
Sudah hampir malam ketika mereka sampai di rumah. Tadi sedikit lebih lama menunggu Desta menjemput mereka.
Dean menuntut untuk pulang malam itu juga ke Medan, tapi tentu saja Sea tidak akan mengizinkan hal itu terjadi. Lagi pula dia sudah mengabarkan keluarga yang ada di Medan, mertuanya meminta agar dia tetap di sana saja, tidak usah langsung pulang ke Medan karena mereka pun saat ini sekeluarga sedang berada di Samosir untuk menghadiri acara pernikahan saudara mereka.
Kalaupun Dean pulang, tidak akan ada orang yang ditemuinya di rumah dan kunci juga mereka bawa. Dean yang tidak punya pilihan lain setelah mendengar kabar itu langsung dari ibunya hanya bisa menerima nasib.
"Ini makanan dan minumannya. Ada lagi yang kalian butuhkan?" tanya Desta melihat ke arah Dean dan Sea. Desta sebenarnya ingin lebih lama di sana ,setidaknya dia ingin menuntut oleh-oleh untuk dirinya, tapi melihat keadaan yang sangat menegangkan dan raut wajah kedua orang itu yang begitu mengerikan, Desta lebih memilih untuk pulang daripada menjadi wasit dari pertengkaran mereka berdua.
"Ini sudah lebih daripada cukup, Des. thank you, Bro," sahut Sea yang bangkit dari duduknya. Dia ingin mengantar temannya hingga ke bawah, alih-alih untuk mencari udara dan membiarkan Dean menenangkan dirinya untuk sesaat.
"Istri lo kenapa sih? Serem amat," komen Desta setelah mereka berada dalam lift menuju lobby apartemen.
"Jet lag kali. Udah deh lo nggak usah ngurusin. Thanks buat bantuannya, besok kita ketemu lagi di kantor," jawab Sea yang memang tidak ingin memperpanjang pembahasan itu. Mungkin esok hari dia akan bercerita dengan Desta, dia memang butuh teman untuk sekedar meminta pendapat tapi tidak untuk saat ini.
Dia harus menyelesaikan lebih dulu dengan Dean, melihat perkembangan yang ada. Barulah nanti, jika dia tidak bisa lagi menghandlenya, Sea akan datang bercerita kepada beberapa orang yang tepat untuk mendamaikan mereka.
Sea kembali ke apartemen, di liriknya ruang tamu, tapi tidak mendapati Dean lagi.
Dia sempat berpikir, apakah Dean lari dari apartemennya, tapi tidak mungkin karena koper gadis itu masih tergeletak di lantai. Berkutat dengan pemikirannya, sosok Dean muncul dari arah kamar mandi, barulah Sea bisa bernapas dengan lega.
__ADS_1
"Kau lapar? ingin makan apa?" tanya Sea mendekati gadis itu yang kembali duduk di tempatnya semula. Dean bergeming hanya menunduk dan diam seribu bahasa.
"De, jangan begini, kalau kau diamin, aku'kan nggak tahu harus bagaimana. Kamu kenapa?" tanya Sea meluncurkan pertanyaan yang normal sebenarnya, tapi tidak bagi dia, terlebih setelah apa yang terjadi di antara mereka.
Pertanyaan yang dianggap Dean bodoh itu justru menabuh genderang perang di antara keduanya. "Kau bertanya ada apa? Menurutmu aku kenapa?" diserang Dean memprovokasi pria itu.
Sea tentu saja terpojok dengan pertanyaan itu. Dia tentu tahu apa yang terjadi, tapi berat untuk memulai pembahasan itu.
"Apakah ini masalah mengenai yang terjadi malam itu?" tanya Sea mengambil tempat tepat di depan gadis itu.
Dia tidak peduli kalau yang jadi tempat duduknya saat ini adalah meja yang berlapis kaca. Sea tidak terlalu berat, dia yakin meja itu bisa menampungnya untuk berapa saat
"Mungkin kau tidak mengingatnya, tapi malam itu aku bertanya kepadamu. Aku berusaha menghindarimu karena aku yakin saat kau terbangun besok paginya, kau akan membenciku tapi justru kau yang memintanya, De," jawab Sea ragu, pasalnya dia merasa tidak gentlemen bersembunyi dari kalimat itu walaupun itulah yang sebenarnya terjadi.
"Tapi saat itu kau masih sadar, seharusnya kau bisa menahan dirimu'kan? Kau bisa tinggalkan aku, bisa aja kau pergi ke kamar lain. Di rumahmu itu banyak kamar, nggak mesti kau harus tidur samaku malam itu!" jawab Dean yang masih tidak terima dengan alibi Sea.
Emosinya yang meledak-ledak membuatnya merasa kesal, marah bercampur menjadi satu. Tangis gadis itu kembali pecah. Dia begitu takut saat ini, tidak hanya takut kalau Ferdi meninggalkannya setelah tahu mengenai keadaan dirinya sekarang tapi yang lebih besar daripada itu, Dean takut kalau sampai dia hamil!
"Aku mohon, De,jangan nangis semua'kan baik-baik saja, percayalah padaku. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu," ucap Sea dengan begitu lembut, menyelipkan sejumput rambut Sea yang jatuh di pundaknya yang membingkai pipinya kebalik telinga. Sea menangkup dagu gadis itu, memaksa untuk melihat ke arahnya.
__ADS_1
Wajah Dean sudah dipenuhi dengan air mata. Dia paham perasaan gadis itu. Tentu saja dia takut, dia seorang wanita. Ketakutannya sangat beralasan, pasalnya mereka melakukannya juga tidak menggunakan pengaman.
"Bagaimana kalau sampai Ferdi tahu? Dia akan meninggalkanku, lantas bagaimana dengan hidupku? Masa depanku? Kau tahu sendiri aku sangat mencintai pria itu, aku bisa mati kalau sampai dia meninggalkanku!" seru Dean menata tajam ke arah Sea.
Rasa marah terselip di hati Sea mendengar hal itu. Dean hanya memikirkan bagaimana perasaan Ferdi terhadapnya. Sea benci mengakui dirinya kini sudah cemburu kepada pria itu, betapa beruntungnya Ferdi karena berhasil bertahta di hati Dean.
"Dia tidak perlu tahu, kalaupun pada akhirnya dia harus tahu, dia pasti bisa menerimamu kalau memang di sungguh-sungguh mencintaimu," jawab Sea dengan perasaan teriris.
"Aku takut, Sea. Kek mana kalau aku hamil?" ucap Dean memandang wajah pria yang ada di hadapannya itu dengan mata dipenuhi air mata.
"Kalau sampai hal itu terjadi aku akan bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu, jangan menangis lagi ya. Semua akan baik-baik saja," ucap Sea lembut, keduanya saling menatap. Dean yang merasa sedih dan terharu dengan sikap lembut Sea, menyeruak masuk ke dalam pelukan pria itu.
*
*
*
Mampir yuk
__ADS_1