
Rumah orangtua Harum.
Sesampainya di rumah, Harum langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk, dia ingin menangis sejadi-jadinya dan tidak ingin ada satu orang pun yang menyuruhnya untuk tenang.
Mendengar Harum menangis, jelas saja Bu Darmi khawatir. Dia takut Harum depresi lagi dan melakukan percobaan bu.nuh diri.
Tok... Tok.. Tok..
"Rum.. buka pintunya Rum." ucap Bu Darmi sambil mengetuk pintu.
Harum tidak menjawab, malahan suara tangisan Harum semakin besar.
Pak Danu pun ikut turun tangan meminta Harum membuka pintu kamar.
"Rum.. buka pintu Rum. Kenapa di kunci-kunci sih pintunya, Rum? Ayo nak, buka pintunya." ucap Pak Danu.
"Iya Rum, buka pintunya Rum. Jangan buat yang aneh-aneh kamu di dalam Rum, jangan bikin Ibu dan Bapak khawatir. Ayo nak buka pintunya." timpal Bu Darmi.
Mendengar Bu Darmi dan Pak Danu yang sedang membujuk Harum, Bayu yang ada di ruang tamu pun berinisiatif membantu Pak Danu dan Bu Darmi.
__ADS_1
"Biar saya yang coba bujuk Mbak Harum, Bu." ucap Bayu.
Pak Danu dan Bu Darmi pun menjauh dari pintu dan membiarkan Bayu berdiri didepan pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Mbak Harum bisa ngobrol sebentar gak? Ada yang mau saya dan pengacara Batara tanyakan tentang perceraian Mbak Harum." ucap Bayu.
Harum tak menjawab, dia masih saja menangis.
"Mbak Harum, kalau Mbak Harum mau cepat bercerai dengan suami Mbak, tolong jangan begini. Kami masih butuh keterangan Mbak. Gak ada untungnya Mbak nangisin laki-laki yang udah khianatin Mbak Harum, buang-buang tenaga dan air mata aja. Mending Mbak Harum simpen tenaga Mbak Harum buat besok kita pengadilan agama." ucap Bayu lagi.
"Ya sudah kalau Mbak Harum masih mau mengurung diri, kami pulang saja. Kami jauh-jauh dari Jakarta ke sini belum ada istirahat satu menit pun demi Mbak Harum, tapi Mbak Harumnya malah serapuh ini. Rugi Mbak tenaga dan waktu kami membantu wanita yang rapuh seperti Mbak Harum ini." kata Bayu lagi.
"Bu, Pak, kami pulang aja yah. Suruh aja Harum cari pengacara lain. Saya kasih aja bukti video yang tadi sama kalian, biar pengacara yang baru yang urus." ucap Bayu pada kedua orangtua Harum sambil mengerlingkan matanya sebagai kode kalau itu hanya pura-pura.
"Terserah Pak Bayu saja, tapi terimakasih loh Pak, Pak Bayu dan bapak-bapak pengacara sudah datang jauh-jauh ke sini. Maaf kalau anak kami sudah merepotkan bapak-bapak sekalian." balas Pak Danu.
Bayu tak lagi bicara.
__ADS_1
Di dalam kamar, setelah tidak lagi mendengar suara Bayu, Harum jadi panik.
Cepat-cepat Harum beranjak dari tempat tidur dan membuka kamarnya.
Eng ing eng, begitu membuka pintu kamar, ternyata Pak Danu, Bu Darmi dan Bayu masih berdiri didepan pintu.
Bu Darmi pun langsung memeluk Harum, dia lega karena Harum akhirnya membuka pintu.
"Jangan mengurung diri kayak gitu lah nak, Ibu takut, takut kejadian dulu terulang lagi." ucap Bu Darmi.
"Siapa yang mau bu.nuh diri sih Bu, orang Harum cuma mau nangis." balas Harum.
"Tapi gak usah kunci kamar lah, Bapak sama Ibu masih trauma." balas Pak Danu.
"Iya Pak, Bu, maaf udah buat kalian cemas." ucap Harum.
Melihat Harum begitu disayang kedua orangtuanya, ada perasaan iri dalam hati Bayu. Karena di umurnya yang sekarang sudah menginjak tiga puluh tahun, dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Jangankan kasih sayang, orangtuanya saja dia tidak tau siapa. Karena dia besar di panti asuhan. Dia bisa sampai seperti sekarang ini juga karena berkat keluarga bosnya, Gandhi.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...