
"Lusa udah libur semester, mana berbulan lagi, kalian liburan kemana woi? Aku kayaknya ke kampung bapakku, di Berastagi," ucap Juli menyempil duduk diantara Dean dan juga Rini. Astri hari ini sudah tidak masuk lagi, memilih untuk meliburkan diri lebih dulu.
Dean hanya bisa diam. Kepalanya pusing memikirkan permasalahan yang kini dihadapi, permasalahan baru yang tiga hari lalu muncul ke permukaan. Entah dari mana Namboru Uli tahu bahwa dia akan libur semester, wanita itu menghubungi ayahnya dan meminta izin agar Dean mau datang ke Jakarta menemui Sea yang kebetulan saat ini pria itu tengah sakit. Sudah dua hari demam dan perlu beristirahat sementara di rumahnya, pria itu hanya tinggal seorang diri. Pembantu rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah hanya datang tiga kali dalam seminggu.
"Aku nggak mau, Pak. Masa aku ke Jakarta hanya untuk mengurus dia. Lagian belum pun nikah masak satu rumah, nggak mau lah aku!" tolak Dean.
Pak Hotman pun sebenarnya tidak setuju dengan permintaan Namboru Uli, rasanya kurang pas dan sopan namun, berkali-kali Namboru Uli meminta tolong agar dia mau mengurus Sea selama pria itu sakit.
"Kalau sehat aku, Ito (Panggilan anak perempuan untuk saudara laki-lakinya) udah aku yang terbang ke Jakarta mengurusi Sea, tapi aku pun sedang sakit, ini harus kemo lagi aku minggu depan. Lagian mereka'kan akan menikah dan aku pun percaya sama si Sea. Dia nggak akan ngapa-ngapain Dean sebelum mereka jadi," ucap Namboru Uli memohon kepada Pak Hotman yang tidak bisa ditolak oleh pria itu lagi.
Akhirnya malam itu diputuskan Dean akan berangkat lusa ke Jakarta. Padahal dia sudah menyusun rencana untuk pergi bersama Ferdi mengunjungi Juli nantinya di Berastagi atau mereka akan pergi menemui Astri yang rumahnya di Parapat, kini harapan tinggal harapan.
"Kau kenapa sih, dari tadi diam terus. Kau mau liburan ke mana? Kalau asyik aku mau ikut dong," ucap Rini yang masih bingung karena saat ini perekonomian keluarganya memang sedang susah jadi tidak mungkin ada istilah liburan paling juga dia diam di rumah membantu menjaga warung ibunya. Beruntungnya dia masuk universitas negeri jadi lebih murah, dan untuk diktat dia bisa copy dari teman-temannya.
"Aku kayaknya di rumah aja, nggak kemana-mana," jawabnya tanpa ragu-ragu.
"Udah dengar belum kalau Ferdi sama temen-temennya mau ke Samosir, kita ikut yuk?" ucap Rini. "Sekalian kita bisa ketemu sama Astri, kan rumahnya juga di sana," lanjutnya.
__ADS_1
Dean hanya bisa diam, dia bukan tidak mendengar mengenai hal itu. Ferdi sudah jauh hari mengatakan rencana mereka dan parahnya Dean mengatakan bisa ikut rencana itu tapi kenyataannya berbeda. Sekarang dia bingung harus bagaimana menjelaskannya kepada Ferdi, jangan sampai pria itu beranggapan bahwa dia sengaja membatalkan janji dengan Ferdi dan lebih memilih untuk berlibur ke Jakarta untuk menemui Sea.
"Kenapa diam aja? Dari tadi kok diam terus, aku ada salah ya? Ngomong dong, Sayang," ujar Ferdi saat mereka berkendara dengan motornya menuju rumah Dean, seperti biasa tangan pria itu akan menggenggam tangan Dean dan meletakkannya di paha Ferdi.
"Kalau seandainya bapakku nggak ngasih izin untuk pergi, kau tetap pergi juga sama lindung dan yang lainnya?" tanya Dean. Dia mendengar kabar bahwa beberapa gadis yang juga teman lindung akan ikut bersama-sama mereka ke Parapat.
