Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Backstreet


__ADS_3

Walau alot menjelaskan, akhirnya Ferdi mau menerima penjelasan Dean. Gadis itu kini bisa tersenyum, rasa takutnya sirna seketika.


"Aku juga gak tahu apa aku bisa terima gaya pacaran kayak gini, tapi aku akan coba menjalaninya, De. Semua ini aku lakukan karena aku memang gak bisa berpisah darimu," ucap Ferdi yang akhirnya mau mengalah.


Kalau hati sudah dipenuhi cinta, maka tidak akan bisa membenci, terpaksa menyerah di bawah belenggu cinta. Itu yang di alami Ferdi, pria itu harus rela menjalin hubungan dengan Dean diam-diam, jangan sampai diketahui oleh orang tuanya.


"Terima kasih, aku janji, akan menyelesaikan masalah ini. Semoga seiring waktu, mamak dan bapakku bisa mengerti ya, Fer," jawab Dean menggenggam tangan kekasihnya itu.


***


"Kau jaga diri ya, nanti kalau ada libur kau main ke Jakarta atau ke Amerika, nanti Namboru beliin tiketnya. Sering-seringlah kalian bertelepon, jangan sampai hubungan kalian renggang. Setahun itu tidak lama tapi tidak juga sebentar, pergunakan waktu dengan baik, saling mengenal dan jatuh cinta," ujar namboru Uli. "Kasih perhatianmu sama si Sea itu ya, ingatkan dia makan, malas makan dia itu, sampe udah kena penyakit maag dia!" lanjut memburu Uli yang hari ini pulang ke Amerika bersama suaminya.


Hanya Sea dan juga Dean yang mengantar mereka hingga ke bandara. Kedua orang tua Dean dan keluarga besar Batubara lainnya hanya memberangkatkan dari rumah saja.


Itu juga sebagai salah satu trik Namboru Uli yang meminta tidak perlu mengantar mereka agar Sean dan Dian punya waktu untuk berdua.


"Iya Namboru, hati-hati di jalan," jawab Dean ingin memutus pembicaraan mengenai hubungannya dengan Sean.


Sekilas dia melirik ke arah pria itu yang sedang berbicara dengan ayahnya. Dia kesal kenapa Sea tidak ikut pulang ke Jakarta hari ini saja, dia memilih kembali lusa, entah apa alasannya.

__ADS_1


Panggilan untuk segera naik ke pesawat mengakhiri pembicaraan Dean dan juga adik ayahnya itu. Sekali lagi namborunya memeluk sebelum menuju pesawat.


Setelah keduanya sudah tidak tampak, Sea mengajak Dean untuk pulang. "Kita pulang," ucapnya dingin melangkah meninggalkan Dean yang masih bengong mendengar hardikan pria itu.


"Bisa nggak sih kamu ngomong tuh sopan? Nggak usah pakai bentak-bentak!" dumel Dean dengan cemberut, pria itu selalu gampang memancing amarahnya.


Sea sama sekali tidak berniat untuk menjawab, bahkan sudah menjadi kebiasaan yang harus dilatihnya untuk tidak peduli dan tidak menanggapi omongan dan celoteh gadis itu, dia terus berjalan ke arah parkiran di mana mobil ayah Dean di parkirkan olehnya.


Selama di perjalanan Sea melihat wajah gadis itu terus saja cemberut hingga sedikit terbit penyesalan di hatinya. Menimbang hal itu Sea berinisiatif untuk mengajak gadis itu untuk makan.


"Udah, gak usah cemberut. kau mau makan apa biar aku belikan mulutnya mengibarkan bendera permusuhan karena memang sejak awal sekalipun mereka tidak pernah akur


Dean berharap seandainya dia bisa menghilang, dia ingin sekali pergi dari hadapan pria itu, yang begitu menyebalkan dan tidak pernah sekalipun membuatnya tersenyum.


Coba saja bayangkan bagaimana kehidupan kedua orang itu kalau jadi menikah, pasti rumah tangganya akan seperti di neraka. Beruntung keduanya menyadari bahwa mereka tidak saling cocok dan berusaha untuk melepaskan diri dari perjodohan itu.


