
"Jadi gimana apa bapak bisa membantu saya mencari bukti perselingkuhan suami saya?" tanya Harum.
"Gampang aja sih sebenarnya. Kita bisa ambil bukti dari rekaman cctv. Selain dari rekaman cctv hotel tempat Mbak Harum memergoki suami Mbak, kita bisa minta rekaman cctv dari pos satpam perumahan atau cctv tetangga rumah Mbak Harum, yah itu pun kalau ada tetangga Mbak Harum yang punya cctv." jawab pengacara Batara.
"Perumahan tempat tinggal saya perumahan baru Pak, belum banyak yang tinggal di situ. Di cluster daerah rumah saya saja baru lima rumah yang terisi, jadi saya rasa tidak ada cctv di tetangga saya." jawab Harum.
"Ya kalau gitu kita bisa minta cctv di pos satpam perumahan. Saya yakin pasti sebelumnya suami Mbak dan selingkuhannya pernah pergi bersama, jadi kita bisa tau sejak kapan mereka berselingkuh." balas pengacara Batara.
"Sekalian kita datangi tetangga warung Mbak Harum, kita minta dia jadi saksi kita nanti." timpal Bayu.
"Iya betul tuh Mbak." jawab pengacara Batara.
Harum menganggukkan kepalanya setuju.
"Kalau begitu ayo kita kumpulkan bukti-bukti sekarang juga." ajak Bayu.
"Loh... gak mau istirahat dulu kah bapak-bapak? Kan kalian sudah nempuh perjalanan jauh, pasti bapak-bapak semua capek." ucap Pak Danu.
__ADS_1
"Capek itu udah makanan sehari-hari kami, Pak, terutama Pak Bayu ini. Jadi kami udah biasa lah dengan hal-hal yang kayak gini." jawab pengacara Batara.
"Lebih cepat kita cari bukti, itu lebih baik Pak. Apalagi suami Mbak Harum kan gak tau kalau Mbak Harum manggil pengacara, jadi sebelum suami Mbak Harum menghilangkan barang bukti, yah kita harus bergerak lebih dulu." timpal Bayu.
"Iya bener itu Pak." jawab Pak Danu.
Bayu, pengacara Batara dan Felix pun berdiri dari duduk mereka dan disusul. Harum, Pak Danu dan Bu Darmi.
"Tunggu sebentar, Ibu ganti baju dulu, Ibu mau ikut." ucap Bu Darmi.
"Gak usah lah Bu, kita dirumah aja, biar Harum aja yang pergi. Ibu kan masih sakit." larang Pak Danu.
"Gak, pokoknya Ibu mau ikut!" jawab Bu Darmi kekeh.
"Ya udah, Ibu ganti baju sana." balas Harum.
Karena Harum mengizinkan, Pak Danu pun mau tak mau mengizinkan istrinya untuk ikut dan karena istrinya ikut, Pak Danu pun juga ikut. Bu Darmi dan Pak Danu pun masuk ke kamar untuk mengganti pakaian mereka.
__ADS_1
💋💋💋
Dengan menggunakan mobil travel yang Bayu carter, mereka pun pergi ke perumahan tempat tinggal Harum-Candra. Tadinya Pak Danu ingin membawa mobilnya sendiri, tapi Bayu melarang dan meminta Pak Danu untuk memakai satu mobil saja. Tujuannya, agar Candra tidak tahu kalau Harum sedang mencari barang bukti. Karena kalau menggunakan mobil Pak Danu, kemungkinan nanti Candra melihat mobil Pak Danu.
Dan sampai lah mereka di pos satpam perumahan. Siang ini ada empat satpam yang sedang berjaga di pos.
Pengacara Batara, Felix dan Bayu pun keluar dari dalam mobil, sedangkan Harum tetap berada di dalam mobil, tapi sebelumnya dia sudah menunjukkan wajahnya kepada satpam perumahan.
Sebelum meminta satpam membuka rekaman cctv pos satpam, tiga orang itu bertanya-tanya lebih dulu pada satpam. Dari keterangan satpam yang berjaga siang itu, tidak ada satu satpam pun yang pernah melihat Candra keluar perumahan dengan wanita lain, yah tidak tahu kalau satpam yang berjaga di sore atau malam hari. Karena satpam yang berjaga di bagi menjadi tiga shift.
Bayu pun meminta satpam untuk membuka rekaman cctv. Tapi keempat satpam itu menolak, mereka harus bertanya lebih dulu pada atasan mereka apa boleh rekaman cctv di perlihatkan dan di berikan pada orang lain.
Selagi menunggu satpam mendapat izin dari atasan mereka, Bayu dan pengacara Batara pun berinisiatif untuk masuk ke dalam perumahan dan mencari cctv di rumah tetangga Harum, siapa tau saja ada tetangga Harum yang memasang cctv atau bahkan pernah melihat Candra membawa perempuan lain ke dalam rumah.
Bayu dan pengacara Batara pun masuk lagi ke mobil, sedangkan Felix tetap tinggal di pos satpam untuk bicara dengan atasan satpam.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...