Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Canggung


__ADS_3

Dean sedikit canggung, memasuki kamar yang diperuntukkan untuk mereka berdua. Dia gugup ingin meminta kamar yang lain saja, tapi tidur di kamar yang sangat besar sendiri juga membuatnya takut.


"Bawa istri mu istirahat, kalian juga perlu beristirahat, besok lagi datang menjenguk Mamamu," ucap Rudolf dalam bahasa mereka. Dean tentu saja mengerti, tapi untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan papa mertuanya dia sedikit canggung.


Sea dan membawa Dean menaiki tangga menuju kamar mereka. Di sini'lah keduanya saat ini, di dalam sebuah kamar yang begitu besar dan luas. Dean begitu takjub, luas kamar itu hampir seukuran setengah dari luas rumah mereka di Medan.


"Apa kau menyukai kamar ini? Kalau kau tidak suka, kita bisa meminta kamar yang lain. Ini adalah kamarku dulu, menghabiskan masa remajaku hingga lulus kuliah, sebelum aku ke Indonesia," tukas Sea tersenyum.


Deg!


"Kenapa sih Sea harus tersenyum, dan membuat wajahnya semakin tampan? Apa dia tidak tahu, jantungku hampir copot?" batin Dean menunduk, tidak tahan laga mata dengan Sea.


"Aku suka kok, Ini udah lebih dari cukup," jawab Dean jujur. Kamar itu memang terkesan maskulin dengan segala pernak-pernik yang berbau koleksi pria, tapi tetap bersih dan juga mewah dengan segala perabot yang ada di dalamnya.


Dia sedikit heran mendapati Sea yang memilih masih tetap tinggal bersama kedua orang tuanya, walaupun sudah menginjak usia remaja, karena dia tahu budaya barat ketika sudah menginjak usia dewasa mereka memilih untuk tinggal sendiri di apartemen. Bagi mereka adalah suatu aib atau hal yang memalukan ketika di usia dewasa masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka biasanya akan dibully oleh para teman-temannya.

__ADS_1


Sea meninggalkan Dean yang masih terperangah menatap ruangan kamar, memperhatikan setiap detailnya dan mengagumi segala isinya. Tidak salah lagi keluarga Sea memang sangat kaya raya.


Ketika ingin menanyakan perihal pintu balkon apakah bisa dibuka, barulah dia menyadari bahwa Sea tidak ada di ruangan itu.


Dia gugup, sedikit takut ditinggal sendiri, lalu bangkit ingin mencari Sea, tapi baru akan melangkah ke pintu luar, pintu kamar mandi terbuka dan Sea muncul dengan lengan kemeja yang sudah digulung.


"Kamu ke mana?" tanya Sea lembut. Dia ingin membuat Dean nyaman selama tinggal bersamanya di rumah itu. Sea tahu dibalik sikap keras kepala Dean, gadis itu memiliki perasaan yang sensitif dan bisa saja dia merindukan keluarganya karena gadis itu memang selama ini tidak pernah jauh dari mereka.


"Tadinya aku ingin mencarimu, aku pikir kau sudah meninggalkanku," jawabnya dengan malu-malu.


Hal itu tentu saja menyentuh perasaan Dean, tidak menyangka bahwa Sea sangat perhatian dan begitu lembut kepadanya. Selama ini pertengkaran yang terjadi di antara mereka membuat Dean berpikir bahwa pria itu adalah sosok yang kasar dan juga arogan, nyatanya beberapa hari kebersamaan mereka, mengubah sudut pandang Dean terhadap Sea.


Tanpa banyak protes, Dean mengikuti apapun yang dikatakan oleh Sea. Dia adalah guide, pemberi komando selama dia berada di negeri asing ini.


Kalau tadi dia begitu mengagumi kamar tidur Sea, kini dia juga terperangah melihat kamar mandi yang juga berada di kamar itu. Interiornya sangat mengagumkan, bahkan Dean tidak berani menyentuhkan jarinya ke sisi bathtub yang sudah berisi air hangat dan juga essential oil yang wanginya membuat pikiran terasa jadi tenang.

__ADS_1


Dean berdiri memastikan pintu kamar mandi sudah dia kunci lalu setelahnya bergegas membuka pakaiannya dan memasuki bathtub mewah yang sejujurnya baru kali ini bisa dirasakan.


Dengan semua kekayaan dan kuasa yang Sea miliki tentu saja banyak gadis yang menyukai pria itu. Memikirkan dirinya adalah istri dari pria kaya raya itu membuat Dean berdebar. Dia baru menyadari bahwa keberuntungan yang begitu besar sudah diberikan kepadanya.


Namun, janganlah berpikiran bahwa Dean materialistis. Dia sama sekali tidak peduli dengan harta kekayaan. Menurutnya hal yang bisa membuat manusia bahagia dalam hidup adalah karena memiliki cinta dan menikmati sisa waktunya berada di dunia ini bersama dengan orang yang dia cintai, dan hal itu yang paling utama.


Sea memiliki segalanya, mulai dari ketampanan dan juga kekayaan yang melimpah ruah tapi mengapa Dean tidak mudah terpikat pada pria itu? Hatinya masih tertawan pada Ferdi.


Namun, benarkah dia masih mencintai Ferdi? Buktinya saja sudah empat hari mereka tidak bertemu dan saling tidak berhubungan dengan Ferdi, tidak merindukan pria itu.


"Apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya Sea di balik pintu kamar mandi, mengkhawatirkan Dean yang mungkin saja tidak mengerti menggunakan segala fasilitas yang ada di sana.


"Aku baik-baik saja. Tunggulah aku sampai keluar," ucap Dean tersipu malu, begitu tersentuh dengan perhatian suaminya.


Hai... mampir yuk

__ADS_1



__ADS_2