
Sangking histerisnya meraung-raung, tekanan darah Bu Darmi sampai naik. Tiba-tiba saja pandangan Bu Darmi gelap dan kepalanya terasa berat. Melihat itu cepat-cepat Pak Danu membawa Bu Darmi ke puskesmas.
Sesampainya di puskesmas, Bu Darmi langsung mendapat pertolongan, untungnya tekanan darahnya tidak melewati batas sehingga Bu Darmi yang di berikan obat saja dan tidak perlu di rujuk ke rumah sakit.
Setelah mendapatkan obat, Bu Darmi pun kembali kerumah dan sesampainya di rumah, Pak Danu dan Harum langsung membawa Bu Darmi ke kamar lalu membaringkan ke tempat tidur.
"Ibu istirahat aja yah, gak usah mikir yang macem-macem dulu. Kesehatan Ibu lebih penting dari apapun." ucap Harum.
"Mana bisa Rum, rumah tangga kamu hancur karena ulah keponakan Ibu, mana bisa Ibu istirahat dengan baik." balas Bu Darmi.
"Tapi Ibu sakit kayak gini gimana Harum bisa kuat Bu. Semua masalah pasti bisa Harum hadapi, asal Ibu dan Bapak selalu sehat dan selalu di samping Harum. Jadi Harum mohon, Ibu gak usah mikirin masalah ini dulu, Ibu harus sehat biar Harum tetap kuat menjalani semua ini." balas Harum.
Bu Darmi menganggukkan kepalanya dengan air mata yang tak hentinya mengalir dari matanya.
Harum pun keluar dari kamar orangtuanya. Lima belas menit setelah Harum keluar, Pak Danu pun keluar dari kamar dan menyusul Harum di ruang tengah.
"Ibu udah tidur?" tanya Harum.
"Belum. Tapi Ibu minta Bapak keluar, dia mau sendirian." jawab Pak Danu sambil mendaratkan bokongnya di sofa.
"Pak..."
"Hemh."
__ADS_1
"Harum mau gugat cerai Mas Candra, Pak." ucap Harum.
Pak Danu terdiam sejenak lalu menghela nafasnya kasar.
"Apapun keputusan mu Bapak mendukung mu Rum. Perselingkuhan sampai berbuat zinah memang kesalahan yang paling fatal dan tidak bisa di maafkan. Tapi ada beberapa orang yang masih memberikan kesempatan kedua pada pasangannya. Kalau kamu sudah memutuskan untuk tidak memberikan kesempatan kedua pada suami mu, yah itu hal yang wajar." ucap Pak Danu.
"Tapi menggugat cerai suami mu dengan alasan perselingkuhan kan harus ada bukti, apa kamu punya bukti perselingkuhan Candra dan Nina?" tanya Pak Danu.
Harum menggelengkan kepalanya.
"Kemaren itu Harum terlalu emosi dan menggebu-gebu memergoki perselingkuhan Mas Candra jadi Harum lupa mengumpulkan bukti." jawab Harum.
Pak Danu menghela nafasnya kasar.
Harum menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu juga mau melaporkan Candra ke instansinya?" tanya Pak Danu.
"Tanpa Harum laporkan pun pasti nanti orang kantor tau, tapi nanti Harum bicarakan dengan pengacara bagaimana prosesnya." jawab Harum.
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba saja pintu depan terketuk.
__ADS_1
Pak Danu dan Harum saling pandang. Ayah dan anak itu memikirkan satu nama yang sama yang mengetuk pintu, siapa lagi kalau bukan Candra.
"Kamu masuk ke kamar, biar Bapak yang buka pintunya." ucap Pak Danu dan dibalas dengan anggukkan kepala oleh Harum.
Pak Danu dan Harum pun berdiri dari duduk mereka, lalu sama-sama pergi meninggalkan ruang tengah, Harum masuk ke kamar dan Pak Danu berjalan ke pintu depan.
Ceklek. Pak Danu membuka pintu rumah.
Dan benar saja yang datang adalah Candra.
Dia sengaja pulang dari kota dengan menggunakan mobil travel yang paling pagi. Sebelum kerumah mertuanya, Candra singgah dulu ke rumahnya bersama Harum, tapi karena Harum tak ada disana, Candra pun langsung kerumah mertuanya.
"Pak..."
"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Pak Danu dengan tatapan membunuh.
Pak Danu sangat emosi melihat Candra, ingin sekali Pak Danu menonjok wajah menantunya itu tapi dia coba tahan.
"Sa-sa-saya cari Harum, Pak. Harum disini kan Pak?" jawab Candra gugup. Melihat sorot mata Pak Danu yang tak ramah, Candra yakin kalau Harum pasti sudah cerita tentang perselingkuhannya dengan Nina.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1