Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Fitting Gaun


__ADS_3

Semua keluarga Pak Hotman diajak untuk berbelanja oleh Namboru Uli, memilih pakaian untuk hari pernikahan Dean dan juga Sea yang akan digelar minggu depan.


Kesepakatan sudah ditentukan, bahwa Dean setuju untuk menikah dengan Sea, dengan catatan dia harus menyelesaikan kuliahnya. Tidak boleh dilarang untuk melanjutkan kuliah hingga selesai menjadi seorang dokter.


Tentu saja hal itu didukung oleh Namboru Uli. Dia justru bangga memiliki menantu seorang dokter. Tapi ternyata maksud Namboru Uli adalah Dean pindah kampus, melanjutkan kuliahnya di Jakarta agar tetap bisa tinggal bersama dengan Sea.


Sontak hal itu tentu saja langsung ditolak mentah-mentah oleh Dean, mana mungkin dia mau pindah kuliah, dia sudah beradaptasi dengan teman-temannya, bahkan kampusnya juga kampus favorit yang tidak gampang untuk dimasuki.


"Aku akan tetap di Medan sampai selesai kuliahku, Namboru," ucap Dean ketika makan malam bersama usai digelar.


"Jangan dong, Dean. Tante udah urus, kau pindah saja kuliah ke Jakarta," jawab adik bapaknya itu tetap ngotot.


"Kalau begitu, batalkan saja pernikahan ini. Lebih baik aku pergi dari rumah ini, biarlah namaku dicoret dari kartu keluarga," ancamnya yang sudah kalut akan amarah.


Tidak ada lagi yang dipikirkan gadis itu, saat ini amarah lebih mengambil alih akal sehatnya. Dia sudah benar-benar berpisah dengan Ferdi. Bukankah katanya, seseorang yang sedang patah hati dan kecewa memiliki keberanian layaknya singa?


Akhirnya setelah berembuk antara keluarga, mereka mengabulkan permintaan Dean. Dia akan tetap kuliah di Medan walaupun suaminya ada di Jakarta. Tidak tinggal bersama merupakan keinginan keduanya.


Hal itu tentu saja disambut gembira oleh Sea, dia mendukung rencana Dean yang ingin pisah ranjang untuk sementara waktu demi menyelesaikan kuliahnya.

__ADS_1


***


"Nggak nyangka aku, bentar lagi kalau jadi istri orang. Padahal baru kemarin kita main, mandi di sungai bersama'kan?" ucap Rini yang kaget, ketika Dean menyerahkan undangan pernikahannya kepada ketiga sahabatnya itu.


Dia tidak berniat untuk menanggapi candaan temannya. Hati Dean begitu suram, semendung langit saat ini.


Saat di kantin, dia tadi bertemu dengan Ferdi, pria itu berusaha untuk mengajaknya bicara tapi Dean segera memutus kontak dengan meninggalkan tempat itu, membatalkan niatnya untuk makan siang di sana.


"Jadi Ferdi gimana?" sambar Juli yang ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Ya pisah'lah, kek (gimana) lagi? Orang dia mau kawin pun," jawab Astrid yang sejak tadi menyimak dengan serius.


"Udah deh daripada kau cemberut aja, lebih baik kita jalan-jalan ke mall. Ada film baru yang bagus, ayok kak woi," ajak Astri yang setelah membujuk Dean, akhirnya gadis itu setuju.


Dia membenci sikap Ferdi yang pengecut, yang tidak mementingkan dirinya dan tidak mau memperjuangkan cinta mereka hanya dengan alasan dia memikirkan perasaan keluarganya.


Lantas, apa dia pikir dengan Dean memilih mengajaknya kabur karena gadis itu tidak memikirkan perasaan keluarganya? Semua ada harganya! Dia rela mengorbankan perasaan keluarganya, asal dia bisa bersama dengan Ferdi. Nyatanya pria itu tidak setangguh Dean.


Keempatnya menaiki angkot menuju tujuan mereka. Jalanan siang itu begitu macet karena memang jam makan siang dan juga jam pulang anak sekolah. Banyak angkot yang berhenti dengan seenaknya demi mengangkut sewa yang berdiri di pinggir jalan.

__ADS_1


Hal yang paling membuat kesal adalah banyaknya sopir angkot yang dengan seenaknya berhenti di pinggir jalan, memaksa orang yang sedang menunggu angkot dengan nomor yang lain untuk naik ke angkotnya, yang nyata-nyata berbeda jurusan.


"Minggir, Bang," ucap Rini dengan suara lantang. Jangan heran, di kota itu begitu lah cara penumpang menghentikan laju angkot.


"Di depan sikit dek, ada polisi, kena tilang pulak nanti Abang, gak kemana limpul (Lima puluh ribu)," jawab sopir angkot dengan logat bataknya.


"Suka ati (Hati) Abang lah," jawab Rini kemudian. Sedangkan Astri sejak tadi sibuk memandangi seorang pria yang juga menjadi penumpang di dalam angkot itu. Dari warna almamater yang dia pakai, mahasiswa itu kuliah di kampus negeri yang lainnya.


Angkot pun berhenti, keempatnya turun, dan Juli yang menjadi bendahara, perwakilan membayar ongkos mereka.


"Dek, mau kemana kalian, sini lah sama abang," goda seorang pria paruh baya yang memang biasa berkeliaran di sekitaran kawasan mall itu untuk mencari mangsa.


"Apa sih, Kek, pulang lah, udah bangkotan pun," sambar Rini yang paling berani diantara mereka kalau urusan meladeni orang-orang yang gak jelas seperti itu.


"Kakek kau bilang? Matamu lah kakek! Enak kali kau panggil aku kakek, kapan pula aku kawin sama nenekmu!" balas pria itu marah, tidak terima dia dianggap sangat tua.


Mendengar hal itu keempatnya sontak tertawa bersama terbahak-bahak hingga sampai ke dalam kawasan mall lantai satu.


"Yakin aku, Om itu tadi nyari mangsa itu, abg-abg anak SMP, SMA yang mau dibayar cuman limpul aja," ucap Astri.

__ADS_1


Tidak bisa disangkal, memang banyak ditemui di seputaran jantung kota itu hal prostitusi seperti itu.


Banyak yang terjerat, tapi tidak sedikit juga yang mampu bertahan. Kebanyakan anak-anak muda sekarang ini jatuh ke lembah hitam hanya karena silau dengan barang-barang branded dan pergaulan kekinian yang mengatakan kampungan pada seseorang yang tidak mengikuti trend gila itu.


__ADS_2