
Atas paksaan Uli, Sea membawa Dean untuk berkeliling kota, mengunjungi tempat-tempat wisata. Central Park, Time Square dan banyak lagi tempat yang mampu membuat Dean tercengang.
Satu hal yang dia syukuri, kalau bukan karena Namboru Uli dia tidak akan mungkin bisa mengunjungi tempat itu.
Keduanya mulai berangkat pagi hari, dan baru malam hari kembali. Dean sungguh lelah. Banyak cendramata yang dia bawa dari setiap tempat yang mereka kunjungi.
"De, bangun, udah sampai," ucap Sea yang sudah mematikan mesin mobil. Hari sudah begitu larut, dan banyaknya aktivitas mereka sejak pagi tentu saja membuat Dean tertidur selama di perjalanan.
Berulang kali membangunkan, tapi gadis itu tetap tidak membuka matanya hingga Sea memutuskan untuk menggendongnya saja.
"Dia pasti kecapean," ucap Uli yang menyambut kedatangan mereka. Wanita itu seperti baru meminum pil dewa, sakit parahnya dan kondisi tubuhnya yang selama ini sakit, kini tiba-tiba saja sehat setelah kedatangan anak mantunya.
"Sepertinya, Ma. Mama kenapa masih bangun nungguin kita, istirahat lah, Ma. Jangan karena udah baikan, merasa sedikit fit langsung mengabaikan jam istirahat," jawab Sea, dia tidak ingin ibunya kembali jatuh sakit.
Mendengar suara orang berbicara membuat Dean yang saat itu dalam gendongan Sea bergerak. Hal itu membuat Sea memutuskan pembicaraan dengan ibunya dan bergegas membawa Dean ke kamar.
Penuh perhatian, Sea membukakan sepatu dan juga kaos kaki gadis itu, lalu menyelimuti tubuhnya.
Sea ingat kalau ada pekerjaan yang belum diselesaikan, dan asistennya meminta untuk segera dikirim kembali berkas yang sudah di tandatangani oleh Sea.
Rasa dingin yang menyentuh pipinya dan juga perut yang terasa lapar, membuat mata Dean terbuka. Diliriknya ke samping, hanya ada dia seorang di kamar itu, dengan lampu yang dipadamkan.
Dipandanginya langit-langit kamar, ukiran wajah para dewa Yunani yang dulu pernah diceritakan Sea padanya saat baru tiba di kamar itu seolah hidup, menatap tajam ke arah Dean. Hal itu membuat nyali Dean ciut penuh ketakutan. Dia ingin meraih ponselnya, tapi tidak ada cahaya di ruangan itu membuatnya tidak tahu dimana meletakkan benda itu tadi.
__ADS_1
Sempat ingin memutuskan untuk menjerit memanggil nama Sea, tapi urung dia lakukan karena merasa malu jika sampai semua orang di rumah itu mendengar, terlebih ayah dan ibu Sea.
"Kemana sih pria brengsek itu?! Seenaknya saja meninggalkan ku!" umpat Dean dalam hati, memaksa matanya untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, mengamati sekitarnya.
Kalau kamar itu hanya selebar kamarnya di Medan, atau setidaknya seluas kamar manusia pada umumnya yang pernah dia lihat, mungkin Dean tidak akan setakut ini, dia pasti bisa menutup mata lalu meraih gagang pintu dan berhasil keluar, tapi kamar ini sudah seperti tiga lima kamar tidurnya dijadikan satu, jarak menuju pintu sangat jauh, dan Dean tidak berani untuk menurunkan kakinya.
Memikirkan ketakutannya, Dean menangis. Dia malu sebenarnya karena seperti anak kecil, menangis ketakutan, tapi itu lah yang saat ini dia alami.
Dalam hati bergemuruh, antara memohon Sean untuk segera kembali ke kamar dan mengutuk pria bodoh itu karena sudah meninggalkannya.
Tiba-tiba pintu balkon tempatnya sering menghabiskan sore harinya sembari menikmati pemandangan disekitar tempat itu terbuka, dan gorden putih melambai karena tiupan angin yang menyerobot masuk.
Duar!
Dean semakin ketakutan. Air matanya yang awalnya hanya malu-malu turun, kini berubah menjadi lautan air mata di pipinya. Dia menggigit kuat selimut untuk menghentikan suara tangis. Semakin dia mencoba untuk berani, semakin takut pula dirinya.
"Oh, Mak'e, takut kali aku, Mak. Nyesal kali aku bah, ikut ke rumah namboru ini. Mak, jemput lah aku, Mak'e. Pak, kek mana ini, Pak, aku harus apa? Mana si Sea bodat (Mon*yet) ini pun entah kemana, asyik main tinggal aja lah dia," cicitnya disela tangisnya.
Rasa lapar yang tadi sempat dia rasakan udah gak dipedulikan nya lagi. Baginya yang terpenting saat ini, Sea segera datang menyelamatkannya dari ketakutan.
Dia mulai mendengar suara pintu yang dibuka, dia tidak tahu apakah manusia atau setan yang datang. Memikirkan hal itu membuat Dean semakin ketakutan, dan terus menangis.
"Sea... Sea... tolong aku Sea..." batinnya gemetar.
__ADS_1
Doanya terkabul, bunyi pintu dibuka terdengar membawa langkah mendekat ke arahnya. Dia menebak itu pasti adalah manusia karena menapaki lantai kamar. Dean gak peduli siapa yang datang, yang pasti dia mau ikut sama orang itu.
Sea yang melihat Dean terduduk sembari menutup seluruh tubuhnya dengan selimut mengernyitkan kening, bingung sedang apa gadis itu.
"Kau sedang apa?" tanya Sea sembari menyibak selimut di tubuh Dean. Sontak melihat Sea lah yang datang membuat Dean melompat ke tubuh pria itu, yang beruntung dengan sigap memegang erat agar gadis itu tidak jatuh.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Sea mencoba melihat wajah Dean dengan melerai pelukan gadis itu, tapi Dean tidak mau, tangannya terus dilingkarkan di leher Sea sembari melanjutkan tangisnya.
"De, kau kenapa?"
Merasa tidak berhasil menenangkan gadis itu, dengan menggendong tubuh Dean di depan tubuhnya, Sea berjalan ke arah saklar lampu, menekan dan terang lah seketika ruangan itu.
Tangis Dean tetap tidak mau berhenti, dia marah pada Sea karena sudah meninggalkannya sendiri, tapi kalau sampai memukul pria itu dan melepaskan pelukannya, Dean justru takut kalau Sea akan meninggalkannya.
Sea kembali membawa Dean ke atas ranjang, duduk di tepinya, saling berdampingan. "Udah dong, kau kenapa? kok nangis begini? Apa perutmu sakit?" tanya Sea yang khawatir kalau makanan yang begitu banyak gadis itu makan sejak pagi tadi membuat lambungnya sakit.
"Dasar pria brengsek, sialan! Kenapa kau tinggalkan aku? Sampe mati ketakutan aku kau buat di kamarmu yang aneh ini!"
*
*
Mampir yuk
__ADS_1