Kenapa Harus Sepupuku, Mas?

Kenapa Harus Sepupuku, Mas?
KHSM BAB 70


__ADS_3

Belum juga bidan datang, Nina sudah sadarkan diri.


"Eugh..." lenguh Nina sambil mengerjapkan matanya.


"Ini, minum dulu." ucap Mbak Indah begitu melihat adik bungsunya sadar. Mbak Indah pun membantu Nina untuk minum.


Setelah Nina minum, Arsy membalurkan minyak kayu putih di leher dan perut Nina.


"Mbak, Ibu mana?" tanya Nina mencari Ibunya.


"Lagi keluar sebentar." jawab Mbak Indah.


Tak lama bidan yang Bu Esty minta di panggilkan pun datang. Bidan yang di panggil teman Nina itu adalah bidan yang sama yang menangani Harum saat Harum keguguran.


Bidan Desi pun langsung diarahkan langsung ke kamar yang di tempati Nina.


"Siang Bu." sapa Mbak Indah.


"Siang juga." balas Bidan Desi.


"Yang mana nih yang mau di periksa?" tanya Bidan Desi. Karena sekarang di dalam kamar bukan hanya ada Nina, Mbak Indah dan Arsy tapi ada juga Wulan dan dua teman Nina yang lain.


"Yang ini Bu." jawab Mbak Indah sambil menunjuk Nina.


Bidan Desi pun mendekati Nina yang sedang berbaring di kasur lalu mulai memeriksa keadaan Nina. Bidan Desi juga menanyakan keluhan-keluhan yang Nina rasakan.


Nina pun memberitahu kalau dari kemaren pola makannya memang tidak beres. Dia tidak selera makan, setiap di paksa makan pasti muntah.


"Jadi adik saya sakit apa Bu bidan?" tanya Mbak Indah.


"Ini cuma asam lambungnya aja kok." jawab Bidan Desi.


"Tensinya juga lumayan tinggi. Apa kamu belakangan ini lagi stress atau susah tidur?" tanya Bidan Desi pada Nina.

__ADS_1


"Iya sih Bu, memang lagi banyak pikiran." jawab Nina sambil melirik Mbak Indah.


Mendengar jawaban Nina, Mbak Indah hanya memutar bola matanya malas.


Bidan Desi pun mengeluarkan botol obat dari tas yang dia bawa. Obat yang diberikan bidan Desi hanyalah obat asam lambung.


"Obatnya di makan tiga kali sehari sebelum makan yah." ucap bidan Desi sembari memberikan obat itu pada Nina.


"Iya Bu." jawab Nina.


Setelah memberikan obat itu, Bidan Desi pun mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.


Setelah semua barang-barangnya sudah dia kemas, dan saat bidan Desi mau berdiri dari duduknya, tiba-tiba saja Bu Esti masuk ke kamar itu.


"Tunggu dulu Bu bidan." ucap Bu Esti mencegah Bidan Esti pergi.


Sontak semua mata menoleh kearah pintu.


Bu Esti berjalan mendekati Bidan Desi.


"Kita periksa testpack dulu." ucap Bu Esti sambil menyodorkan lima buah testpack dengan merk yang berbeda yang baru saja Bu Esti beli.


Itulah alasan Bu Esti keluar, dia ingin pergi ke apotik untuk membeli testpack. Bu Esti bukan orang yang naif, kalau laki-laki dan perempuan sudah berhubungan intim, yah sudah pasti harus memeriksa kehamilan.


Memang gejala-gejala orang yang sedang hamil muda, sama seperti orang yang sakit maag. Tapi bagi orang yang sudah pernah melakukan hubungan suami-istri, harusnya bisa di curigai apa yang sedang dialami Nina adalah gejala-gejala kehamilan.


Jangan salahkan bidan juga, karena bidan tidak tau kalau Nina pernah melakukan hubungan suami-istri apa tidak.


Bidan pun tidak bisa mengetahui kalau pasiennya itu hamil atau tidak kalau tidak di lakukan tes urine apalagi kalau kehamilannya masih hitungan dua atau empat minggu. Kecuali kehamilannya sudah lebih dari sepuluh minggu, baru bidan bisa mengetahui kalau pasiennya hamil atau tidak meski tidak melakukan tes urine.


Mata Nina serta teman-teman Nina yang ada di kamar itu membulat sebesar-besarnya.


Kok Nina harus melakukan pemeriksaan kehamilan? Masalah apa yang sebenarnya terjadi?

__ADS_1


Begitulah kira-kira tanda tanya besar yang ada di pikiran teman-teman Nina.


"Kenapa harus di testpack Bu? Memangnya anak adek ini udah nikah?" tanya Bidan Desi.


"Belum. Anak saya memang belum nikah. Tapi saya curiga kalau dia sudah hamil." jawab Bu Esti dengan tatapan tajam menatap Nina.


Makin kaget saja teman-teman Nina mendengar kata-kata Bu Esti. Tambah lagi pertanyaan dalam kepala mereka.


Kalau Nina hamil, anak siapa? Kan pacarnya Nina gak pernah datang kesini.


Mendapat tatapan tajam dari ibunya, Nina langsung menundukkan kepalanya.


Apa iya aku hamil? Gimana ini kalau memang benar aku hamil? Mas Candra pasti gak mau tanggung jawab. gumam Nina dalam hati.


Bu Esti mendekati Nina.


"Ayo bangun! Cepet periksa pake testpack ini." paksa Bu Esti sambil menarik tangan Nina agar Nina bangun dari kasur.


Nina meronta, dia menolak periksa memakai testpack karena dia takut, dia takut kalau hasilnya garis dua.


Tapi setelah di paksa Bu Esti dan diancam akan di pukuli pakai rotan, Nina pun akhirnya mau melakukan pemeriksaan kehamilan.


"Ndah, temeni adek mu ini di kamar mandi!" perintah Bu Esti pada Mbak Indah.


"Baik Bu." jawab Mbak Indah.


Nina dan Mbak Indah pun keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah Nina dan Mbak Indah keluar, semua orang yang ada di dalam kamar itu juga keluar dari dalam kamar dan menunggu Nina dan Mbak Indah di ruang tengah.


💋💋💋


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2