"Kita ini partner, kalau mau kerja sama kita berhasil kau harus mendengarkan omonganku jangan suka ngambek!" Kembali Sea mengajak bicara namun tampaknya dia masih tidak ingin menganggap Sea ada di sana.


Tidak ada tanggapan yang didapatnya, Sea memutuskan sepihak, dia memilih untuk memutar mobil, masuk ke dalam parkiran cafe.

__ADS_1


Melihat mobil berputar arah, Dean akhirnya mau menoleh ke arah Sea. "Ngapain kita ke sini?" tanya Dean sedikit panik, pasalnya dia baru sadar kalau tempat itu adalah cafe yang sering tempat Ferdi dan teman-temannya nongkrong, terlebih karena cafe itu tempat mereka sering manggung ngisi acara di sana. Bagaimana kalau saat mereka makan di sana ketepatan Ferdi juga ada bersama teman-temannya? Kalau Ferdi bisa mengerti, tapi tidak dengan teman-temannya. Dia akan diolok-olok karena dianggap diselingkuhi oleh pacarnya.


"Jangan makan di sini," ucap Dean spontan. Demi apapun dia tidak akan membiarkan Ferdi dipermalukan.


"Kenapa?" Kening Sea mengerut, sejak tadi Dean menutup rapat mulutnya, tapi begitu hendak diajak makan di cafe itu, sontak dia langsung buka suara. "Pasti ada yang disembunyikan gadis itu," batin Sea tapi dia tidak peduli, tujuan awalnya hanya membuat gadis itu bicara, dan kini dia sudah buka suara, maka Sea akan menuruti keinginan Dean.


"Jadi kita mau ke mana?" tanya Sea kembali menoleh kepada Dean. Dia harus menghentikan laju mobil di tepi jalan agar tahu arah mana yang harus mereka tempuh.


"Lurus aja ke depan, nanti kalau ada warung bakso pinggir jalan berhenti," jawab dengan Dean ketus, kembali memasang aksinya menutup mulut.


Beruntung warung bakso yang dipilih Sea ternyata cocok di lidah Dean. Bahkan dia warga Medan asli tidak tahu bahwa di tempat itu ada jual bakso yang begitu enak, terlebih harganya pas untuk kantung mahasiswa. Besok dia akan mengajak ketiga sahabatnya untuk makan bakso di tempat itu lagi karena keempatnya memang ratu bakso.


"Apa kau ingin tambah? Seperti kau kelaparan, belum apa-apa sudah habis aja bakso mu," tanya Sea yang melihat Dean makan dengan lahap di depannya. Gadis itu bahkan tidak perlu malu-malu makan di depan pria seperti para gadis yang dikenal Sea pada umumnya. Dean justru menampakkan sisi liar dirinya yang tidak peduli dinilai barbar dan juga rakus.


"Baru kali ini aku lihat perempuan makan nggak ada jaimnya sedikitpun. Kalau seperti ini, apa kau yakin kalau pacarmu itu nggak malu punya kekasih sepertimu?" lanjut Sea yang selalu berhasil menemukan cara untuk membuat Dean naik pitam. Belum seutuhnya mereka berdamai, kini pria itu sudah memancing emosi dia lagi.


Namun, dia ingat perkataan bapaknya bahwa saat makan tidak baik untuk ribut, jauh rezeki. Jadi, dia berusaha untuk memekakkan telinga atas celoteh Sea dan menikmati baksonya yang tinggal dua biji lagi.


Dentingan sendok di mangkoknya terus beradu bahkan kuah baksonya pun sudah hampir ludes. Melihat gadis itu begitu nikmat melahap baksonya Sea yang tidak terlalu suka bakso memberikan miliknya pada Dean. Namun, caranya tidak tepat. Pria itu menuang semua sisa baksonya ke mangkok Dean, lengkap dengan sendok dan garpu.

__ADS_1


"Apa nih maksudnya? Kau ngajak ribut sama aku ya? Dari tadi aku diam-diam kan ya, aku tahan, terus aku tahan eh makin bertingkah! Sebenarnya maumu apa sih? Amit-amit deh punya suami kayak kau!" Umpat Dean meletakkan sendoknya dengan kasar dalam mangkok.


__ADS_2