Kenapa Harus Pariban?!

Kenapa Harus Pariban?!
Aku Bukan Pelayan


__ADS_3

Kalau saja tidak mengingat bahwa pria itu adalah anak namborunya, saat ini juga Sean pasti sudah meninju hidung pria itu, tidak jadi masalah kalau akhirnya mereka baku hantam dan Dean pasti kalah, yang penting sekali saja Dean berhasil menampar dan menonjok wajah pria itu sudah cukup baginya tidak peduli kalau balasannya wajah Dean juga lebih memar, bagaimanapun tenaga pria pasti lebih kuat, kan?


Sekali lagi Dean berpikir untuk menyelesaikan pekerjaannya, dia menganggap dirinya adalah babysitter yang menjaga orang jomblo yang sedang sakit.


Dengan kasar dan arogan Sea menunjukkan kamarnya. Tanpa menunggu waktu lama dia menyeret langkahnya meninggalkan pria itu menuju pintu yang ditunjukkan padanya.


Dean menutup pintu kamar dengan pelan. Dia tahu saat melangkah menuju kamar itu, tatapan pria itu melekat di punggungnya. Dia tidak ingin memberi kepuasan kepada Hasea dengan menghempaskan daun pintu kamarnya, karena itu menandakan bahwa dia marah dan tidak terima.


Pria itu harus tahu bahwa dia tidak peduli kalau dia marah ataupun mengumpat padanya, bagi Dean pria bernama Hasea adalah manusia kasat mata.


Begitu pintu terkunci dan punggung Dean menempel di daun pintu, tubuhnya merosot hingga ke bawah lalu gadis itu menekuk kakinya membenamkan wajahnya di puncak dengkulnya. Hatinya sakit teriris, sebagaimanapun dia berusaha tegar, perkataan Sea tadi sungguh menyakitkan, terlebih dia mengungkapkan kepada seorang wanita.


Sean memang tidak punya hati, dengan begitu gampangnya dia menuduh Dean sebagai wanita munafik yang menyukai banyak pria yang mendekatinya.


Dean mengambil waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia memuaskan dirinya untuk menangis, setidaknya tembok kamarnya bisa menjadi penghalang dari mata sinis pria itu kepadanya.


Dia pernah bercerita kepada Rini tentang sikap arogan Sea kepadanya dan sekarang setelah kejadian ini dia menimbang apa yang diucapkan sahabatnya itu mungkin ada benarnya kalau Sea menganggapnya sebelah mata karena berasal dari keluarga yang miskin.


Dia juga sudah pernah mengatakan bahwa semua yang dia lakukan ini demi ibunya karena dia sangat mencintai Namboru Uli, tapi mengapa dia mengorbankan Dean? Seharusnya dia tahu bahwa dia pun tidak menerima perjodohan ini, maka jangan menyimpan rasa kesal di dalam hatinya dan melampiaskan kepada Dean.

__ADS_1


Mandi mungkin salah satu cara untuk mendinginkan kepala. Matanya kini bengkak dan dia memang perlu air segar menyirami tubuhnya agar dia bisa lebih fresh dalam menghadapi monster yang ada di luar kamar itu.


Setelah selesai mandi dan mengoleskan sedikit bedak pada wajahnya, Dean keluar dari kamar.


"Aku pikir kau sudah mati di dalam kamar itu! Apa kau pikir kau ke sini sedang piknik? Liburan, gitu? Bukankah aku tadi menyuruh membuatkan makanan? Aku lapar! Kau ke sini untuk mengurusku, bukan? Jangan kau buat uang mamaku sia-sia membelikan tiket untukmu," hardik Sea menyambut Dean yang baru keluar dari kamar.


Dean tidak menjawab hanya menggeleng-gelengkan kepala dan memutar matanya. Benar-benar tidak percaya bahwa makhluk seperti Sea ada di muka bumi ini. Saat Desta mengambil minuman dari kulkas, Dean melihat arah jalan pria itu dan menebak arah dapur.


Tanpa memandang Sea yang selonjoran di sofa, Dean melintas menuju ke arah dapur memeriksa apa saja isi kulkas yang bisa diolah untuk menyumbat mulut pria itu agar tidak berkotek lagi.


