Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Tak Bisa Dihindari


__ADS_3

Keadaan Uli sebenarnya sudah mulai membaik, bahkan wanita itu sudah beberapa kali melakukan kegiatan bertaman, menanam bunga dan merawat tanaman bersama dengan Dean di kebun pribadi miliknya.


Jadi, Dean berpikir sudah saatnya mereka pulang kembali ke Indonesia. Banyak hal yang harus dikerjakannya. Ferdi juga sudah beberapa kali menghubunginya menanyakan perihal kepulangannya, katanya pria itu rindu!


Hal yang begitu sulit dijawab oleh Dean, kalau pria itu menanyakan apakah dirinya merindukan pria itu atau tidak, dan saat itu Dean memilih untuk menjadi gadis munafik, mengatakan bahwa dia memang merindukan pria itu nyatanya, tentu saja tidak seperti itu. Setiap hari dia pergi bermain dengan Sea, membawanya berkeliling ke tempat-tempat yang indah yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.


"Kau melamun?" Suara Sea yang datang dari arah belakang tubuhnya mengagetkan Dean. Dia menoleh dan mendapati Sea mendekat dengar senyum hingga membuat wajahnya semakin tampannya.


Dian membalas dengan senyuman dan menerima burger serta soft drink yang diberikan Sea kepadanya. Kali ini mereka pergi ke pesisir pantai tempat anak-anak muda di Hollywood berkumpul dan bermain.


"Kapan kita pulang? Aku lihat Namboru Uli udah makin membaik, kita pulang ya? Aku udah rindu sama mama dan bapak, juga Sian dan Rade," ujarnya penuh semangat.


"Kau rindu mereka atau rindu pria itu?" delik Sea.


Kalimat Sea terdengar tidak senang. Kalau mereka adalah pasangan kekasih mungkin bisa dibilang kalimat Sea seperti orang yang sedang cemburu.


Pada kenyataannya memang dia cemburu. Dia bahkan sempat berpikir untuk mengajak Dean untuk tinggal saja di kampung halamannya ini, tidak usah kembali lagi ke Jakarta. Bukannya seorang istri harus menurut apa kata suami?

__ADS_1


Namun, sekali lagi Sea tidak ingin memaksa siapapun untuk berada di sisinya. Kalau memang gadis itu tidak suka padanya dan tidak ingin bersamanya maka Sea pun tidak ingin memaksa.


"Kok ngomong gitu sih? Aku benar-benar rindu sama keluargaku! Lagian udah dua minggu kita di sini, aku juga harus kuliah, kan? Nanti kalau kelamaan libur, terus dikasih nilai 'E', kau mau tanggung jawab?" cerocos Dean kesal.


Kadang Dean tidak mengerti mengapa sikap Sea sering berubah-ubah, kadang sangat lembut, tapi kadang bisa berubah menjadi sangat menyebalkan, terlebih ketika dia mendapati Dean sedang bertelepon dengan Ferdi.


Kalau sudah berdebat begitu, Dean pasti ngambek, tinggal'lah Sea yang kelimpungan mencari cara membujuk gadis itu untuk mau bicara dengannya.


"Ya udah, aku minta maaf, aku salah," ujarnya menoleh menatap wajah Dean yang sudah buang muka.


Kelembutan suara Sea setiap bicara padanya kini menjadi alarm bagi Dean. Dia tidak bisa cuek dan mengabaikan permintaan maaf darinya.


Terlebih pada suku Batak, anak gadisnya sangat diharuskan untuk mengenakan pakaian sopan dan tertutup. Sea mengerti alasan Dean yang hanya menunduk tanpa berani mengedarkan pandangan. Banyak pasangan kekasih yang saling berciuman dan bermesraan di setiap mereka lewat.


Sebelum pulang, keduanya singgah di toko kue, membelikan beberapa buah untuk oleh-oleh untuk Namboru Uli.


"Terima kasih buat buah tangannya. Ini lah adab kita orang Indonesia, selalu mengingat orang yang ada di rumah," ucap Namboru Uli mencium pipi Dean.

__ADS_1


Dean pamit untuk mandi, karena sebentar lagi jam untuk makan malam. Walau sebenarnya dia belum lapar, tapi gadis itu memilih untuk ikut, selain karena menghormati tuan rumah, Dean juga yang kalau tengah malam nanti kelaparan.


Masih ada waktu sebelum makan malam, Dean memilih untuk menghubungi kedua orang tuanya. Mak Tiur yang pertama kali menjawab sambungan telepon.


"Kek mana di sana, Boru, masih betah?" tanya wanita itu. Ini adalah sambungan keempat selama dua Minggu di negeri orang.


"Baik, Mak. Mamak, Bapak sehat?"


"Sehat, Boru, kami lagi makan durian ini...."


Tidak cukup waktu saat berbincang dengan keluarga, apalagi jarak jauh begini. Setelah Mak Tiur, lanjut pada pak Hotman, lalu Sian dan terakhir Rade. Semua gembira, asyik bercerita, hingga Video call itu harus berakhir karena sudah satu jam lebih dan Dean harus turun untuk makan malam.


*


*


*

__ADS_1


Mampir yuk



__ADS_2