Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Pria Menyebalkan


__ADS_3

"Udah kau ganti, Kak, seprei paribanmu itu?" tanya Mak Tiur ketika Dean lewat dari hadapan mamaknya yang menonton televisi bersama Sian.


"Udah, Mak," jawabnya sambil berlalu. Dia sangat kesal pada Sea, karena pria itu belum kembali ke Jakarta, hingga harus tidur di kamarnya malam ini.


Dean sendiri juga tidak mengerti mengapa Pak Hotman malah meminta pria itu tidur di kamarnya, padahal kalau hanya alasan tidak ada kamar kosong, bisa saja kan pria itu tidur bersama Radedo, si bungsu di keluarga itu. Mereka bisa tidur berdua di kamar adiknya itu.


"Kalau gitu kau ajak lah dia tidur," ucap Mak Tiur.


"Kok gitu mamak ngomongnya? Maksud Mama apanya? Ngapain pula aku ajak dia tidur?" protes Dean merengut kesal dengan wajah cemberut ke arah mamanya.


"Eh maksud Mama kau tunjukkan kamarmu yang mana," jawab Mak Tiur meralat kalimatnya.


Dean melihat keberadaan pria itu di sekitar rumahnya, ternyata Sea sedang berbicara dengan bapaknya di teras rumah. Entah apa yang dibahas kedua orang itu, tapi tampaknya mereka bercerita begitu seru sehingga melupakan jam yang sudah beranjak naik. Bahkan dia sendiri sudah sangat mengantuk, ingin segera tidur karena besok dia harus kuliah pagi.


"Kau belum mau tidur? Aku sudah ngantuk," ujarnya yang berdiri di depan pintu dengan tatapannya diarahkan kepada Sea yang juga melihat ke arahnya.


Seketika Sea merasa malu terlebih karena omongan Dean membuat mata Pak Hotman membulat, bahkan pria itu pun jadi ikut malu. Mungkin putrinya itu tidak sadar dengan makna kalimat yang dia ucapkan.


"Kenapa Pak, kok ngeliatin aku kayak gitu? Mama nyuruh nanya Sea apa tidak ingin tidur karena kamar sudah ku rapikan dan aku akan tidur di kamar Sian. Apa Bapak aja nanti yang menunjukkan di mana nanti letak kamarku?" Dean yang akhirnya membuat keduanya mengerti dan berakhir dengan tersenyum geli.

__ADS_1


Baik Sea ataupun Pak Hotman sama-sama sudah salah menafsirkan ucapan Dean. Terlebih Sea, awalnya dia pikir kepala Dian terbentur hingga gadis itu mengatakan hal yang begitu berani, terlebih di depan ayahnya. Ternyata maksud dari gadis itu karena ingin menunjukkan di mana letak kamarnya.


"Sudah malam, beristirahatlah, Sea. Tulang juga mau istirahat karena besok harus mengajar pagi," ucap Pak Hotman menyadari mereka sudah terlalu lama bercerita. Penilaian Pak Hotman, Sea adalah pria yang menyenangkan, tapi tidak bagi Dean.


Hasea pun mengangguk lalu bangkit dari duduknya mengikuti langkah dan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.


"Malam ini kau tidur di sini, tapi ingat jangan menyentuh apapun yang ada di dalam kamar ini bahkan mengubah posisinya. Aku harap kau cukup tau diri karena kau sudah menumpang di kamarku," ucapnya melongos pergi meninggalkan Sea dengan senyum gelinya.


Tidak bisa tidur hingga pukul 03.00 pagi membuat Dean bangun kesiangan hingga terlambat pergi ke kampus. Sialnya lagi, pagi ini dia mengikuti mata kuliah dosen killer yang tidak mentolerir mahasiswa yang terlambat.


"Makan lah pelan dan duduk, nanti kau bisa tersedak," ujar ayahnya yang melihat Dean terburu-buru mengunyah roti selai coklatnya.


"Bakal terlambat kau, Kak. Tapi kalau kau pergi diantar naik motor mungkin akan cepat sampai," celetuk Sian yang punya tujuan tertentu.


