
"Wadidauuo... besar kali cincin pertunanganmu, De? calon suamimu orang kaya ya?" tanya Rini mulai kepo. dari situ lagi terbuka melihat cincin pertunangan Dean yang begitu indah melingkar di jari manisnya
Cincin itu diberikan namboru Uli sebagai pengikat dirinya menjadi calon parumaen (menantu) nya. ini jugalah yang memilih bentuk dan juga modelnya.
Dean benar-benar tidak mood untuk menanggapi ucapan Rini, dia menarik kembali tangannya dari genggaman wanita itu yang sejak tadi menggosok cincin yang dia kenakan.
Seandainya'lah temannya tahu bahwa dia sendiri tidak ingin memakai cincin itu. Namun, mengingat Namboru Uli memberikan cincin itu dan ketika Sea memasangkan di jari manisnya, wanita itu menangis haru dan berharap bahwa cincin itu selamanya akan melekat di jari manis Dean.
"Udah dong ngebahas masalah cincin. Aku butuh saran nih dari kalian. Kayak mana bilangkannya sama Ferdi tentang masalah ini woi? Aku nggak mau loh, dia tahu dari orang lain," tukas Dean yang masih bimbang antara jujur atau menyimpan rahasia ini dari kekasihnya.
Setelah perjanjiannya dengan Sean kemarin, pria itu tidak melarangnya tetap berhubungan dengan Ferdi, begitupun dengan dirinya yang tidak peduli kalau di luar sana Sea berkencan dengan wanita lain.
Namun, di tengah kebimbangannya, sosok pria yang menjadi tambatan hatinya itu datang ke arah mereka. Sejak tadi Dean dan ketiga temannya memang menemani Ferdi dan teman-temannya bermain basket di lapangan fakultas olahraga.
"Makasih ya, Sayang udah nungguin aku main," ucap Ferdi menerima minuman yang disodorkan oleh Dean. Walau baru pertama kali ini pacaran, Dean tahu apa yang harus dilakukan agar membuat pasangannya merasa dicintai dan sebisa mungkin dia memberikan perhatian kepada Ferdi.
"Iya sama-sama. Kau udah selesai mainnya?" tanya Dean melihat pria itu membuka sepatu olahraganya, lalu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan kekasihnya itu.
__ADS_1
Karena Rini, Astri dan Juli memang sedang mengincar teman Ferdi, maka ketiganya memilih untuk tetap tinggal di sana kala Dean mengajak mereka untuk ikut bersama mereka jalan ke mall, rencananya mereka akan nonton sore ini.
"Kalian aja yang pergi ya, kami di sini aja. Lagian kami nggak mau'lah jadi obat nyamuk kalian pacaran" ujar Rini yang diangguk kedua sahabatnya yang lain.
"Kita jadi nonton?" tanya Ferdi saat motornya sudah melaju membelah jalanan. Dia yang kini tidak canggung lagi memeluk pinggang pria itu dari belakang, tangan Ferdi akan mengusap-usap dengkul kakinya dengan satu tangan memegang stang motor, menikmati udara sore itu yang membelai wajah mereka.
Begitu damai dan sederhana. Dean menikmati gaya pacaran mereka, dia beruntung sebagai seorang pemula yang baru saja mengenal cinta dipertemukan dengan seorang pria yang sopan dan juga baik hati. Menimbang gaya pacaran anak zaman sekarang yang terlalu kebablasan, Ferdi justru menjaga jarak dan perilakunya agar tidak berlebihan dengan Dean.
Saat mereka jalan Ferdi hanya menggenggam tangannya, paling jauh ketika pria itu mengantarnya pulang, Ferdi akan mengecup kening Dean, itu pun harus jauh dari rumahnya. Ferdi akan mengantar sampai di ujung gang rumah Dean, agar tidak ketahuan oleh kedua orang tuanya.
Bapaknya yang seorang guru, tentu saja dikenal banyak orang di komplek perumahan itu. Jadi, jika salah bertindak dan bersikap tentu saja nama orang tuanya akan tercoreng. Sebagai seorang pendidik, ayahnya harus bisa mendidik putrinya sebagai cerminan dari akhlak seorang guru.
