
Seperti biasa Dean selalu bersemangat untuk menghadiri makan malam di rumah itu, selain menunya yang sangat berbeda dengan yang biasa dia makan di rumahnya, dia juga senang berbincang dengan Uli dan juga Rudolf.
Banyak jenis makanan yang mereka nikmati, dari makanan pembuka hingga penutup. Setidaknya Dean menjadi punya pengalaman table manner, walau tak bisa dipungkiri bahwa makanan Indonesia jauh lebih enak dari makanan barat yang hanya ada stik, kentang yang dilumatkan, ataupun kentang goreng, sop dan beberapa salad buah dan sayur, jadi wajar kalau Dean sering merasa kelaparan tengah malam.
Sea cepat belajar, dia tahu kebiasaan gadis itu hingga sudah menyiapkan banyak cemilan di kamar mereka. Jadi, kapanpun dia merasa lapar bisa mengambil makanan itu untuk mengganjal perutnya.
"Sea bilang kalian mau pulang minggu depan, apa benar?" tanya Uli merangkul pundak Dean. Keempatnya pindah dari ruang makan menuju ruang keluarga setelah makan malam usai, ingin ngobrol santai sebelum beristirahat.
"Iya Namboru, aku udah rindu sama bapak dan mamak, lagi pula aku nggak bisa lama-lama libur nanti dosenku marah aku dikasih nilai E. Lagian'kan tujuan kami ke sini mau nengok Namboru, dan sekarang namboru udah sehat, jadi kami udah boleh pulang ya?" pinta Dean menggenggam tangan wanita berumur 48 tahun itu.
Uli sebenarnya tidak rela melepas kepulangan mereka, tapi alasan Dean masuk akal. Dia tidak mungkin membiarkan kuliah Dean hancur hanya karena mengikuti keinginannya untuk tetap tinggal bersama menantunya itu.
"Baiklah kalau kayak gitu, Namboru setuju kalian pulang tapi ingat nanti kalau Namboru datang ke Jakarta, kalian harus udah tinggal bersama. Kau juga Dean, uruslah surat pindah, kuliah di Jakarta aja. Banyak kampus bagus di sana, nanti Namboru suruh Sea untuk mengurusnya. Kau mau'kan?" ucap Uli memohon kepada menantunya itu. Menurutnya jarak mereka berdua yang berjauhan akan mempersulit keduanya segera memiliki momongan.
"Tapi... Tapi Namboru...."
"Namboru mohon kau jangan menolak, ini semua demi rumah tangga kalian," pinta Uli, berubah wajahnya menjadi sedih.
"Udah lah, Ma. Jangan gitu, yang jadi bingung kan potong Rudolf yang tidak ingin menyudutkan menantunya. Dia tahu kalau perjodohan ini tidaklah sesuai dengan keinginan Dean. Istrinya pernah bercerita mengenai hal itu, lagi pula dia juga bisa melihat dari mimik wajah gadis itu yang tampak sedikit tertekan.
__ADS_1
Pembelaan Rudolf justru membuat dia tidak merasa enak hati. Dia seolah tidak menghargai kebaikan kedua mertuanya.
Dean ingat dia pernah berjanji, kalau Tuhan mengabulkan permohonan dengan menyembuhkan namboru Uli, dia akan mengabulkan apapun permintaan wanita itu. Janji itu memang tidak ada yang tahu selain dirinya dan Tuhan, tapi sekarang kembali ke nuraninya apakah dia berani untuk membohongi dirinya.
"Aku akan memikirkannya, Namboru." Akhirnya dia hanya bisa mengatakan hal itu. Kenyataannya memang tidak bisa memutuskan saat ini apakah menyetujui pindah kuliah di Jakarta atau tidak.
Kalau masalah persoalan tinggal bersama, Dean juga sudah pernah tinggal dengan Sea selama 2 minggu, tidak ada yang terjadi antara mereka begitupun saat ini. Dia bisa mempercayai pria itu. Hal yang memberatkannya untuk pindah kuliah semata-mata hanya karena tidak bisa jauh dari Ferdi.
Sea yang tadinya gabung bersama mereka mendapat telepon dan akhirnya pamit untuk menyelesaikan pembicaraannya dengan asistennya, lalu kini sudah kembali lagi bergabung dengan mereka.
Rudolf memutuskan untuk minum bersama menghabiskan malam ini dengan berbincang karena mungkin ini malam terakhir mereka bisa ngobrol santai.
Obrolan berlanjut hingga malam larut. Asyik ngobrol, Sea tidak menyadari kalau Dean sudah mabuk, walau sedikit minum wine yang disodorkan oleh Rudolf, mungkin juga karena tidak biasa, gadis itu tampak oleng.
"Sudah, jangan minum lagi De, tampaknya kau gak biasa minum," ujar Uli yang hanya menyesap minuman itu sesekali, karena kesehatannya memang tidak baik saat ini.
Gadis itu hanya diam dengan pipi memerah. Kepalang memang terasa sangat berat dan ada rasa panas di dadanya.
"Sea, bawa istri mu ke kamar," ujar Rudolf yang mengamati diam nya Dean memang karena sudah mabuk, tapi tidak ngoceh seperti orang mabuk pada umumnya.
__ADS_1
"De..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dean sudah menjatuhkan tubuhnya di pundak Sea, dan tidak sadarkan diri lagi.
Apa bridal, Sea mengangkat istrinya ke kamar mereka dan segera merebahkan tubuh Dean di sana lalu menyelimutinya.
Sea juga sudah lelah dan ingin beristirahat, besok mereka harus bertolak ke Indonesia, jadi butuh istirahat yang cukup. Sea ikut membaringkan tubuhnya di sisi Dean, dan tidak lama keduanya tertidur.
Namun, ternyata pengaruh obat itu membuat Dean terbangun. Rasa panas dari dalam tubuhnya memaksa matanya terbuka, lalu merasa ke samping, dan mendapati Sea berbaring di sana.
Tanpa malu dan entah apa yang merasuki dirinya, Dean sudah naik dan duduk di tubuh, Sea, memukul pelan kedua pipinya, lalu setelah mata Sea terbuka, Dean menjatuhkan dirinya guna menyatukan bibir mereka.
*
*
*
Mampir yuk
__ADS_1