Seketika pandangan Mak Tiur tertuju kepada Sea. Pria itu pun merasa diperhatikan lalu mengerti arti tatapan dari nantulangnya itu. "Biar Dean aku yang antar, Tulang," ucapnya sedikit canggung. Berulang kali mamanya sudah mengingatkan Hasea untuk memanggil ayahnya Dean dengan sebutan tulang (Paman) dan bukan Om.


"Baguslah itu kalau begitu. Itu kunci motor ada di atas meja. Nanti Sian biar Tulang yang nganter ke sekolah," ucap Pak Hotman yang berhasil menutup mulut Dean yang sempat ingin protes menolak tawaran dari Hasea.


"Matilah aku! Kek mana kalau saat pria tengil ini mengantarku ke kampus kawan-kawan kulihat Ferdi juga lihat? Lebih buruk kalau teman-temannya juga ikut melihat pasti akan mempertanyakan hal itu kepada Ferdi!"

__ADS_1


Tapi dia harus menelan rasa kecewanya. Bapaknya memaksa agar Sea mengantarnya sampai ke kampus. "Hitung-hitung buat Sea jalan-jalan di kota Medan, nanti sore dia'kan sudah pulang ke Jakarta," ucap ayahnya yang dianggap oleh Hasea.


Tidak punya pilihan lain akhirnya Dean duduk manis di boncengan menikmati udara pagi yang membelai wajah cantiknya namun kesejukan itu tidak bisa membuat hati dan kepalanya mendingin.


"Kamu kenapa nggak mau aku antar bukannya harusnya kamu bangga karena diantar oleh pria tampan sepertiku," ucap Sea mengulum senyum dia terus fokus membawa motor Sian membelah jalanan pagi itu.


Dean mendengus, dia heran mengapa ada pria senarsis itu. Walaupun sebenarnya dia tidak menampik bahwa wajah pria itu memang tampan. Kalau dari penampilan 10/10 tapi kalau untuk sifat Dean angkat tangan. Padahal namborunya sangat ramah begitupun dengan amangboru Rudolfnya, lantas bagaimana bisa lahir seorang anak yang begitu sombong dan juga menyebalkan seperti Sea?


Karena berangkat pagi jalanan belum terlalu macet akhirnya Dean bisa sampai di kampusnya dengan tepat waktu. "Terima kasih sudah mengantarku kau udah boleh pulang," ucap Dean buru-buru menyerahkan helm dan ingin beranjak pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya.


"Tunggu dulu enak aja kau langsung pergi, emangnya kamu pikir aku tukang ojek mu? Aku mau jalan-jalan di sekitar kampusmu," ucapnya turun memarkirkan motornya lalu mengikuti langkah Dean yang sudah beranjak pergi dari sana. Dia tidak boleh terlihat bersama pria itu kalau masih menginginkan adanya ketenangan dalam hidupnya.


"Kalau kau mau jalan-jalan di sekitar kampusku, pergi aja sendiri! Jangan ikutin aku. Aku mau ke kelas, ada tugas yang harus aku kerjakan!" bentak Dean yang mulai jengah melihat pria itu. Sepertinya dia memanfaatkan situasi untuk membuatnya kesal, padahal jelas-jelas dia tahu bahwa Dean memiliki kekasih dan kebetulan kuliah di kampusnya.


"Kenapa? Kau takut ya, kalau sampai pacarmu itu melihat kita bersama? Aku kan sudah bilang, kenapa kau tidak terbuka saja kepadanya? Jelaskan bahwa ini hanya perjodohan yang akan segera dibatalkan. Kita pacaran hanya untuk menyenangkan hati orang tua, hanya pura-pura. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkannya, dan satu lagi katakan kepadanya bahwa aku tidak mungkin menyukai gadis sepertimu. Kau bukan tipeku, jadi jangan khawatir!" jawab Sea menuruti apa yang diinginkan oleh gadis itu, mengambil langkah berseberangan dengan Dean.


Tidak ingin mendebat ucapan pria itu, Dean memutuskan untuk segera naik ke jurusannya. Lebih cepat dia menjauh dari pria itu maka akan lebih aman baginya.


Tapi sepertinya hal itu jauh dari harapannya, karena begitu dia menginjakkan kaki di jurusan ketiga sahabatnya langsung merongrongnya dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Tolong kau jelaskan siapa pria tampan yang tadi bersamamu?" tanya ketiganya bersamaan.


__ADS_2