Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Mulai khawatir


__ADS_3

Sea pulang lebih cepat dari biasanya, padahal masih banyak pekerjaan di kantor yang harus dikerjakan tapi itu tidak lebih penting dari apa yang kini mengganggu pikirannya yaitu mengenai kedua wanita yang ada di dalam apartemennya saat ini.


Hampir seminggu tidak masuk kerja tentu saja banyak pekerjaan menumpuk yang harus dia selesaikan. Awalnya Sea berencana untuk pulang pukul 09.00 malam agar keesokan harinya tidak ada beban dalam pikirannya. Namun, tetap saja dia tidak tenang, pukul 06.00 sore dia sudah mengambil tas kerjanya meninggalkan ruangan untuk pulang.


Sejujurnya selama di kantor, tidak sedikitpun Sea bisa tenang. Dia memikirkan apa yang tengah dilakukan kedua garis itu, pasalnya baik melodi ataupun Dean tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat teleponnya. Namun, ketika tiba di apartemen betapa melongo dirinya mendapati ruangan begitu gelap. Ini sudah pukul tujuh malam tapi tidak satupun lampu di ruangan itu yang dinyalakan


Lampu sudah dia nyalakan namun, tidak ada tanda-tanda mayat yang berserakan di lantai rumahnya. Jangankan tanda pertengkaran, bahkan di rumah itu tidak ada manusia selain dirinya, pun tidak terdengar hembusan napas, dia mencari Dean ke kamarnya namun, ruangan itu kosong dan juga gelap yang menandakan pemiliknya tidak berada di sana. Semakin ketakutan dan berpikiran buruk, Sea segera melihat dapur, mungkin keduanya beradu pisau di sana tapi tetap tidak ada tanda-tanda keributan ataupun pertumpahan darah.


Sea akhirnya kembali ke ruang depan duduk di sofa untuk memikirkan kemana gerangan kedua orang itu. Tidak mungkin Dean pulang ke Medan karena koper dan juga isi lemarinya masih ada. Tiba-tiba wajah Sea pucat, terpikir olehnya apa mungkin Dean dengan mulut tajamnya menyinggung perasaan Melodi hingga membuat gadis itu mengerahkan teman-temannya untuk meringkus Dean? Lalu mayatnya dibuang ke rawa-rawa di pinggir kota?


Sea benar-benar frustasi. Apa yang harus dia katakan kepada tulang (Paman) nya, bagaimana nanti kalau keluarga gadis itu menuntut?


Kembali dia mengulangi menghubungi nomor keduanya. Melodi tidak mengangkat teleponnya sementara Dean, ponselnya tidak aktif yang menambah semakin kalut pikiran pria itu. Lalu dia teringat kepada Desta, apa mungkin Desta yang mengajak Dean pergi. Membayangkan hal itu malah membuat Sea semakin geram kalau sampai memang dia tidak ada di rumah karena diajak pergi oleh Desta, maka dia akan mencekik sahabatnya itu.


"Ada apa lo hubungin gue? Kangen lo?" goda Desta sembari tertawa dari seberang sana.


"Lo lagi sama Dean, nggak?" tanya Sea tidak menanggapi lelucon garing pria itu. Siapa juga yang merindukan ular sawah seperti Desta!

__ADS_1


"Dean pariban lo? Kagak'lah. Gue lagi di Minimi, lo kemarin nggak malam ini?" jawab Desta merujuk sebuah bar tempat mereka sering nongkrong dan happy-happy pada malam hari.


"Nggak, gue sibuk. Dean gak ada di rumah, tadi sebelum ke kantor, dia gua tinggal sama Melodi. Nah, kini dua-duanya udah nggak ada lagi. Lo bisa bayangin'kan bagaimana paniknya gue," terang Sea yang meminta pengertian Desta. Setidaknya pria itu mampu memberikan solusi untuk rasa panik dan bingung Sea.


"Sekarang gue tanya, lo panik dan takut mengenai keadaan siapa nih, Melodi atau Dean?"


Lihatkan bagaimana sempitnya pola pikir Desta. Apakah harus penting dia mempertanyakan hal itu saat ini? Siapapun yang dikhawatirkan Sea tentu saja sudah hal sewajarnya.