"Kok gitu sih, bukannya kau udah janji mau ikut sama kami? Ayolah, pasti seru kalau kita liburan bareng. Nanti awal tahun kemungkinan orang tuaku akan mengajakku pulang ke kampung ke Jawa, nanti kita nggak punya waktu lagi untuk liburan bersama," ucapnya memohon.
"Aku belum tahu, Fer. Kayaknya aku nggak dikasih izin sama bapak. Nggak apa-apa kok, kamu pergi aja liburan sama mereka."
"Tapi aku maunya liburan denganmu," sambar Ferdi cemberut. Padahal dia sudah menyiapkan hadiah spesial yang akan dia berikan pada Dean.
Jadi selama Ferdi bersenang-senang dengan teman-temannya, Dean bisa berangkat ke Jakarta mengurus Sea, lalu setelah pria itu sehat kembali dia akan pulang dan meminta izin kepada ayahnya untuk menyusul Ferdi ke Parapat.
Sore itu Dean hanya bisa mengantar Ferdi sampai ke loket bus. Ada rasa cemburu di hatinya ketika melihat dalam rombongan itu ada tiga orang gadis yang salah satunya menyukai Ferdi. Kabar Itu dia dapatkan dari Rini yang kebetulan memang lagi dekat dengan lindung.
Tapi dia tidak bisa protes dan menyatakan rasa tidak sukanya karena jelas-jelas Ferdi mengajaknya untuk pergi bersama mereka namun, dirinyalah yang menolak. Setelah rombongan itu berangkat dengan bus, Dean pun bergegas pulang dengan riak air mata di pelupuk matanya.
__ADS_1
***
"Kamu Dean, ya?" Sapa seseorang dari belakang tubuhnya
Dean terkejut, berbalik dan mendapati seorang pria tersenyum padanya yang kini mengamati wajahnya dan membandingkan dengan gambar yang ada di layar handphonenya.
"Iya benar, kau siapa?" Tanya Dean mundur selangkah. Dia sudah diperingatkan oleh Mak Tiur agar lebih berhati-hati di Jakarta. Ini adalah kali pertama gadis itu melangkah jauh dari rumah, pertama kali menginjakkan kaki di kota Jakarta. Kota yang sarat dengan segala jenis kelakuan manusia yang tinggal di dalamnya.
"Aku Desta, temannya Sea. Dia memintaku untuk menjemputmu karena dia tumbang, tidak bisa bergerak bahkan untuk ke kamar mandi pun aku harus memapahnya," ucap pria itu dengan senyum yang masih membingkai bibirnya.
Tentu saja Dean tidak langsung percaya. Dia segera menghubungi nomor Sea, lama baru pria itu baru mengangkat teleponnya.
Dean lalu menyebutkan ciri-ciri Desta, apakah benar pria itu adalah utusan Sea untuk menjemputnya.
"Iya benar itu temanku. Kau ikutlah dengannya, lagi pula mana ada orang yang mau menculik mu. Kau lihat sekitarmu, Jakarta berbeda dengan Medan, di sini banyak cewek-cewek cantik, jadi kau tenang saja kau tidak akan diculik oleh siapapun," jawab Sea dengan lantang, lalu memutuskan sambungan telepon dengan sepihak.
"Dasar sialan, dia nggak tahu aja kalau cewek-cewek Medan lebih cantik dan yang pasti lebih tulus," cibirnya dalam Hati.
__ADS_1
"Kita bisa berangkat sekarang? Aku takut kalau kelamaan ditinggal, sesampainya kita di rumahnya, pria itu sudah jadi mayat," ucap Desta sembari tertawa. Sekali saja bertemu Dean tahu bahwa Desta adalah pria yang baik, bicaranya sopan dan tutur katanya begitu menyenangkan sama seperti cara bicara Ferdi.
"Ternyata kamu cantik juga ya, pantesan Sea mau ditunangkan denganmu," ucap Desta melirik ke arahnya, saat mereka sudah berada di dalam mobil, alhasil wajah Dean sukses memerah.