Satu jam berkutak di dapur, Dean cekatan menghasilkan tiga jenis masakan yang bisa dia ciptakan dalam waktu singkat. Aroma masakan yang terasa nikmat membuat perut Sea semakin lapar.


Hasea bener-bener sangat merindukan Melodi, walaupun gadisnya itu tidak pernah memasakkan atau mau memperhatikan kebutuhan Hasea namun, hati pria itu hanya untuk gadis itu karena dia tahu bagaimana memuaskan Hasea.


Makanan sudah tertata di meja makan dan Dean pikir tugasnya sudah selesai. Dia berhak untuk kembali ke kamarnya. Dia tidak selera sedikitpun untuk menikmati makan malam walaupun perutnya kosong.


Dean memang lapar tapi lebih memilih untuk tidak bersitatap dengan Hasea malam itu.


"Kau mau ke mana? Mana makanannya?" tanya Sea yang melihat Dean melintas, segera bangkit dan duduk.

__ADS_1


"Aku bukan pelayanmu, kalau kau lapar pergi ke dapur!" jawabnya setengah membentak. "Itu di meja makan semua sudah aku siapkan, kau tinggal membawa badanmu, duduk, buka mulut dan masukkan makanan itu semua agar perutmu kenyang dan tidak mengoceh lagi," lanjut Dean dengan berani. Dia tidak akan mau ditindas lagi walaupun perkataan pria itu setajam silet yang menggores hatinya.


Mulut Sea melongo, dia tidak menyangka Dean akan berani menjawabnya seperti itu. Pasalnya saat ini gadis itu tinggal bersamanya. Mereka hanya berdua, dia pikir dia akan takut. Kalau dulu gadis itu berani menentangnya karena memang ada di rumahnya, di tempat kekuasaannya, tapi kali ini berbeda, ini rumahnya, kekuasaan Sea mutlak dan dia masih tetap saja berani untuk melawan.


Sampai Dean masuk ke dalam kamarnya mulut Sea masih melongo, barulah setelah hempasan daun pintu yang begitu keras membuat Sea tersadar, dia mengelus dadanya karena kaget.


"Dasar wanita barbar! Memang bener kata teman-teman gue, cewek-cewek Batak memang sangar," umpatnya dalam hati segera berlari ke arah dapur karena perutnya memang sudah sangat lapar.


Tidak ada rasa tersinggung di hati Sea mendengar makian Dean tadi. Dia benar-benar hanya membawa tubuhnya duduk di meja makan dan menikmati makanan itu.


Semua menu habis disantapnya tak bersisa. Walaupun enggan, dia mengakui bahwa masakan Dean sangat nikmat, dia merindukan masakan ini seperti masakan yang pernah dibuatkan ibunya.


Perutnya sudah kenyang tidak ada keinginannya untuk menyimpan piringnya, dia melenggang keluar dari dapur dan menuju ruang kerjanya setelah makan.


Rasanya tubuhnya sudah memiliki kekuatan dan mungkin besok dia sudah bisa masuk kerja.


"Ternyata ada gunanya juga lo datang kemari," batinnya sembari tersenyum ketika melintasi kamar gadis itu.


Hasea terbangun dengan suara gaduh yang dia dengar dari arah dapur, kembali wangi makanan yang begitu nikmat menyeruak masuk ke dalam hidungnya membuatnya bersemangat untuk bangkit dari tempat tidur. Malam itu tidurnya sangat nyenyak, tubuhnya sudah terasa fit pagi ini. Dia melangkah keluar dari kamar, biasanya dia akan masuk ke kamar mandi namun, kali ini dia mencari sumber wangi yang ditebak berasal dari dapur.

__ADS_1


Sea berdiri diambang pintu dapur, memperhatikan Dean yang tampak serius di depan wajan penggorengan. Gadis itu mengenakan celana pendek dan kaos putih oblong dengan rambut yang hanya dicepol ke atas. Pemandangan yang sangat jarang dia lihat namun, entah mengapa matanya begitu menikmati pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.


__ADS_2