
Selama ini Dian merasa selalu menjadi anak yang menurut terhadap kedua orang tuanya. Apapun yang diperintah oleh kedua orang tuanya terlebih ayahnya selalu dia ikuti. Namun, untuk kali ini, walaupun Mak Tiur menyarankan agar Ferry tidak usah jadi datang mengapel keesokan harinya, tapi Dean bersikeras untuk tetap membiarkan pria itu datang dengan cara tidak mengabari Ferdi tentang larangan datang ke rumah.
Dean ingin bertarung dengan orang tuanya, menunjukkan keseriusan hubungannya dengan Ferdi, kalaupun nanti ayahnya menegur pria itu ketika datang maka dia siap membela. Tapi mengingat sikap bijak ayahnya, Dean yakin kalau saat di hadapan Ferdi, ayahnya tidak akan mengatakan hal apapun paling juga akan menegurnya setelah Ferdi pulang nanti.
Sabtu pagi kedua orang tuanya sudah tampak terlihat rapi. Ayahnya memakai kemeja yang senada dengan ibunya yang memakai kebaya berwarna pink fanta. Kalau sudah terlihat rapi begitu pada hari weekend seperti ini, keduanya pasti berencana untuk menghadiri pesta undangan, baik itu pernikahan ataupun pesta adat Batak lainnya.
"Mak, jangan lupa nanti bawa nasi dari pesta ya," ucap Sian yang sejak tadi tidak lepas melototi monitor televisi.
"Kau ini nggak berubah loh. Nggak malu kau menyuruh mamakmu membungkus nasi dari pesta, kalau dilihat orang apalah tanggapan mereka? Mama si Sian itu nggak tahu malu, udah'lah makan di pesta, membungkus pula! Padahal tuppak (Amplop berisi uang yang punya hajatan) pun tak seberapa. Kalau kata orang kayak gitu cemana? Gak malu kau?" sambar Dean menyentil adiknya yang selalu berpesan hal yang sama setiap kali Mak Tiur pergi ke pesta.
Sudah jadi rahasia alam bahwa nasi dari pesta yang dibawa mamak pasti lebih enak dari nasi yang ada di rumah, nggak tahu kenapa alasannya tapi itulah yang terjadi dan entah mengapa budaya membungkus makanan dari pesta masih terpelihara di kalangan suku Batak, terlebih yang ada di pedesaan.
"Ish, sukaku'lah Kak, kan aku yang pesan, kok Kakak pula yang repot mama aja pun nggak marah ya, kan Mak? Jangan lupa nanti bawa sama lauknya juga ya Mak."
"Bukan marah udah muak Mama itu melihat kebiasaanmu. Padahal kau udah SMA, nggak malu kau kayak gitu? Kayak anak kecil aja!"
"Sudahlah jangan ribut kalian berdua. Kalian ini kayak anjing dan kucing saja, tak bisa akur. Padahal duanya kalian anak perempuan mamak, dua seperti kaki ayam, harusnya selalu bersama kemanapun melangkah," wejang Mak Tiur melerai perdebatan kedua putrinya.
"Kok perumpamaannya kayak kaki ayam, Mak? Kaki ayam suka pijak eek loh," sambar Sian tidak terima.
__ADS_1
"Sudah'lah, Mak. Ayo kita berangkat, nanti terlambat. Belum lagi macet di jalan. Teringatnya di gedung mana pesta itu rupanya? Jangan lupa kau bawa undangan, nanti kesasar lagi kita nyari-nyari alamat," potong Pak Hotman yang sudah dari tadi sibuk mencari kacamatanya yang tidak tampak.
"Cari apa, Pak?" tanya Dean yang sejak tadi melihat bapaknya yang bingung bongkar laci meja.
"Cari kaca mata. Teringatnya ada kalian lihat kacamata bapak di mana, kok nggak dapat Bapak cari dari tadi?"
Sontak ketiganya tertawa terbahak melihat ke arah Pak Hotman, tapi wajah pria itu justru kesal, tidak mengerti apa yang ditertawakan oleh istri dan kedua putrinya. "Kenapa kalian? Yang sakitnya kalian ini? Ditanya malah ketawa?" cibirnya.
