
Sampailah Candra di hotel yang disediakan kantor.
Di kamar itu Candra tidak tidur sendirian, melainkan bersama seorang teman kantornya yang pergi bersamanya ke kota tadi pagi. Sedangkan dua teman kantor Candra yang lain tidur di kamar sebelah.
"Loh kok pulang Pak Can?" tanya Jefri, teman kantor Candra.
Tadi Candra berpamitan kepada teman-temannya ingin mengunjungi rumah keluarga Harum yang ada di kota dan kemungkinan tidak akan pulang malam ini. Teman-teman kantor Candra percaya saja kalau Harum punya keluarga di kota.
Candra tak menjawab, dia malah meminjam ponsel Jefri untuk menghubungi Harum.
"Pak Jef, bisa pinjam hapenya gak?" tanya Candra.
"Bisa." jawab Jefri lalu memberikan ponselnya pada Candra.
Candra pun mengambil ponsel Jefri lalu mengetik nomor ponsel Harum.
"Ada apa sih Pak Can? Kok dateng-dateng mukanya gelisah gitu? Ada masalah?" tanya Jefri.
"Gak ada apa-apa kok Pak." jawab Candra.
Panggilan dengan Harum terhubung.
Tapi setelah beberapa kali percobaan, Harum tak kunjung menjawab panggilan Candra.
Apa Harum tau ini nomor Jefri yah? gumam Candra dalam hati.
Candra pun menyerah lalu memberikan ponsel itu ke pemiliknya.
"Ada apa sih Pak Can?" tanya Jefri sambil menerima ponsel itu dari tangan Candra.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa kok Pak, cuma masalah kecil aja sama orang rumah. Dia ngambek gak jelas, nomor ku sampai di blokir, maklum lah hormonnya masih belum stabil, jadi masih sensian, salah ngomong dikit ngambek, salah gerak dikit ngambek, salah noleh dikit ngambek. Ya gitu lah." jawab Candra.
"Oh." Jefri hanya membulatkan mulutnya percaya dengan omongan Candra.
Kriiing...
Tiba-tiba saja ponsel Candra berdering. Candra pikir itu adalah panggilan telepon dari Harum. Cepat-cepat Candra mengambil ponselnya dari kantong celana. Wajah Candra langsung kecewa karena ternyata yang menelpon bukanlah Harum, melainkan Nina.
Candra langsung mereject panggilan Nina lalu memblokir nomor Nina agar tidak lagi menghubunginya.
💋💋💋
Pukul 22.30
Rumah Makan Bu Selmi.
Kini Pak Danu sudah sampai di rumah makan Bu Selmi. Sesampainya di rumah makan langganannya itu, Pak Danu melihat putri bungsunya sudah tidur.
"Iya Pak, daritadi." jawab Bu Selmi.
"Dateng-dateng Nak Harum nangis-nangis tadi Pak." ucap Bu Selmi.
"Dia bilang gak sama Ibu masalahnya apa?" tanya Pak Danu.
Bu Selmi menggelengkan kepalanya.
"Dia gak ada bilang apa-apa, cuma bilang hatinya sakit, dadanya sesak. Terus bilang gak tau mau ngapain habis ini. Tapi ditanya ada apa, Nak Harum gak bilang apa-apa, terus ditanya ada keperluan apa datang ke kota, Nak Harum cuma bilang dateng ke kota mau memeriksa sesuatu." jawab Bu Selmi.
"Apa Nak Harum punya penyakit kronis, Pak?" tanya suami Bu Selmi.
__ADS_1
"Gak ada Pak." jawab Pak Danu.
"Oh saya pikir dia punya penyakit kronis, dateng ke kota untuk periksa di rumah sakit, terus karena hasil diagnosa rumah sakit yang di luar dugaan, jadinya Nak Harum seperti itu." balas suami Bu Selmi.
Tidak seperti suami Bu Selmi yang berpikir Harum memiliki penyakit kronis, Pak Danu malah berpikir kalau yang di periksa Harum di kota itu adalah Candra dan yang membuat dada Harum sesak dan hatinya sakit karena kelakuan Candra yang baru Harum ketahui.
"Maaf yah Pak, Bu kalau anak saya ganggu istirahat Bapak dan Ibu. Anak saya ini gak bilang mau ke kota, tiba-tiba nelpon minta jemput di kota. Karena saya pikir bakalan lama sampai di kota dan di sini juga kami gak punya keluarga dekat, makanya saya suruh anak saya ini tunggu saya disini. Sekali lagi maaf yah Pak, Bu." ucap Pak Danu merasa tak enak hati.
"Iya Pak, gak pa-pa. Pak Danu bukan cuma kami anggap pelanggan aja, tapi udah kami anggap keluarga juga. Jadi kami gak merasa terganggu atau di repotkan kok." balas Bu Selmi.
"Terimakasih loh Pak, Bu, udah mau kasih tempat singgah untuk anak saya." ucap Pak Danu lagi.
"Sama-sama Pak Danu." balas Bu Selmi.
Pak Danu pun membangunkan Harum.
"Rum... bangun Nak, ini Bapak udah dateng." ucap Pak Danu sambil mengelus rambut Harum.
Tak perlu menunggu lama, Harum pun mengerjapkan matanya.
"Bapak..." cicit Harum sambil mendudukkan dirinya lalu memeluk Bapaknya.
Lagi, lagi Harum menangis dan kali ini dalam pelukan Pak Danu.
"Cup... cup... cup... udah, udah, nangisnya berhenti dulu, kita pulang sekarang kasihan Bu Selmi sama suaminya mereka mau istirahat." ucap Pak Danu pelan sambil mengelus punggung Harum.
Perlahan Harum pun menghentikan tangisnya.
Setelah itu Pak Danu dan Harum berpamitan pada Bu Selmi dan suaminya.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...