
Sea tidak tega kalau harus membiarkan Dean pulang sendiri ke Medan. Setelah malam itu, perasaan Sea sudah tertahan pada gadis itu yang seolah ingin selalu berdekatan dan ingin memastikan bahwa dia selalu aman.
"Kalian sudah pulang?" pekik Mak Tiur menyambut kedatangan anak dan mantunya. Dia memeluk Dean dengan begitu erat, mereka sudah lama tidak bertemu, hampir satu bulan tapi dia harus membiasakan diri kini, pasalnya Dean yang sudah menikah, lambat laun akan meninggalkan rumah itu dan mengikuti kemanapun suaminya tinggal nantinya.
Hanya satu malam rencana Sea menginap di rumah mertuanya. Besok harus segera berangkat dan kembali ke kantor, berkutat dengan segala pekerjaan yang sudah lama tertunda.
Hingga pukul 11.00 malam Sea menemani ayah mertuanya untuk bercerita di depan televisi 32 inch yang menyala, menampilkan kasus terheboh abad ini. Sesekali Pak Hotman akan menanyakan bagaimana pendapat Sea mengenai hukuman yang diterima di terdakwa. Apakah sudah sepadan dengan kejahatannya.
Kasus itu begitu menarik perhatian seluruh masyarakat negri ini, terlebih pak Hotman karena memang yang menjadi korban juga suku Batak, jiwa su*kuisme nya muncul secara naluriah.
"Sudah larut malam, sebaiknya kau beristirahat kalau memang besok penerbanganmu pagi-pagi sekali, mungkin juga istrimu sudah menunggumu di kamar," ucapan Pak Hotman mempersilakan menantunya itu naik ke kamar.
Selama menaiki anak tangga Sea sudah menebak kalau Dean pasti sudah tertidur. Gadis itu begitu antusias untuk pulang ke Medan. Walaupun sudah tidak marah lagi kepada Sea, Dean masih terlihat menjaga jarak dengannya.
Gadis itu memang sudah berbaring di atas ranjang mereka, tapi belum tertidur, masih asik berkutat dengan ponselnya. Lalu saat melihat Sea masuk ke dalam kamar, Dean spontan mendudukkan dirinya, melempar dengan kasar ponselnya ke samping tubuhnya dan menatap Sea dengan tajam.
"Ada apa?" tanya Sea mengerutkan kening. Apa dia melakukan kesalahan lagi?
"Ferdi gak mau mengangkat teleponku! Dia lagi di mana sih? Padahal aku udah kirim pesan, kalau hari ini aku sampai tapi, sampai sekarang dia juga belum balas pesanku," jawab Dean dengan kesal.
Kali ini Sea tidak hanya mengurutkan kening, tapi menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Kalau kekasih gadis itu yang tidak mau mengangkat teleponnya, lantas mengapa Sea yang harus dipelototin seperti itu seolah dia kembali melakukan kesalahan.
"Sabar aja, mungkin dia sedang ada kerjaan," jawab Sea mengunci pintu kamar lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan juga menyikat gigi sebelum tidur.
__ADS_1
"Sibuk apa? Dia itu pengangguran, mana mungkin dia sibuk! Dia kan baru aja lulus kuliah," sambar Dean yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar mandi memperhatikan Sea yang sedang menyikat giginya.
Sea memejamkan mata mencoba menarik napas agar bisa lebih menekan rasa sakit di dadanya. Dia harus bersabar menghadapi Dean. Dia sudah berjanji tidak akan bersikap kasar dan menyakiti perasaan gadis itu melalui perkataan atau perbuatannya.
Dibersihkan mulutnya dan juga sikat gigi yang dia pakai, lalu menyimpan kembali pada tempatnya. Setelahnya mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil yang tergantung di kamar mandi.
"Atau mungkin dia sedang ada acara jadi tidak selalu memperhatikan handphone, sehingga tidak tahu kalau pesan dan panggilan darimu masuk ke ponselnya." Kembali Sea mencoba menenangkan gadis itu.
Ingin sekali rasanya Sea berlari keluar dari rumah itu, lalu mencari pria yang bernama Ferdi, memukulnya dua kali tepat di wajah dan perutnya untuk melampiaskan rasa kesalnya. Mengapa dia yang harus jadi bulan bulanan amarah Dean jelas-jelas mereka yang berpacaran.
"Kau mau apa?".hardik Dean ketika melihat Sea sudah berbaring di ranjang dan menyelimuti tubuhnya.
"Aku mau tidur, di besok aku pulang, jadi istirahat, capek banget, De," jawab Sea masih dengan nada yang dipertahankannya dengan begitu lembut.
Kesabaran pria itu benar-benar diuji tapi lagi-lagi dia melihat wajah sendu Dean yang meluluhkan hatinya.
"Jadi kau mau apa? Kita harus ngapain sekarang?" tanya Sea dengan memijat pelipisnya. Dia belum pernah lelah seperti ini. Lelahnya pikiran membuat tubuhnya berharap bisa untuk beristirahat.
"Kita pergi cari dia!"
"Hah? Nggak salah? Kau mau cari pria itu malam-malam kayak gini? Dean, masih ada hari esok. Gak harus kau jumpai dia malam ini kan? Ayolah kita istirahat aja, tidur. Besok setelah kau seger bisa memikirkan langkah selanjutnya untuk mencari keberadaannya," terang Sea.
Namun, Dean tidak mau menurut. Dia bersikeras ingin menemui Ferdi malam itu juga. Kalau belum bertemu, dia tidak akan membiarkan Sea tidur malam ini.
__ADS_1
Tidak punya pilihan lain, Sea dengan berat hati menuruti permintaan Dean. Mereka turun dan meminta izin kepada Pak Hotman untuk meminjam motor dengan alasan ingin mencari udara segar.
"Tapi ini udah malam, nggak sebaiknya besok pagi saja kalian pergi kalau pun ada yang mau dicari?" ucap Pak Hotman melirik ke arah putrinya.
"Sekalian mau beli sate, Pak. Aku lapar sambar," Dean mencari alibi agar mereka tidak perlu diintrogasi lagi ketika ingin pergi.
"Akhirnya keduanya menyusuri jalanan komplek di tengah malam. Masih ada beberapa pemuda yang main gitar di depan pos kamling yang mereka lewati menuju gang rumah Ferdi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, ketika mereka hampir tiba di depan rumah pria itu, Ferdi baru sampai dan ternyata lagi-lagi seperti dulu, dia bermain futsal sehingga tidak melihat ponselnya.
"Dean.. kau?" ucapnya kaget, terlebih saat ini kedatangan Dean bersama suaminya. Sempat ada risau di hati Ferdi beranggapan bahwa kedatangan mereka ingin mencari ribut dengannya. Bisa saja Sea tidak terima kalau Ferdi masih berhubungan dengan dirinya di belakang pria itu.
"Kau ke mana aja, aku teleponin nggak kau angkat. Aku perlu bicara denganmu!" jawab Dean, tapi lirikan Ferdi arah Sea, seolah menjelaskan maksudnya.
"Aku akan menunggumu di simpang itu, cepatlah! Aku beri kalian waktu 15 menit untuk bicara, lebih dari situ aku akan pulang dan mengatakan kepada Bapak dan Mama di mana keberadaanmu saat ini," jawab Sea menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan keduanya dengan perasaan hancur.
*
*
*
Yuk mampir
__ADS_1