"Kek mana nggak ketawa kami, Bapak cari kacamata, sementara kacamata Bapak pun ada di atas kepala," jawab Sian yang akhirnya membuat Pak Hotman ikut tertawa terbahak-bahak.
"Maklum sajalah kalian, Bapak sudah tua," ujarnya disela tawanya. Keempatnya masih tidak lepas dari rasa geli hingga tawa mereka menggema.
Kalau orang tuanya sampai tahu bahwa dia berencana untuk memutuskan perjodohan dengan Sea dan akan mati-matian mempertahankan Ferdi, niscaya Pak Hotman akan begitu kecewa kepadanya dan tidak akan pernah dia rasakan lagi bagaimana bahagianya tertawa bersama keluarganya ini.
***
Begitu kedua orang tuanya pergi Dean pun segera mengganti pakaian dan sedikit merias wajahnya untuk menyambut kedatangan Ferdi. Dengan alasan sudah sangat rindu, Dean meminta Ferdi untuk datang lebih awal.
"Cantik kali kau Kak, mau ke mana?" tanya Sian yang sudah masuk ke dalam kamar Dean, melemparkan tubuhnya ke atas ranjang kakaknya dan memperhatikan anak sulung di keluarga itu sedang merias wajahnya.
__ADS_1
"Di rumah aja, Ferdi mau datang."
"Ih berani kali kau Kak, bisa-bisanya kau suruh bang Ferdi datang, sementara kau udah jadi calon istri orang lain. Mau pasang dua kau, Kak? Wuih, player juga kau ya?" sambut Sian setelah mendengar penjelasan kakaknya.
Dean menghentikan tangan yang saat itu sedang merias wajahnya, menatap adiknya melalui pantulan cermin yang ada di hadapannya. Sesaat dia berpikir untuk mengambil hati adiknya karena kelak saat dia melakukan orasi dalam menolak perjodohan itu dia membutuhkan dukungan sian.
"Sian, kau sayang enggak sama aku?" tanyanya duduk di tepi ranjang menatap wajah Sian dengan wajah memelas yang berhasil dia pasang.
"Kok jadi curiga aku, pasti ada maumu, kan? Tumben-tumbenan kau bilang kayak gini," sambar Sian yang mengenal betul karakter kakaknya.
"Aku percaya samamu, Sian. Jadi aku mau curhat, lagi pula sudah nasibku, karena hanya memiliki satu orang adik perempuan. Seandainya aku punya satu lagi adik perempuan, nggak mungkin kau yang ku ajak cerita karena tahunya aku, kalau kau nggak bisa diajak kerjasama. Tapi untuk kali ini tolonglah aku," terang Dean menyatukan telapak tangannya di dada.
"Apa sih kak? Jadi nggak tenang aku kayak gini kau buat!" seru Sian bergidik ngeri.
"Ini rahasia kita berdua aja ya, jangan sampai mama sama bapak tahu, kalau sampai mereka tahu selamanya nggak akan ku anggap lagi kau adikku! Kita putus hubungan!" ancam Dean yang masih ragu untuk terbuka atau tidak kepada adiknya itu. Namun, sepertinya dia tidak punya pilihan lain. Jadi, dia memutuskan untuk bercerita kepada Sian.
"Sebenarnya aku dan Sea sudah berencana untuk menolak perjodohan ini, tapi karena melihat keadaan Namboru Uli yang sedang kurang sehat, jadi kami memutuskan untuk menerima pertunangan sembari mengulur waktu mencari cara agar kami bisa membatalkan perjodohan ini. Makanya Sea tahu kalau aku sama Ferdi masih pacaran. Sea juga punya pacar di Jakarta sana. Kami sudah sepakat kalau waktunya tiba, kami akan membicarakan kepada keluarga agar membatalkan pernikahan dan mengizinkan kami menikahi pasangan kami masing-masing," terang Dean yang tetap menatap tajam mata adiknya, dia tidak membiarkan Sian punya waktu untuk mencari celah menghindari tatapannya.
"Serius Kak? Jadi kalian pura-pura menyetujui perjodohan ini?"
__ADS_1
Dean hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Sian. Tampak wajah adiknya itu berubah tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar. Sian pikir selama ini kakaknya dan pariban mereka itu sudah ikhlas untuk menikah, tapi ternyata mereka hanya mengeprank keluarga mereka.