Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Baiknya Kita Bercerai


__ADS_3

Hari-hari mereka lalui dengan saling adu diam. Sepi dan sunyi. Keduanya melakukan aktivitas seperti biasa tanpa ada kata dan bicara.


Sampai suatu hari Sea mendatangi Dean yang saat itu sedang menulis di meja belajarnya.


"Ada apa?" tanya Dean menoleh ke arah pintu. Pria itu hanya berdiri di sana mengamati dirinya selama beberapa menit.


"Apakah kau punya waktu? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Sea dengan suara yang pelan seolah apa yang akan disampaikannya akan membuat dirinya tersiksa.


Dean maklum kalau saat ini perasaan Sea sangat tidak stabil. Kepergian ibunya belum genap satu bulan dan kesedihan serta rasa kehilangan pasti sangat membekas di hatinya.


Gadis itu bangkit dari duduknya, ingin menawarkan Sea masuk dan mungkin mereka bisa berbicara di kamarnya saja tapi pria itu sudah lebih dulu pergi hingga akhirnya Dean hanya mengikuti ke mana langkah pria itu.


Sea sudah duduk di ruang tamu. Tatapan sendunya membuat hati Dean ikut sedih. Seharusnya dia bisa menghibur pria itu, tapi sikap Sea yang menarik diri darinya membuat Dean tidak bisa apa-apa.


"Ada apa?" tanya Dean lembut. Kesedihan Sea juga membuatnya sedih. Dia ingin pria itu kembali jadi Sea yang dulu. Menyebalkan, suka mengganggunya tapi penuh perhatian.


Sekarang? Setiap Dean pulang lama, Sea tidak pernah menanyakan dia dari mana hanya membukakan pintu lalu berlalu.

__ADS_1


"Dean, aku sudah memikirkan semuanya. Aku akan mengabulkan keinginan mu. Sebaiknya kita bercerai!"


Seketika atap rumah itu terasa jatuh menimpa Dian Mengapa tiba-tiba saja saya mengajak bicara untuk membahas hal ini.


Rasa terkejutnya membuat mulutnya menganga matanya menatap Sea dengan melotot, masih tidak percaya perkataan pria itu.


"Bercerai? Tapi kenapa?" Dean masih belum kembali dari keterkejutannya.


"Bukan kah itu yang kau minta? Kita menikah karena permintaan mama, dan sekarang dia sudah tiada. Jadi kau sudah bebas. Aku tidak akan menahan mu lagi," ucap Sea dengan suara bergetar. Dia tidak akan menghalangi keinginan gadis itu yang ingin pergi darinya.


"Aku-"


Dean hanya bisa diam seribu bahasa. Sungguh keputusan Sea sangat mengejutkan. Sedikitpun tidak pernah terpikirkan oleh nya kalau pria itu akhirnya melepaskan dirinya.


Harusnya dia gembira karena ini yang diharapkannya, tapi pada kenyataannya, dia justru merasa sangat sedih. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Aku hanya ingin mengatakan hal itu. Besok aku akan segera mendaftarkan perceraian kita ke kantor agama," lanjut Sea yang semakin membuat Dean sedih.

__ADS_1


Hanya itu yang disampaikan pria itu, setelahnya dia bangkit dan pergi dari hadapan Dean. Meninggalkan gadis itu dalam kesedihan yang luar biasa


Ini sangat aneh. Harusnya Dean senang, kenapa dia justru merasa sangat sedih? Ada perasaan tidak rela.


***


Kabar mengenai perpisahan mereka sudah sampai ke telinga orang tua Dean. Sea secara langsung mendatangi mertuanya ke Medan untuk menjelaskan mengenai perpisahan mereka.


"Apa maksud mu? Kenapa kalian bercerai? lelucon apa ini?!" umpat pak Hotman yang seperti disambar petir mendengar perihal perceraian mereka.


"Aku minta maaf, Pak. Kami tidak sejalan lagi, dan memutuskan untuk berpisah saja," jawab Sea menunduk.


"Kek gitu ternyata sifatmu ya. Begitu mamak mu meninggal kau ceraikan anakku!" tiba-tiba saja Tiur datang dari arah dapur dengan amarahnya. Sejak jadi mencuri dengar perbincangan suami dan mantunya.


"Aku minta maaf, Mak," jawab Sea pelan. Dia pasrah apapun anggapan mertuanya pada dirinya. Dia hanya bisa menarik napas panjang dan melepaskan dengan berat, seolah itu menjadi perwujudan dari rasa sakit di dadanya. Dia rela dianggap jahat, asal Dean bahagia.


Hotman begitu kecewa pada Sea. Mantunya kebanggaannya itu berhasil merobek hatinya. Terlebih bagi suku Batak, perceraian sangat tabu dan memalukan.

__ADS_1


"Apa kalian tidak bisa mencoba mempertahankan pernikahan ini?" tanya Hotman dengan datar. Hatinya sakit membayangkan putrinya akan menjadi janda.


"Maaf, Pak. Tapi keputusan ku sudah bulat."


__ADS_2