
Melihat langsung suaminya mencium dan menyentuh bagian sensitif wanita lain, air mata Harum pun jatuh begitu saja.
Bayu yang melihat Harum menangis pun tak tega untuk meneruskan merekam video, adegan zinah didepan mata mereka harus segera di hentikan.
"Kayaknya udah cukup lah yah Bang bukti ini?!" tanya Bayu dengan suara yang lumayan keras agar Candra dan Nina mendengar.
Mendengar suara orang lain dari arah dapur, sontak Candra melepaskan ciumannya dan menoleh ke arah dapur.
Melihat ada Harum, Bu Darmi dan Pak Danu, mata Candra membulat lebar, dia kaget sekagetnya. Cepat-cepat Candra beranjak dari atas tubuh Nina. Begitu juga dengan Nina, setelah Candra beranjak dari atas tubuhnya, cepat-cepat Nina berdiri.
"Ha-Ha-Harum..." lirih Candra sambil berjalan mendekati Harum.
"Jangan mendekaaaat!" teriak Harum.
Mendengar teriakan Harum, Candra spontan berhenti dan Bayu spontan pasang badan berdiri di depan Harum.
Sedangkan Bu Darmi, karena tidak ada yang menghalanginya karena semua mata sedang fokus pada Harum dan Candra, Bu Darmi langsung mendekati Nina dan...
__ADS_1
"Dasar perempuan ja.laaaaaaang!!!!" teriak Bu Darmi lalu...
PLAAAAK... Menampar pipi Nina sekeras-kerasnya bahkan sampai Nina terhuyung ke belakang.
Sontak semua mata langsung beralih ke Bu Darmi dan Nina.
Bu Darmi yang belum puas melampiaskan amarahnya, dia kembali melampiaskan amarahnya dengan menjambak rambut Nina.
"Dasar keponakan durhaka!! Kenapa kamu merusak rumah tangga Mbak mu sendiri!! Kenapa kamu melakukan itu Nina!!! Bu Lik sudah anggap kamu seperti anak Bu Lik sendiri dan Harum juga sudah menganggap kamu seperti adik kandungnya, tapi kenapa kamu tega menusuk Mbak mu, Nina!! Kenapa kamu tega merusak kebahagiaan Mbak mu! Begitu banyak laki-laki di luar sana yang bisa kamu goda tapi kenapa harus suaminya Mbak mu!!!" teriak Bu Darmi sambil terus menjambak rambut Nina.
Nina hanya bisa menangis saat Bu Darmi menjambak rambutnya. Dia sadar, dia pantas mendapatkannya.
Sedangkan Harum, dia memilih untuk keluar dari rumah, dia sudah muak melihat Candra dan Nina. Melihat Harum keluar, cepat-cepat Candra mengejar Harum.
"Sudah Bu, sudah, ingat kesehatan Ibu." ucap Pak Danu mengingatkan istrinya.
"Iya Bu sudah Bu, rugi Bu kalau sampai Ibu sakit hanya karena masalah kayak gini." timpal Bayu.
__ADS_1
Perlahan Bu Darmi pun melepaskan tangannya dari rambut Nina. Setelah Bu Darmi melepaskan jambakannya, Nina pun langsung berlutut di hadapan Bu Darmi.
"Maafin Nina, Bu Lik. Nina juga gak ngerti kenapa Nina bisa suka dengan Mas Candra, perasaan Nina untuk Mas Candra ngalir begitu aja. Maafin Nina, Bu Lik." ucap Nina sambil menangis.
"Bu Lik akan kasih tau kelakuan kamu ini di grup keluarga Nina, biar malu kamu!" balas Bu Darmi.
Mendengar itu mata Nina membulat.
"Jangan Bu Lik, Nina mohon jangan kasih tau di grup keluarga. Bisa habis Nina di pukulin Bapak nanti, Ibu juga bisa kena serangan jantung. Bu Lik bisa pukulin Nina sampai puas asal Bu Lik jangan kasih tau keluarga. Nina mohon Bu Lik, Nina mohon." mohon Nina sambil memegang kaki Bu Darmi.
"Kalau tau Ibu mu bakal kena serangan jantung, terus kenapa kamu melakukan itu!!! Pokoknya Bu Lik akan kasih tau ke grup keluarga, kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan! Bu Lik gak terima hanya Harum yang hancur! Harum hancur, kamu juga harus hancur!" jawab Bu Darmi lalu menendang Nina agar tangannya yang sedang memegang kakinya terlepas.
Nina pun terjungkal ke belakang.
Bu Darmi pun cepat-cepat meninggalkan Nina lalu keluar dari dalam rumah, dan di susul Pak Danu, pengacara Batara dan juga Bayu. Mereka semua meninggalkan Nina yang sedang menangis.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...