Ferdi membelokkan motornya memasuki taman kota yang begitu indah dan luas. Sore itu tidak banyak masyarakat sekitar yang singgah ke taman jadi membuat mereka leluasa untuk memilih tempat agar bisa mengobrol dengan nyaman.
"Belakangan ini aku lihat wajahmu cemberut terus, apa ada? Apa ada masalah? Cerita dong, Sayang siapa tahu aku bisa bantu," ucap Ferdi membelai lembut punggung tangan Dean, meletakkannya di atas pahanya dan mulai menyatukan ujung jari Dean dengan jarinya, hal sederhana yang selalu bisa membuat hati Dean menghangat. Dia menatap wajah pria itu, tidak terlukiskan betapa besarnya rasa sayang yang dia punya untuk Ferdi.
"Kenapa sih, kau bukan suku Batak aja? Aku benar-benar enggak sanggup berpisah dengan kau, Fer," batinnya sembari memandang pria itu.
__ADS_1
Ferdi yang ditatap begitu intens justru mengerutkan kening tidak mengerti arti tatapan Dean yang penuh dengan kesedihan.
"Kamu jangan diam aja, aku mana tahu kamu ada masalah apa, kalau kamu nggak cerita, justru aku yang terbebani, aku bertanya-tanya apa mungkin aku punya kesalahan hingga, membuat kamu sedih. Kalau aku ada salah kamu ngomong ya. Kita'kan udah janji, untuk selalu terbuka apapun masalah yang kita hadapi, kita akan bersama-sama.
Mengingat janji mereka itulah Dean akhirnya berinisiatif untuk memilih jujur kepada Ferdi. Dia yakin kedewasaan yang ada pada diri pria itu mampu membuatnya mengerti posisi Dean saat ini. Dia juga sudah siap jika pria itu marah kepadanya tapi hanya satu yang dia mohon dalam hati kecilnya, jangan sampai Ferdi meninggalkannya karena mengetahui masalah perjodohan ini.
"Aku mau mengatakan sesuatu yang penting samamu, Fer. Kau lihat cincin ini?" ucapnya menunjukkan jemarinya yang diikat cincin berlian putih.
"Te-rus? Apa maksudnya?" tanya Ferdi terbata, dia semakin bingung.
"Bapak, Mamak menjodohkanku dengan paribanku!"
Wajah Ferdi mulai berubah, dia terkejut. Sama sekali tidak menduga kalau masalah yang selama ini disimpan Dean bisa seberat ini. "Kamu dengar dulu," lanjut Dean yang melihat Ferdi ingin angkat bicara.
"Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Aku sudah berusaha menolak, Fer tapi kau tahu sendiri bapakku orangnya keras. Dengan alasan menjunjung tinggi adat istiadat, orang tuaku menjodohkanku dengan paribanku dan aku gak bisa mengelak."
"Pariban?" tanya Ferdi tidak mengerti.
__ADS_1
"Anak dari adik bapakku. Dia itu sepupu, dan dalam adat Batak sah bagi kami untuk menikah dengan sepupu terlebih kalau sudah diminta oleh kedua orang tua kami," terang Dean merasa bersalah.
"Terus kamu mau kita putus? Bagaimana nasib hubungan kita ini?" tanya Ferdi mulai kalut. Pria itu bahkan memutar tubuhnya agar sedikit menjauh, memunggungi Dean, keduanya diam untuk sesaat hanya terdengar hembusan angin dan juga suara bebek yang sedang berenang di danau buatan di taman itu. Ferdi meremas rambutnya, menjambak pelan, melukiskan kekesalan yang dia rasakan saat ini. Dia sangat mencintai Dean, dia tidak ingin berpisah. Perbedaan suku diantara mereka bukanlah masalah untuk Ferdi dan keluarganya. Ibu Ferdi tahu kalau putranya pacaran dengan suku Batak dan itu tidak masalah bagi ibunya. Lantas, mengapa jadi masalah bagi keluarga Dean?