
Pukul 16.00
"Aaargh..." erangan panjang keluar dari mulut Candra. Dia sudah sampai di puncak kenikmatannya.
Begitu semua cairan kentalnya tumpah semua didalam rahim Nina, Candra pun mengeluarkan wortelnya dari dalam goa lembab Nina lalu membaringkan badannya di sebelah Nina untuk mengistirahatkan sejenak tubuhnya.
Saat ini mereka berbaring di lantai ruang makan.
Nina memeluk Candra begitu Candra berbaring di sebelahnya.
Baru juga Nina memeluk Candra, Candra langsung menyingkirkan tangan Nina yang melingkar didadanya kemudian mendudukkan badannya.
"Mas Candra mau kemana?" tanya Nina.
"Mau mandi." jawab Candra.
"Kamu pulang yah, Mas mau pergi ke rumah Bu Lik mu." ucap Candra.
"Ngapain ke rumah Bu Lik?" tanya Nina sambil mendudukkan badannya.
Pertanyaan macam apa itu!
"Yah kan istri Mas disitu. Yah Mas harus temenin istri Mas lah, apalagi kondisi mentalnya lagi gak stabil sekarang, jadi Mas harus nemenin Mbak mu." jawab Candra.
"Tapi Nina juga butuh Mas Candra." balas Nina.
"Besok kita ketemu lagi yah." bujuk Candra.
"Gak mau! Nina mau malam ini Mas Candra sama Nina. Mbak Harum kan di sana udah ada yang nemenin, jadi malam ini Mas Candra temenin Nina aja." rengek Nina seolah-olah dia adalah istri kedua yang punya hak atas suaminya.
"Nin-"
"Nina mohon Mas." rengek Nina.
__ADS_1
Candra menghela nafasnya kasar.
"Ya udah, tapi malam ini aja yah, besok malam Mas harus pulang ke rumah mertua Mas." ucap Candra dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Nina.
Candra pun berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ruang televisi. Nina juga ikut berdiri dan mengekori Candra.
Sesampainya di ruang televisi, Candra dan Nina memakai pakaian mereka lebih dulu setelah itu baru Candra mengambil ponselnya untuk menghubungi Harum.
"Kamu jangan bersuara, Mas mau nelpon Mbak mu dulu." ucap Candra memberi peringatan pada Nina.
Nina menganggukkan kepalanya.
Panggilan dengan Harum pun tersambung.
"Halo Mas." jawab Harum.
"Sayang, malam ini aku gak kesana dulu yah." izin Candra.
"Iya Sayang. Pak Camat minta Mas nemenin dia rapat dengan Pak Walikota besok. Jadi malam ini Mas sama Pak Camat mau rapat membahas point-point yang akan kami sampaikan besok." jawab Candra berbohong.
"Gak pa-pa kan Sayang?" tanya Candra.
"Iya Mas, gak pa-pa. Masa iya aku marah sih Mas, itu kan udah kerjaan kamu. Yang penting kamu jangan telat makan yah, jangan lupa sarapan, jangan minum kopi kalau perut masih kosong. Ingat asam lambung mu Mas." jawab Harum.
"Iya Sayang." jawab Candra.
"Terus pakaian mu gimana? Udah kamu siapin belum?" tanya Harum.
"Ini baru mau aku siapin." jawab Candra.
"Ya udah, aku matiin yah, aku mau siapin baju buat besok habis itu mandi terus ke rumah Pak Camat. Kamu jangan stress-stress yah Sayang disana, jangan bikin aku kepikiran disini." balas Candra.
"Iya Mas. I love you Mas." balas Harum.
__ADS_1
"I love you too Rum." balas Candra.
Panggilan telepon berakhir.
Candra pun meletakkan kembali ponselnya diatas meja lalu menoleh ke arah Nina yang saat ini sedang cemberut.
"Kok cemberut? Kamu cemburu aku telepon istri aku?" tebak Candra.
"Jujur, iya! Aku cemburu Mas! Aku cemburu kamu manggil Mbak Harum, Sayang dan kamu bilang i love you sama Mbak Harum, sedangkan ke aku kamu gak ngelakuin itu." jawab Nina.
"Kamu aneh Nin. Kan tadi udah aku bilang kamu gak boleh cemburu kalau aku lagi sama istri aku." balas Candra.
"Tapi kan aku juga bilang sama Mas, kalau Mas harus memperlakukan aku sama seperti Mas memperlakukan Mbak Harum. Mas manggil Mbak Harum, Sayang, berarti Mas juga manggil Nina, Sayang. Mas bilang i love you ke Mbak Harum, berarti Mas juga harus bilang i love you ke Nina." jawab Nina.
"Maaf Nin, kalau yang itu Mas gak bisa! Cinta Mas hanya buat istri Mas. Kamu kan sadar hubungan kita ini hubungan yang macam apa, dan bukan Mas yang mau dengan hubungan ini, tapi kamu sendiri yang mau, jadi jangan memaksakan perasaan Mas juga untuk cinta sama kamu." tolak Candra.
Tiba-tiba saja Nina menangis.
"Hiks... Nina tau Mas Candra cintanya cuma sama Mbak Harum, tapi apa salahnya sih Mas kalau Mas juga manggil Nina seperti Mas manggil Mbak Harum? Apa salahnya sih Mas kalau Mas bilang i love you ke Nina? Toh Nina juga gak minta Mas ngelakuin itu dengan perasaan, Nina hanya minta ngelakuin itu sekedar di mulut aja bukan pake hati... hiks... hiks... hiks..." ucap Nina.
Candra menghela nafasnya kasar lalu menarik Nina dan memeluk Nina.
"Udah jangan nangis, kalau kamu mau Mas begitu, Mas akan melakukan itu. Mas akan manggil kamu sayang dan bilang i love you seperti yang kamu mau." ucap Candra berusaha menenangkan Nina.
Dan kata-kata Candra pun berhasil menenangkan Nina.
"Bener yah Mas." tanya Nina kurang yakin dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Nina.
"Tapi Mas masih penasaran, kenapa kamu sampai segitunya menginginkan Mas? Apa kamu kurang kasih sayang dari ayah kamu? Makanya sampai segitunya kamu menginginkan Mas?" tanya Candra.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1