
Diserbu pertanyaan oleh ke-tiga sahabatnya itu membuat Dean gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak menyangka kalau mereka melihatnya dari sini.
"Pria tengik itu paribanku, yang tempo hari aku ceritakan pada kalian!"jawabnya ketua. Tapi Dean sadar pertanyaan mereka tidak sampai di situ. Melihat penampilan Sea tentu saja mereka pasti penasaran.
"Cowok setampan itu dan kau menolaknya? yang bodoh lah kau, ku rasa, Dean! Kasih aku aja'lah, kalau kayak gitu kalau aku pun mau! Kalau paribanku seganteng itu, nggak pakai pikir dua kali aku, langsung ku kawani, eh aku nikahi maksudnya," jawab Rini siang paling heboh.
"Iya, sama aku juga," timpal Astri dan juga Juli bersamaan.
"Kalau kalian mau, ambil deh buat kalian. Aku juga nggak mau, sampai kapanpun cintaku cuman buat Ferdi, nggak ada pria lain yang bisa menggantikannya!" jawab Dean serius.
Ketiga temannya itu hanya bisa geleng-geleng melihat Dean yang masuk ke dalam ruang kelas, kembali kompak mengalihkan pandangan ke bawah namun, sosok Sea sudah tidak ada di sana. Mungkin benar, tipe pria yang disukai orang berbeda-beda.
Kalau menurut mereka Ferdi memang tampan, namun jika dibandingkan dengan Hasea, tentu saja sangat berbeda jauh. Benar kata orang, mungkin karena pria itu adalah hasil campuran Indonesia dengan orang luar negeri membuat pria itu begitu tampan dan memiliki aura yang sangat berbeda, bak model-model yang sering mereka lihat di media sosial.
Hasea sudah mengelilingi dua fakultas yang terdekat dari tempatnya tadi. Kampus itu memang sangat indah, tidak terlalu besar namun, tertata dengan sangat rapi. Fakultasnya juga cukup lengkap dan menurut tulangnya saat bercerita tadi malam bahwa kampus tempat Dean kuliah termasuk salah satu kampus favorit di kota Medan.
__ADS_1
"Maaf, bapak native speaker di jurusan bahasa asing ya, Pak?" tanya dua orang gadis yang melintas dan bertemu dengan Sea. Penampilan Sea memang seperti bule karena memiliki warna mata yang tidak dimiliki oleh orang Indonesia. Tingginya juga melebihi dari orang Indonesia pada umumnya.
"Bukan, saya hanya mengantar tunangan saya ke sini," ucapnya memutus komunikasi dengan kedua gadis itu, meninggalkan mereka dengan wajah terbengong dan sedikit kecewa.
Sea tentu saja sadar dengan apa yang dia katakan, bukan salah ngomong menyatakan bahwa dirinya mengantar tunangannya. Hal itu menjadi salah satu senjatanya untuk menghentikan kedua gadis itu yang sudah ditebak ingin mencari perhatian padanya.
Tidak ada waktu baginya untuk melayani gadis-gadis yang tidak jelas yang bermaksud menggodanya, karena di Jakarta dia sudah memiliki tambatan hati. Memiliki segalanya dalam hidup tidak serta-merta membuat Sea menjadi pria playboy yang suka menabur janji pada banyak wanita, apalagi gonta-ganti pasangan. Sea tipe pria yang setia karena melihat hal itu pada pernikahan ayah dan ibunya.
Kesetiaan terhadap pasangan menjadi salah satu prinsip dalam hidupnya. Melodi adalah gadis yang sudah dia pacari selama dua tahun ini. Gadis itu sempurna untuk dirinya karena memang merupakan model, walaupun hanya model lokal namun hubungan mereka begitu baik dan membuat Sea berkeinginan untuk segera melamar gadis itu.
Seharusnya mereka memang akan menikah awal tahun depan sesuai keinginan Hasea, pria itu juga sudah mengatakan niatnya itu kepada Melodi. Bahkan orang tua Melodi juga sudah setuju. Namun, hanya karena orang tuanya tiba-tiba datang membawa kabar bahwa dirinya akan dijodohkan dengan paribannya, membuat Sea tidak jadi melamar melodi saat itu juga.
Setelah puas berjalan-jalan, Hasea pun memutuskan untuk kembali. Dia juga harus bersiap-siap untuk segera pulang ke Jakarta dan satu hal yang pasti dia sudah sangat rindu untuk bertemu dengan Melodi.
Mengingat gadis itu, Hasea baru ingat bahwa dia belum membelikan oleh-oleh apapun dari kota ini. Padahal sebelum berangkat ke Medan, dia sudah berjanji akan membawakan sesuatu yang menjadi ciri khas kota ini
__ADS_1
"Aku akan mencarinya di bandara saja nanti," ucapnya bermonolog sembari menghidupkan mesin motornya. Namun saat motor itu sudah digeber dan mesinnya hidup, Ferdi dengan kedua temannya yang mengenali motor itu adalah milik keluarga Dean menahan Sea. Berpikir bahwa Sea adalah pencuri liar yang ingin mengambil motor itu dari parkiran kampus.
"Ada apa ini? Minggir, aku mau lewat!" bentak Sea yang merasa terintimidasi dengan sikap dan apa yang sudah mereka lakukan terhadapnya. Tangan Tomi bahkan sudah memegang kap depan motor untuk menghalanginya pergi.
"Kau siapa? Kenapa pula motor Dean kau pakai?" Hardik Tomi dengan suara keras. Urusan nge-mop bukan masalah sulit baginya, itu sudah jadi makanannya di kampus ini karena dia memang anak MAPALA dan anggotanya BEM.
"Oh kalau teman-temannya Dean? Iya ini memang motornya dan aku mengantarnya ke kampus dengan motor ini," jawab Hasea dengan berani.
"Siapanya rupanya kau? Kok bisa pula kau yang bawa motornya? Setahuku, dia nggak punya abang, iya'kan Fer? Kau kan tetangganya juga Fer, kau tahu siapa aja anggota keluarga Dean. Siapa pula laki-laki ini?" bentak Lindung, salah satu teman Ferdi yang juga ada di sana.
"Kenalkan aku Hasea, tunangan sekaligus calon suami Dean," jawab Sea dengan santai. Pria itu memiliki insting yang kuat, dia menebak salah satu diantara ketiga pria yang sudah mencegatnya itu adalah kekasih Dean. Dia pernah tanpa sengaja mendengar pembicaraan Sian dan juga Dean mengenai ketakutan mereka kalau sampai Ferdi lewat dari depan rumahnya karena jarak rumah yang tidak terlalu jauh dan mengetahui bahwa saat ini ada acara pertunangan di rumah mereka.
"Apa pula maksud anak ini Fer, ngaku-ngaku dia sebagai tunangan Dean? Jelas-jelas kau pacarnya. Nggak bisa dibiarin anak ini, kita hajar aja yuk," ucap Tomi yang memang hobi ada jotos dengan siapapun.
Ferdi yang mendengar hal itu hanya bisa diam. Setelah mendengar cerita dari Dean beberapa hari yang lalu, dia tidak menyangka bahwa hari ini bisa bertemu dengan pria yang jadi pilihan kedua orang tua Dean.
__ADS_1
Lama dia mengamati sosok Sea, dan menilai penampilan pria itu. Jangankan wanita, dia sendiri pun seorang pria bisa menilai bahwa Sea lebih dari dirinya dari segi apapun.
"Bisa kita bicara berdua saja?" pinta Ferdi menatap tajam mata Sea. Dia menjaga agar pria itu tidak buka suara lebih lanjut di depan kedua teman-temannya.