
"Maksudmu apa?" delik Sea. Tampak alis pria itu sebelah kanan terangkat ke atas.
"Bisakah kita bertengkar nya besok saja? aku capek, capek badan, capek hati, dan sekarang tambah capek mata!" umpat Dean bangkit dari duduknya, berencana untuk ke kamar saja, dari pada mendengarkan ocehan pria itu.
Sudah menjadi tabiat Sea, semakin diladeni, pria itu akan semakin menjadi-jadi, jadi lebih baik ditinggal. Dean sudah cukup mempelajari sifat pria itu.
"Sakit mata? Kenapa pula?"
"Ya karena lihat mukamu lah. Udah, aku mau masuk kamar, kalau lihat mukamu, jadi teringat sama kelakuan pacarmu, dan itu buat aku makin sebal!"
Dean sudah melangkah, melewati Sea tidak peduli wajah pria itu masam dan ingin sekali memakinya. Bahkan teriakan pria itu yang memanggil namanya juga tidak dia indahkan, terus saja berjalan menuju kamarnya.
"Hei... woi... Ish... dasar wanita jadi-jadian!" umpatnya semakin kesal.
Kini tubuh Sea sudah segar sehabis mandi, walau beberapa kali dia masih mengendus kesal kala mengingat sikap Dean.
"Mau gadis gila itu apa sih? Kenapa Mama memintanya ke sini, kalau nambah beban pikirannya aja!" umpatnya, tangan kanan masih sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. Pikirannya bercabang, sebenarnya apa tujuan Melodi melakukan hal itu pada Dean?
__ADS_1
Tidak mungkin merasa tersaingi karena sejak dulu Sea sudah menjelaskan kalau diantara mereka tidak punya perasaan lain dan nanti pada akhirnya akan berpisah setelah kondisi mama Sea membaik.
Perjodohan ini mereka terima hanya pura-pura, guna mengelabui orang tua mereka sembari keduanya mencari jalan keluar untuk membatalkan perjodohan itu.
Sibuk berkutat dengan pikirannya, bunyi perutnya yang tampak sangat kelaparan membuat Sea bergegas mengeringkan rambutnya dan keluar dari kamar.
Diliriknya ke arah pintu kamar Dean yang masih tertutup, gadis itu belum juga mau keluar kamar.
Sea ingin membuat kegaduhan agar gadis itu keluar, tapi diurungkan, mempertimbangkan kalau mungkin hari ini menjadi hari yang berat bagi Dean saat berhadapan dengan Melodi. Nanti dia akan bicara dengan Melodi perihal yang terjadi diantara mereka kemarin.
Kembali terdengar suara perut Sea yang keroncongan. Tidak ingin mati kelaparan, pria itu akhirnya memutuskan untuk masuk ke dapur membuat makanan yang bisa menyelamatkan dirinya dari kelaparan di dalam kulkas sudah tersusun rapi bahan-bahan makanan yang siap untuk diolah
Sea ingin memanggil, namun, separuh biasanya melarang. "Untuk apa aku menawarkan nya. Lagi pula bukannya dia yang seharusnya melayaniku?" umpatnya dalam hati. Keberadaan Dean justru membuatnya selayaknya baby sitter yang mengurus gadis keras kepala itu.
Sea memutuskan untuk memanggilnya. Ketukan di pintu kamar yang berulang dilakukan oleh Sea tidak kunjung membuahkan hasil. Pintu masih tertutup dan tidak ada terdengar suara langkah kaki yang berkeinginan membuka pintu. Sea semakin khawatir, dia takut kalau ternyata Dean di dalam sana sudah tidak bernyawa lagi.
Siapa yang bisa menjamin pola pikir seseorang, terlebih gadis itu baru saja dia kenal, bisa saja pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan juga Melodi, membuat Dean berpikir skeptis dan memilih jalan singkat karena tidak tahan di bully.
__ADS_1
"Dean... Dean...!" panggil Sea namun, tidak mendapat sambutan. Tidak ingin ambil resiko akhirnya Sea mendobrak pintu kamar. Tubuh Sea menghantamkan dengan keras ke daun pintu namun, masih tetap tidak terbuka.
Kali keempat mencoba menghantam daun pintu. Tepat saat dia membuka pintu itu hingga akhirnya Sea terdorong hingga masuk ke dalam kamar dan jatuh menimpa Dean. Keduanya saling satu tatapan, mengunci pandangan dalam diam.
Terkejut oleh yang terjadi, Dean bahkan tidak bisa merasakan kalau tubuh yang begitu tinggi dan tegas dengan bobot yang berlebih pasti akan sangat berat bagi dirinya yang bisa digolongkan berukuran sedang.
"A-apa yang kau lakukan? Angkat tubuh raksasa mu itu, menjauh dariku!" hardik Dean setelah bisa menemukan dirinya kembali. Sesaat gadis itu tersesat dalam lautan pesona yang dihadirkan oleh pria itu
Mata Sea yang begitu indah, menghipnotisnya, mata yang jarang dilihat di Indonesia ini dan hanya keturunan asing memilikinya.
Sea pun kalah malu. Dia juga terhipnotis, menikmati adegan yang saat ini sedang mereka lakoni. Setelah mendapatkan kesadarannya Sea pun bangkit dari tubuh Dean dan berusaha untuk bersikap cool seperti biasanya.
"Tidak bisakah kau membuka pintu dengan baik? Sejak tadi aku memanggil namamu, mengetuk pintu agar kau keluar tapi setelah aku mendobrak beberapa kali dengan seenaknya kau membuka hingga aku jatuh. Jadi kalau sampai tubuhmu sakit karena tertimpa oleh tubuhku itu bukan salahku, tapi karena dirimu sendiri," ucapnya mencoba menyembunyikan wajah merahnya. Sebenarnya tidak hanya dirinya yang memerah, Dean pun mengalami hal yang sama. Tapi gadis itu pintar, langsung mengalihkan topik agar dia tidak menjadi bulan-bulan Sea.
"Ada apa kau mencariku? Bukankah sudah ku bilang jangan mencariku?"
"Kau di sini untuk mengurusku!" bentak Sea menunjukkan siapa di sini yang jadi bos.
__ADS_1
"Heh, bagos kali mulut kau itu ya, gak ada sopan-sopannya. Udah aku mau balik tidur, awas kalau kau buat gaduh lagi."
Sebelum Dean berbalik ingin menutup pintu kamar, tangan Sea menarik pergelangan tangan itu. "Kita makan dulu!"