Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Mendapat Pekerjaan


__ADS_3

Sea sudah kembali ke Jakarta, kali ini Dean saja yang mengantarnya ke bandara. "Kau baik-baik ya, jangan nakal, aku pasti kembali," jawab Sea yang bak lirik lagu, tapi nyatanya itu memang ungkapan hatinya.


Dean hanya mengangguk, tidak memberi jawaban apapun. Aneh, terasa sedih di hatinya. Bukannya seharusnya kita gembira karena kalau Sea pulang, dia bebas pacaran dengan Ferdi.


Setelah kemarin bicara panjang lebar, Ferdi merasa semakin yakin untuk memperjuangkan hubungan mereka, terlebih karena melihat Sea yang mendukung mereka, buktinya saja pria itu yang mengantarkan Dean ke rumah untuk menemui dirinya.


Nomor penerbangan Sean sudah akan berangkat, dia segera pamit kepada Dean dengan mengulurkan tangannya agar gadis itu menyambut, tapi entah mengapa setelah menyalami tangan Sea, lalu melepaskannya ada dorongan dalam diri Dean untuk memeluk Sea.


Tangan Dean yang tiba-tiba melingkar di leher Sea, tentu saja membuat pria itu terkejut. Tubuhnya berubah kaku. Namun, perlahan dia bisa menguasai dirinya, mengangkat tangannya dan dilingkarkan di pinggang ramping gadis itu. Mereka berpelukan, dia tidak peduli dengan tatapan beberapa orang di sekelilingnya yang menatap mereka.


Bahkan Dean terpikir untuk mengatakan bahwa pria yang saat ini dia peluk adalah suaminya, agar orang-orang tidak perlu harus memperhatikan mereka sedemikian intens.


"Aku berangkat dulu," jawab Sea mengembangkan senyum setelah mengurai pelukan mereka. Terberat dari semua perjalanan yang pernah dia tempuh, adalah perpisahan kali ini dengan Dean. Mengapa hatinya tertawa di kota itu. Sea semakin yakin bahwa dirinya sudah bukan seperti Sea yang dulu, yang tidak peduli dengan perasaan orang lain dan merasa selalu bisa hidup tanpa orang lain.


Nyatanya hati yang tertinggal pada gadis itu, yang mungkin belum disadari Dean sampai saat ini.

__ADS_1


Kesedihan tercermin di pelupuk mata Dean saat menatap punggung Sea semakin menjauh darinya. Tanpa dia sadari air matanya menetes di pipi.


"Kenapa aku harus nangis? Dia hanya pergi ke Jakarta'kan? Terus kenapa pula aku tadi mesti memeluknya?" ujar Dan bermonolog, menyadari bahwa mungkin dia sudah terlalu jauh bertindak.


Namun, itu bukan skenario. Dia tidak bisa mengontrol hatinya untuk melakukan apa yang tidak dan harus dia lakukan.


Dean tidak berminat untuk masuk kampus hari ini, perasaannya masih sedih atas kepergian Sea ke Jakarta, jadi dia memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Mengapa dia sudah merindukan pria itu? Mungkin karena dia sudah terbiasa hidup bersama Sea, terlebih karena sudah beberapa lama mereka bersama di Amerika.


Hari-hari Dean kembali seperti biasa, kuliah dan berkencan dengan Ferdi. Sesekali dia akan menjawab telepon dari Sea, tapi gadis itu sengaja untuk mengabaikan perhatian pria itu. Dia tidak ingin terlalu terjerat karena takutnya perasaannya jadi tumbuh kepada Sea.


Sea yang merasa bahwa Dean keberatan kalau dirinya menghubung gadis itu, memutuskan untuk tidak lagi menelepon Dean. Hanya sesekali itupun ketika menanyakan hal yang penting seputar kabar kedua mertuanya dan adik-adik Dean.


"Aku perhatikan belakangan ini kau sering melamun, apa ada masalah, Sayang?" tanya Ferdi yang kala itu mengajak Dean untuk makan bakso.


"Hah? Masalah? Nggak ada kok. Masalah apa?" tanyanya terbangun dari lamunan panjangnya.

__ADS_1


"Kalau gitu kenapa dong kamu melamun? Aku merasa kau sedikit berbeda," lanjut Ferdi.


"Berbeda apa? Nggak ada kok. Oh, ya tadi katanya ada yang mau diomongin, ada apa?" tanya Dean yang mengingat tujuan utama mereka bertemu, sekaligus untuk mengubah topik pembicaraan. Dia tidak siap untuk di sudutkan tentang perubahan yang dikatakan Ferdi tadi.


"Ada kabar gembira, aku diterima bekerja di perusahaan di Jakarta. Aku sudah interview secara online dan kemungkinan minggu depan aku akan berangkat ke sana untuk interview terakhir, sekaligus membicarakan pendapatan," terang Ferdi dengan wajah gembira. Dia yakin kabar yang akan disampaikan pria itu kepada Dean, pasti juga membuat gadis itu bahagia.


"Oh ya? Selamat ya, Fer. Aku ikut senang," sambut Dean datar. Dia jujur kok, ikut senang karena Ferdi akhirnya mendapatkan pekerjaan, tapi yang tidak habis pikir, mengapa pria itu justru mengambil pekerjaan di luar kota? Lantas bagaimana dengan dirinya? Bukankah di kota Medan ini juga banyak lowongan pekerjaan? Dia lulusan terbaik, pastinya mudah mendapatkan pekerjaan di sini. Namun, Dean menyimpan segala unek-uneknya itu di dalam hati, tidak ingin merusak kebahagiaan Ferdi dengan pendapatnya itu.


"Kamu ngijinin aku pergi ke Jakarta'kan, De? Ini demi masa depan kita. Kasih aku waktu dua tahun aja, aku bekerja untuk mengumpulkan uang agar kita bisa menikah," ucap Ferdi seolah lupa bahwa Dean saat ini sudah menjadi istri orang lain.


Namun, sebenarnya bukan itu yang terpenting, kalau hanya dua tahun tentu saja Dean yakin pernikahannya dengan Sea pasti sudah berakhir kala itu.


"Kau yakin mau ke Jakarta? Apa kau sangat menyukai pekerjaan itu?' tanya Dean meyakinkan Ferdi.


"Tentu saja. Perusahaan itu adalah salah satu perusahaan terbesar di kota itu, bahkan tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Aku beruntung dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu," jawab Ferdi mantap.

__ADS_1


Artinya, mau Dean setuju ataupun tidak, Ferdi tetap akan pergi. Lantas untuk apa dia meminta izin kepada gadis itu tadi? Dean hanya bisa mengukir senyum, menarik sudut bibirnya.


"Kalau begitu pergilah, raih mimpimu!" jawab Dean dengan suara lemah.


__ADS_2