
Tuuut... Tuuut... Tuuut... Bunyi nada sambung.
Di percobaan pertama Candra tak menjawab telepon Bu Darmi.
"Tuh kan Bu gak diangkat. Pasti Mas Candra kenapa-kenapa." ucap Harum.
"Hush jangan ngomong gitu! Kita coba lagi siapa tau suami mu gak denger." balas Bu Darmi.
Bu Darmi kembali menghubungi Candra.
Di percobaan kedua Candra juga belum menjawab telepon Bu Darmi. Makin deg-degan saja jantung Harum.
Tapi Bu Darmi masih berusaha berpikiran positif tidak ikut over thinking seperti Harum. Bu Darmi pun melakukan percobaan ketiga, niatnya jika di percobaan ketiga ini Candra tak juga mengangkat telepon, maka mereka akan pergi ke rumah Candra.
Tapi ternyata sebelum nada sambung di percobaan ketiga habis, Candra menjawab teleponnya.
"Halo Sayang." jawab Candra.
Mendengat suara Candra, Harum pun mengambil ponselnya dari tangan Bu Darmi.
"Mas, kamu gak pa-pa Mas?" tanya Harum.
"Gak pa-pa. Memangnya kenapa?" jawab Candra lalu bertanya balik.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa Mas, perasaan aku gak enak dari tadi, udah gitu pas aku bawa piring dan mangkok ke dapur, tiba-tiba aja piring dan mangkok itu lepas gitu aja dari tangan aku." jawab Harum.
Candra diam sejenak.
"Itu kan perasaan mu aja Rum, buktinya aku gak kenapa-kenapa." balas Candra.
__ADS_1
"Terus kenapa kamu lama jawab teleponnya?" tanya Harum.
"Aku lagi BAB, Rum." jawab Candra.
"Dimana?" tanya Harum.
"Ya di WC lah." jawab Candra.
"Maksud aku di tempat makan atau di rumah Mas." balas Harum.
"Di rumah Sayang, aku baru sampe terus sakit perut."
"Beneran?" tanya Harum.
"Iya Sayang, kalau gak percaya alihkan aja ke video call. Nih aku lagi di WC." jawab Candra.
"Hish jorok kamu! Masa kamu suruh aku video call ngeliatin kamu lagi BAB!" protes Harum.
"Tapi perasaan aku gak enak banget tadi Mas." balas Harum.
"Iya Sayang aku ngerti, mungkin karena hormon kamu yang belum stabil. Udah gak usah di pikirin lagi, disini aku baik-baik aja dan aku juga gak kenapa-kenapa. Kamu makan coklat aja biar hormon kamu stabil dan perasaan kamu seneng lagi dan jangan lupa berdoa, oke." balas Candra.
"Iya Mas." jawab Harum.
"Ya udah, Mas tutup yah teleponnya, nanti Mas telepon lagi kalau Mas udah selesai BAB, oke." balas Candra.
"Hemh." balas Harum.
"I love you Sayang." ucap Candra.
__ADS_1
"I love you too Mas." balas Harum.
Candra pun menutup telepon lebih dulu.
"Tuh kan apa Ibu bilang, suami kamu gak kenapa-kenapa." ucap Bu Darmi.
"Terus perasaan Harum yang gak enak ini kenapa Bu?" tanya Harum.
"Yah seperti yang di bilang suami kamu, itu karena pengaruh hormon kamu yang belum stabil makanya kamu jadi suka over thinking." jawab Bu Darmi.
"Udah gak usah di pikirin lagi yang penting suami kamu gak kenapa-kenapa." kata Bu Darmi sambil mengelus-elus punggung Harum.
"Mau Ibu ambilin coklat gak, biar perasaan kamu lebih baik." tawar Bu Darmi.
Harum menganggukkan kepalanya.
"Tunggu yah Ibu ambilin dulu." Bu Darmi pun berdiri dari duduknya lalu berjalan ke dapur untuk mengambil coklat dan cake black forest yang ada di kulkas.
"Gimana Harum?" tanya Pak Danu yang baru selesai membersihkan pecahan beling di lantai.
"Udah baikan. Perasaannya gak enak, dia pikir suaminya kenapa-kenapa tapi tadi udah nelpon Candra kok dan Candra gak kenapa-kenapa. Jadi Harum udah lebih tenang." jawab Bu Darmi.
"Apa perlu yah Bu kita bawa Harum ke psikolog kayak dulu biar mentalnya cepet pulih. Bapak takut ih Harum kayak dulu lagi waktu janinnya terpaksa diangkat." tanya Pak Danu.
"Kita lihat dulu satu minggu ini, kalau makin parah dari ini, baru kita bawa ke psikolog. Makanya Ibu gak mau Harum tinggal di rumahnya dulu, biar Ibu bisa intens perhatikan gerak-gerik Harum. Kalau di rumahnya kan, Candra gak bisa dua puluh empat jam nemenin Harum, karena dia harus kerja." balas Bu Darmi.
"Bapak ngikut Ibu aja kalau gitu, mudah-mudahan Harum gak depresi kayak waktu itu yah Bu." balas Pak Danu.
"Mudah-mudahan Pak. Sini Pak bantu Ibu bawain cake untuk Harum, dia harus banyak makan coklat biar perasaannya senang." ucap Bu Darmi lalu berjalan mendekati kulkas dan diikuti Pak Danu dari belakang.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...