," ucap Sea tanpa menoleh ke arah Dean. Dia tidak sanggup, karena kalau hal itu dia lakukan, maka hasrat yang sejak tadi ingin mencium gadis itu pasti akan dia lakukan.
*
*
*
__ADS_1
Hai, mampir ya lagi ya...