Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Kembali Bersama


__ADS_3

"Bisakah kita bicara sebentar?"suara Ferdi mengagetkan Dean yang saat itu sedang berada di perpustakaan jurusannya, bermaksud untuk meminjam beberapa skripsi seniornya untuk dijadikan bahan resume untuk membuat outline.


Ketiga sahabatnya yang juga ikut serta bersama dengan Dean kala itu, ikut menoleh ke belakang.


Juli menyentuh tangan Dean, menyarankan agar memberikan kesempatan pada Ferdi untuk bicara. pilihan pun sebenarnya menginginkan hal itu tapi apa masih pantas dia berbicara dengan pria lain, terlebih mantan pacarnya, pada saat dia sudah menjadi istri orang lain.


Namun, hatinya bersikeras ingin berbicara dengan Ferdi. Lagi pula, dia tidak bisa memungkiri kata hatinya dia masih cinta pada Ferdi.


Dalam diam, keduanya memilih taman bunga yang ada di fakultas tehnik, anak Tata rias selalu merawat taman itu, hingga banyak jenis bunga yang ditanam di sana.


Angin siang itu berhembus,membelai wajahnya Dean yang sudah duduk di samping Ferdi. "Apa kabarmu?" tanya Ferdi merasa canggung.


"Baik."


Kalimat singkat Dean membuat Ferdi jadi mati kutu, tidak tahu harus melanjutkan obrolannya lagi. Dia memang sudah berniat untuk membicarakan masalah mereka tapi tanggapan Dean yang seolah tidak berminat membuatnya nyalinya ciut.


"Apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Ferdi yang melihat dari tadi Dean terus saja meremas jemarinya. Gadis itu juga terlihat sangat pendiam, berbeda dengan Dean yang dia kenal yang selalu memiliki bahan untuk dibicarakannya dengan Ferdi.


"Gak'lah. Sama sekali gak. Bukannya kau bilang mau ngomong? Aku cuma nunggu dan mendengarkan apa yang akan kau bicarakan," jawab Dean berusaha keras menenangkan debar jantungnya.


"De, sebenarnya hal yang ingin aku bicarakan adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi sekali. Mungkin akan terdengar lucu di telingamu tapi aku tidak peduli, aku memutuskan untuk mengatakannya. Aku masih punya harapan bahwa kau akan memberiku kesempatan, De."


Akhirnya Ferdi berhasil mengungkapkan keinginannya. Perihal Dean akan menerima atau tidak, itu urusan belakangan yang penting pria itu sudah mengutarakan keinginannya.

__ADS_1


Hanya Ferdi lah yang tahu betapa dia sangat menderita, menghitung waktu demi waktu yang berlalu sejak Dean menikah dengan Sea. Dia percaya pada gadis itu juga menderita, bahwa pernikahan itu juga bukan keinginannya.


Dean menatap wajah Ferdi dengan sejuta pertanyaan yang ada di benaknya. Kesempatan apa maksud pria itu? Ferdi jelas-jelas sudah tahu bahwa kini dirinya adalah istri Sea.


Kalaupun mungkin pernikahan itu hanya bohongan, hanya menunggu beberapa bulan atau satu tahun lamanya sampai mereka berpisah, apakah Ferdi masih mau menerima dirinya telah menjadi janda nanti?


"Kesempatan apa?"


"Untuk bersama lagi. walaupun kini kau sudah menikah aku tahu kau tidak mencintai pernikahan itu bukanlah keinginanmu Aku akan sabar menunggumu sampai berpisah dengannya bukankah kau cuma mengatakan bahwa pria itu sudah memiliki pasangan kenapa kita tidak tetap menjalani hubungan kita ini sampai masanya tiba kau dan pria itu berpisah, ucap Ferdi mulai berani menggenggam tangan Dean.


Tidak adanya penolakan dari gadis itu membuat Ferdi yakin bahwa dirinya masih ada di dalam hati Dean, dan hal itu membuat semangatnya semakin bangkit dan rasa percaya dirinya pun timbul untuk mengutarakan niat hatinya.


"Aku mohon, De,kembalilah padaku. Bagaimanapun keadaanmu, sekarang atau nanti, aku akan menerimanya dengan ikhlas. Aku terlalu mencintaimu untuk bisa membencimu dan melupakanmu, Dea," lanjut Ferdi yang berhasil meluluhkan hati Dean.


Anggukan dari Dean membawa dunia Ferdi kembali bercahaya, tidak ada lagi awan gelap yang menyelimuti hari-harinya. Kini dia bisa tersenyum.


Ferdi menarik tangan Dean dan mendekatkan ke bibirnya untuk dia cium. Begitu lama dan sepenuh hatinya, menandakan kesungguhannya.


"Terima kasih, Sayang. Aku akan perjuangkan cinta kita, walau apapun hadangan yang ada di depan."


***


Hari-hari berlalu, janji untuk datang sekali tiga bulan pun tidak dilakukan oleh Sea, alasannya dia begitu banyak pekerjaan.

__ADS_1


Barulah setelah satu tahun pernikahan mereka Sea datang menemui Dean, yang membuat gadis itu terkejut, pasalnya saat bapaknya menghubungi dan memberitahu tentang Sea yang sudah tiba di rumahnya, Dean masih bersama Ferdi kalau itu.


"Ferdi datang, udah sampai di rumah," ucapnya setelah menutup sambungan telepon. Bapaknya meminta untuk segera pulang.


"Ya udah, sebaiknya kita pulang jangan sampai bapak dan mamamu memarahimu, aku gak mau karena hubungan kita, kau mendapat masalah. Jangan sampai mereka juga curiga dengan kebersamaan kita," ucap Ferdi yang diangguk oleh Dean.


Keduanya memutuskan pulang. Ferdi hanya mengantar Dean sampai di persimpangan rumahnya, agar tidak ada yang melihat mereka bersama.


"Pulang'lah. Nanti sampai di rumah kabari aku," ujar Ferdi membelai puncak kepala Dean penuh sayang.


Dean mengangguk, tapi sesuatu yang sejak tadi menjadi beban pikirannya, akhirnya dia ungkapkan juga. Hal itu dia pertimbangkan demi kebaikan mereka.


"Fer, selama Sea ada di sini, kita juga tidak usah bertemu, ya," pinta Dean.


Dia tidak perlu meminta penjelasan lebih detail, Ferdi tahu alasan Dean meminta hal itu, dan dia tidak keberatan, yang penting selamanya hati Dean hanya untuk dirinya, itu sudah lebih cukup membuatnya tenang menunggunya.


*


*


*


Mampir gais, novelnya keren, pasti suka

__ADS_1



__ADS_2