Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Perhatian


__ADS_3

"Aku cuma ngirim email ke asistenku sebentar. Kenapa? Kau terbangun?" tanya Sea masih berdebar kencang, sedikitpun dia tidak mau melepaskan pelukannya memegang erat leher Sea. Apa gadis itu tidak tahu efek yang ditimbulkannya?


Sea memang sedang mengirim file yang baru saja selesai dia pelajari. Sebenarnya masih ada pekerjaan lainnya yang menunggu, tapi saat mendengar petir yang menyambar membuat pria itu ingat pada Dean. Dia tahu gadis itu sangat penakut pada gelap dan petir.


Dugaannya benar, gadis itu begitu ketakutan, bahkan kala melihat Sea mendekat, wajah Dean memucat seperti melihat setan.


"Kau kan bisa kerja di sini, kenapa pula mesti kau tinggalkan aku? Jangan mentang-mentang ini rumah mu ya, jadi suka-suka mu pula tinggalin anak orang sampe mati ketakutan gini!" umpat Dean masih marah, tapi tetap saja tangannya menggenggam erat ujung baju Sea.


Tidak ingin berdebat lagi, Sea mengalah. Lagi pula melihat keadaan Dean yang begitu ketakutan membuatnya merasa bersalah dan benar, kamarnya terlihat begitu menyeramkan kala lampu di padamkan. Banyak pernak-pernik dan juga aksesoris di kamar yang seperti hidup.


"Aku minta maaf, sekarang kita tidur ya," ucap Sea membantu Dean berbaring lalu menyelimuti tubuh mereka berdua.


Dia tidak peduli mau dianggap murahan ataupun dipikir mencari kesempatan dalam kesempitan. Dean lebih memilih untuk menyelamatkan jantungnya daripada harus menahan gengsi, kalau sampai dia melepaskan pegangannya terhadap Sea, siapa yang bisa menjamin kalau pria itu tidak akan meninggalkannya lagi.


"Dean aku tidak akan pergi lagi, bisakah kau melepaskan peganganmu di leherku? Aku sedikit kesusahan untuk bernapas," ucap Sea sedikit sesak dan tersengal karena Dean merapatkan tubuhnya ke tubuh Sea dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.


Takut Sea mati, Dean pun mengendorkan pegangannya, bahkan kali ini tangannya turun untuk menggenggam ujung baju pria itu, tapi untuk menenangkan hati Dean, perlahan walau dengan hati berdebar Sea menautkan jemarinya di jemari Dean hingga membuat gadis itu merasa nyaman dan percaya bahwa dia tidak akan ditinggalkan.


Seketika suasana hening. Dean hanya bisa menatap langit-langit kamar dan cahaya lampu, memastikan kalau lampu itu tidak redup, sekaligus mengambil waktu untuk menenangkan hatinya.


Rasa malunya muncul ketika menyadari bahwa tangan mereka kini saling bertautan selayaknya sepasang kekasih. Walaupun mereka suami istri, tapi satu sama lain tahu bahwa di antara keduanya tidak punya hubungan apapun yang spesial.


"Maaf aku ingin melepaskan pegangan tanganmu, tapi aku takut nanti kalau aku ketiduran lagi kau akan pergi meninggalkanku. Jadi, malam ini biarkan aku memegang tanganmu," ucap Dean melirik tangan mereka yang saling bergenggaman.

__ADS_1


Sea tidak menjawab, terserah dia berpikir apa, tapi sejujurnya dia menikmati kedekatan mereka. Sentuhan tangan itu seolah mewakili perasaan Sea saat ini. Dia tidak pernah merasakan debar jantung yang begitu kencang saat bersentuhan dengan seorang wanita, bahkan dengan Melodi yang sudah lama dipacarinya pun tidak pernah.


Saking lamanya terdiam tidak tahu harus berkata apa Sea pikir Dean pasti sudah tertidur. Dia bukan ingin meninggalkan gadis itu, hanya saja bergerak untuk memastikan bahwa selimut menutupi tubuh Dean, tapi merasakan pergerakannya, membuat gadis itu yang tersentak, hingga membuat pria itu membatalkan niatnya.


"Kau pasti mau pergi lagi ya? Mau kau tinggalkan lagi aku di sini?" hardik Dean mendudukkan dirinya bersila.


Sea ikut duduk, saling berhadapan, saat ingin menjawab, suara perut yang kelaparan terdengar dari perut Dean, membuat Sea menatap wajah gadis itu yang tidak tahan jadi memilih untuk menunduk. Dia malu, tapi memang saat ini dia kelaparan.


"Kau lapar?" tanya Sea tidak berani menyinggung kan senyum. Kalau sampai gadis itu tahu Sea sedang menggodanya dengan senyum itu, niscaya Dean pasti ngambek lagi.


Namun, sebenarnya yang membuat Sea merasa heran, tubuh Dean kecil, dan begitu langsing, dia juga sejak pagi hingga pulang tadi sudah banyak menyantap berbagai jenis makanan dan kudapan, tapi masih juga lapar.


Perlahan Dean mengangguk, ada rasa malu pastinya di hati.


Sebenarnya tradisi di rumah mereka, kalau sudah jam 10 malam, tidak akan ada lagi makan malam, dan hal itu juga sudah diketahui Dean, kala bertanya pada Sea, mengapa mereka makan malam jam enam sore.


"Kau mau makan apa?" tanya Sea mencari makanan di dalam kulkas dan di atas meja meja saji. Dean baru akan buka suara, tapi seorang pelayan yang mendengar kegaduhan di dapur datang untuk melihat keadaan di sana.


"Tuan mencari sesuatu?" tanya pelayan itu melihat ke arah Sea lalu beralih pada Dean. Gadis itu panik, tentu saja malu kalau sampai diketahui orang lain kalau dirinya kelaparan dan berniat untuk mencari makan.


"Sea hanya ingin mengambil air minum, dia haus, dan aku hanya menemaninya ke dapur," sambar Dean melihat ke arah Sea, dia ingin dukungan dan kode yang diberikan oleh gadis itu berhasil disadari Sea.


"Hanya sebotol air mineral," jawab Sea untuk menenangkan hati Dean.

__ADS_1


"Sea, sebaiknya kita kembali ke kamar. Kau kan udah minum, aku mengantuk," tukas Dean mengangguk.


Keduanya berjalan beriringan. Sea ingin sekali tertawa, tapi dia masih menjaga perasaan Dean, dia tahu alasan gadis itu membatalkan niatnya untuk mencari makanan di dapur.


"Aku ke bawah sebentar, kau tunggu di sini ya?" ucapnya setelah mereka sampai di kamar.


"Aku gak mau ditinggalkan sendirian. Aku takut," tolak Dean spontan menarik baju Sea.


"Hanya sebentar, aku janji," ucapnya lalu segera melesat keluar. Dean yang gagal mempertahankan Sea hanya bisa menggerutu dan menyentak kakinya di lantai.


"Dia mau kemana sih?! Kenapa aku ditinggalkan!" umpatnya kesal.


Namun, lima belas menit kemudian Rain datang membawa satu piring nasi goreng yang dia buat ala kadarnya dengan cepat, dan juga beberapa potong buah.


"Kita makan, yuk."


*


*


*


Mampir yuk

__ADS_1



__ADS_2