
Tau Candra bakal mengejarnya, Harum tak langsung keluar dari gedung hotel. Dia bersembunyi dulu. Setelah melihat Candra keluar dari hotel, barulah Harum keluar dari hotel. Dia terus berjalan sampai di halte bus. Tak lupa Harum memblokir nomor Candra dan menonaktifkan lokasi di ponselnya agar Candra tak bisa menghubungi dan melacaknya.
Harum pun menghubungi Bapaknya, dia ingin minta di jemput oleh Pak Danu. Maklum saja, hari sudah malam, tidak ada lagi mobil travel atau bus tujuan ke kampung Harum.
"Halo Rum." jawab Pak Danu.
"Pak..." balas Harum dengan suara yang bergetar.
"Kamu kenapa Nak? Kok suara mu gitu? Kamu sakit? Suami mu mana?" tanya Pak Danu.
"Bapak bisa jemput Harum gak sekarang?" tanya Harum.
"Kenapa kamu? Sakit, hah?" tanya Pak Danu lagi.
"Hati Harum yang sakit Pak... huwaaaa..." tangis Harum pecah seketika.
"Loh kenapa kamu Nak?" tanya Pak Danu, nada suara Pak Danu sudah melemah, firasatnya mengatakan ada yang tak beres dengan rumah tangga anaknya.
Pak Danu yang saat ini ada di rumah langsung keluar dari rumah agar istrinya tidak mendengar suara tangisan Harum di seberang telepon.
__ADS_1
Harum tak menjawab, dia terus saja menangis sejadi-jadinya, padahal saat ini Harum sedang ada di tempat umum.
"Kamu dimana sekarang, biar Bapak jemput?" tanya Pak Danu karena Harum tak henti-hentinya menangis.
"Ha-Ha-Harum... hiks... di-di-di kota... hiks... Pak." jawab Harum sambil sesunggukkan.
"Di kota?" kaget Pak Danu.
Tapi Pak Danu tidak mau menanyakan kenapa anaknya itu bisa sampai di kota.
"Ya sudah, Bapak kesana sekarang. Mungkin Bapak datengnya agak lama, kamu tunggu Bapak di rumah makan Bu Selmi yah, jangan kemana-mana sebelum Bapak dateng, oke." ucap Pak Danu.
Pak Danu pun menutup teleponnya.
Setelah panggilan telepon dengan Bapaknya berakhir, Harum pun menyeka air matanya lalu mencari ojek dan meminta ojek membawanya ke rumah makan Bu Selmi, rumah makan langganan Pak Danu kalau pergi di kota.
Sementara di rumah orangtua Harum, Pak Danu langsung berpamitan dengan Bu Darmi untuk pergi ke kota. Pak Danu tidak memberitahu Bu Darmi kalau dia ke kota untuk menjemput Harum, alasan Pak Danu ke Bu Darmi, karena ingin mengantar barang juragan Hendro. Bu Darmi percaya-percaya saja karena bukan sekali ini juragan Hendro meminta suaminya mengantar barang ke kota.
Sementara di tempat lain, saat Harum pergi ke rumah makan untuk menunggu Pak Danu menjemputnya, dan Pak Danu sedang dalam perjalanan menjemput Harum, saat ini Candra sibuk mencari Harum ke loket travel dan bus walaupun dia tahu jam segini sudah tidak ada lagi mobil travel atau bus yang masuk ke kampungnya.
__ADS_1
Semua loket travel dan bus sudah Candra datangi, tapi dia tidak menemukan Harum dimana-mana. Candra pun mencari Harum ke ruko orangtua Yunda. Tapi Harum juga tak ada disana.
Setelah dari ruko orangtua Yunda, Candra pergi ke tempat-tempat yang mungkin Harum datangi, seperti alun-alun dan taman kota, tapi hasilnya sama, dia tak menemukan Harum dimana-mana.
Karena tak menemukan Harum, Candra pun kembali ke hotel, bukan hotel yang dia booking untuk staycation dengan Nina melainkan hotel yang sudah di sediakan kantor.
💋💋💋
Rumah Makan Bu Selmi.
Sepanjang menunggu Pak Danu datang, Harum terus menangis sambil bercerita dengan Bu Selmi dan suaminya.
Kebetulan rumah makan itu juga tempat tinggal Bu Selmi dan suaminya, jadi walau rumah makan sudah tutup, Harum masih bisa menunggu kedatangan Pak Danu di dalam warung.
Karena lelah menangis akhirnya Harum pun tertidur di ruang tengah yang ada di lantai dua. Karena lantai satu khusus untuk rumah makan.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1