"Penting banget ya Lo nanya siapa lebih yang gue khawatirkan?"


"Ya penting'lah, biar gue tahu Melodi atau Dean yang lebih berarti dalam hidup lo?"


Sea menjambak rambutnya, mondar-mandir dari ruang tamu menuju pintu. Sudah kali ketiga dia membuka pintu berharap ketika daun pintu itu dibuka seperti pagi tadi muncul seraut wajah cantik dan menyebalkan milik Dean.


Dean? Kenapa tidak Melodi? Apakah dia lebih menginginkan wajah Dean yang muncul di balik pintu itu? Apa dia sama sekali tidak khawatir kepada Melodi, yang seharusnya lebih membuatnya tidak tenang secara Melodi adalah kekasihnya?


Sementara Dean bukan siapa-siapa selain ikatan hubungan keluarga yang berstatus pariban, keduanya adalah orang asing yang baru saja bertemu.

__ADS_1


"Mungkin gue udah kehilangan akal karena mendengar perkataan Desta. Dasar sahabat breng*sek, seharusnya gue nggak punya sahabat kayak dia!" umpatnya mengepal tinju ke udara.


Tepat saat itu terdengar seseorang memencet password apartemennya lalu pintu terbuka dan muncul'lah raut wajah yang sangat ingin dia lihat sejak tadi.


Gadis itu melihatnya dengan sedikit terkejut karena tidak menyangka bahwa pria itu akan berdiri di balik pintu ketika dia membukanya.


"Kamu mau pergi?" tanya Dean melangkah masuk, mengganti sepatunya dengan sendal di dekat pintu lalu melewati Sea dengan cuek dan duduk di sofa. Dia meluruskan kaki kanan terasa pegal dan sangat lelah.


Kening Sea berkerut dan sudut bibirnya ditarik ke atas, menggeleng-gelengkan kepala merasa tidak habis pikir melihat sikap Dean yang merasa tidak bersalah karena sudah membuatnya khawatir. Gadis itu dengan lempengnya berjalan melewatinya dan kini selonjoran di sofa.


"Hei wanita, enak sekali ya masuk tanpa mengatakan apapun, kau pikir rumah ini bisa sesuka hati tanpa aturan? Dari mana kau?" hardik Sea melipat tangan di dada. Dia sudah persis seperti bapak kos yang marah ketika anak kosnya pulang malam tanpa izin darinya.


Tubuh Dean lelah begitu juga kakinya, tahu kan, kalau orang sudah lelah dari luar sana, dan tiba di rumah disambut dengan sikap seseorang yang mengajak ribut maka perang ketiga yang muncul.


Dia sudah ingin membuka mulutnya melawan pria itu karena sudah menghardiknya seperti orang tua saja namun, dia ingat bahwa ini adalah rumah pria itu dan tidak ada gunanya berdebat dengan Sea, karena pria itu selalu punya jurus untuk mematikan omongannya.


Dia lelah, lebih baik dia menyimpan energinya untuk besok karena dia tahu besok pria gila itu akan mencari gara-gara dengannya, membuatnya hidup seperti di neraka selama dia tinggal bersamanya.

__ADS_1


"Harusnya kau tanyakan kepada kekasihmu. Dia memaksaku untuk ikut dengannya, memperkenalkan dengan teman-temannya dan sikapnya itu bikin aku kesal, aku pikir dia niat baik mengajakku jalan walau pada awalnya aku sudah menolak tapi dia memaksa dan ternyata dugaanku benar, dia hanya ingin mempermalukan ku di depan teman-temannya!" terang Dean menggeram. Dia kembali teringat dengan kegilaan Melodi yang sudah mempermalukannya.


Begitu Sea berangkat ke kantor, tak lama Melodi memintanya untuk menemani ke supermarket. Awalnya dia bilang hanya ingin mencari sesuatu dan tidak pede kalau harus pergi sendirian. Dean yang terus dipaksa akhirnya mengalah dan ikut dengan gadis itu. Siapa sangka melodi justru membawanya ke cafe yang mana di sana sudah ada teman-teman yang menunggu kedatangan gadis itu.


__ADS_2