
Pukul 23.00
Suara decapan bibir memenuhi kamar Candra-Harum.
Pasangan suami-istri ini berciuman penuh gairah. Sambil mereka berciuman, tangan Candra mere.mas gundukan kenyal Harum dan tangan Harum memijat wortel lokal Candra.
TRING. Tiba-tiba ponsel Candra berbunyi.
Sontak Candra yang sedang mimpi sedang pemanasan dengan Harum pun bangun dari tidurnya.
"Astaga! Cuma mimpi ternyata!" cicit Candra sambil mengusap wajahnya.
Kemudian Candra menoleh kesebelahnya dimana Harum sedang tidur nyenyak.
Candra mendekatkan tubuhnya ke tubuh Harum lalu menciumi telinga Harum sambil menggesek-gesekkan wortelnya yang sudah mengeras di bokong Harum.
"Rum... bangun Rum, pengen nih." bisik Candra.
Harum tak merespon.
"Rum... ayo dong bangun." bisik Candra lagi.
Lagi, lagi Harum tak merespon, tapi Candra masih berusaha membangunkan Harum agar memenuhi kebutuhan biologisnya.
Drt... Drt... Drt...
Tiba-tiba saja ponsel Candra bergetar. Ada panggilan masuk di ponselnya.
Siapa sih nelpon tengah malam begini? gerutu Candra dalam hati.
Mau tidak mau Candra pun menjauhkan tubuhnya dari tubuh Harum lalu mengambil ponselnya yang ada diatas nakas sebelahnya.
Mas Karyo. Nama yang tertera di layar ponsel Candra.
__ADS_1
Nama itu hanyalah nama samaran, nama asli si penelpon adalah Nina. Sengaja memang Candra mengganti nama Nina dengan nama Mas Karyo agar saat dia mengecas ponselnya atau meninggalkan ponselnya saat mandi dan ada pesan masuk atau panggilan masuk dari Nina, Harum tidak curiga.
Candra langsung menolak panggilan masuk dari Nina lalu hendak mengirim pesan ke Nina.
Saat dia membuka whatsapp ternyata sudah ada pesan dari Nina lebih dulu.
[Nina] : Mas, aku gak bisa tidur.
Itulah isi pesan Nina beberapa menit yang lalu yang membuat Candra terbangun dari mimpi nya.
[Nina] : Kok di reject Mas?
Baru juga Candra mau mengirim pesan pada Nina, Nina sudah duluan mengirim pesan pada Candra.
[Candra] : Udah malem ini, chatan aja! Jangan telponan nanti Harum bangun!
Padahal tadi Candra ingin membangunkan Harum.
Candra menoleh kearah Harum. Melihat Harum tidurnya sangat nyenyak, Candra pun mengiyakan ajakan Nina.
Lagi pula dia juga sangat membutuhkan Nina untuk melampiaskan hasratnya. Karena kalau dengan Harum, hasratnya tidak akan puas terlampiaskan karena Harum hanya bisa melayaninya dengan tangan atau mulutnya saja.
[Candra] : Oke. Tapi kamu jalan sampe simpang dua yah. Mas jemput disana.
[Nina] : Beneran ini Mas?
[Candra] : Iya. Cepetan siap-siap!
[Nina] : Oke.
Candra tak lagi membalas pesan Nina dan langsung beranjak dari tempat tidur dengan sangat pelan. Kemudian mengambil hoodie dan masker lalu memakainya, Candra juga mengambil hoodie Harum yang couple-an dengan hoodie yang Candra pakai untuk di pakai Nina, jadi kalau ada orang yang melihat, orang itu akan mengira yang di bonceng Candra adalah Harum bukan Nina. Dan yang paling penting dan tak boleh ketinggalan adalah kunci warung Harum.
Ya, dia ingin membawa Nina ke warung Harum dan melampiaskan hasratnya dengan Nina disana karena menurut Candra hanya tempat itu yang paling aman. Karena kalau membawa Nina ke penginapan, Candra takut nanti ada yang melihat.
__ADS_1
Dengan langkah mengendap-endap seperti maling, Candra pun keluar dari kamar lalu membuka pintu rumah dengan sangat pelan, kemudian mengeluarkan motor Harum yang dua hari lalu sudah diantar pulang kerumah oleh anak buah Candra.
Setelah motor berhasil di keluarkan, cepat-cepat Candra mengunci lagi pintu rumah lalu pergi menjemput Nina yang sudah menunggunya di tempat yang Candra minta.
"Kok lama banget sih Mas?" protes Nina.
"Aku bisa keluar aja syukur Nin!" jawab Candra.
"Ini pake!" Candra memberikan hoodie Harum yang tadi dia bawa.
Nina membentangkan hoodie itu.
"Mas beliin ini buat Nina?" tanya Nina kepedean. Dia sudah kesenangan melihat hoodie couple dengan yang Candra pakai.
"Bukan, itu punya Mbak mu. Sengaja Mas bawa untuk kamu pake. Jadi kalau ada orang yang lihat, orang ngiranya kamu itu Harum." jawab Candra.
Wajah senang Nina langsung berubah dengan wajah kecut mendengar jawaban Candra.
"Udah cepetan pake! Malah cemberut!" desak Candra.
"Mas punya hoodie couplean sama Mbak Harum, kok sama aku gak ada, Mas?" tanya Nina dengan bibir yang manyun-manyun.
"Bukan Mas yang beli itu tapi Mbak mu." jawab Candra.
"Kamu mau pergi gak? Atau Mas pulang aja kalau kamu cemberut-cemberut gitu?!" ancam Candra.
Mau tidak mau Nina memakai hoodie Harum lalu naik ke atas motor.
Setelah Nina naik ke atas motor, barulah Candra melajukan motornya menuju warung Harum.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1