
Dua hari berlalu.
Sejak kejadian itu, Candra selalu buang muka ketika bertemu dengan Nina, dia selalu menghindari Nina, tak ada lagi sapaan atau sekedar senyuman Candra jika berpapasan dengan Nina. Candra seperti melihat orang asing saat bertemu Nina.
Bukan hanya itu, sejak kejadian itu, setiap pulang kerja, Candra tidak pulang ke rumahnya melainkan pulang ke rumah orangtua Harum dengan alasan tidak sanggup jauh dari Harum. Bu Darmi tidak mungkin mengusir menantunya itu, apalagi sejak Candra tinggal di rumahnya, kondisi Harum jadi lebih baik, Harum tidak merasakan cemas lagi.
Melihat sikap Candra yang dingin padanya, Nina tidak terima, dia sedih dan gelisah karena Candra selalu buang muka ketika berpapasan dengannya dan yang lebih menyakitkan Candra bahkan memblokir nomor Nina.
Pukul 15.00
Jam kerja pegawai kecamatan sudah habis. Pegawai kantor kecamatan pun satu persatu keluar dari kantor kecamatan, begitu juga dengan Candra.
Nina yang sejak tadi menunggu jam kantor kecamatan selesai, langsung berlari menghampiri Candra begitu melihat Candra keluar dari kantor kecamatan. Demi menunggu Candra pulang kerja, Nina meninggalkan teman-temannya yang saat ini sedang sibuk mengecat pagar jembatan. Mengecat pagar jembatan + jembatannya dengan warna-warni serta membuat gardu adalah salah satu kegiatan Nina dan teman-teman KKN nya setelah selesai mengajar di sekolah.
"Mas Candra!!!" teriak Nina.
Candra menghela nafasnya kasar. Tanpa menoleh, Candra bisa tau siapa yang memanggilnya.
Candra menghiraukan Nina yang sedang berlari ke arahnya, dia terus berjalan menuju mobilnya.
Nina langsung menghadang Candra yang ingin membuka pintu mobil.
"Huh... huh.. huh... Mas... huh... ada yang mau... huh... Nina omongin." ucap Nina dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Mau ngomong apa?" tanya Candra.
"Soal kita Mas." jawab Nina.
Sontak Candra langsung melihat kanan-kirinya, untuk memastikan tidak ada yang mendengar ucapan Nina yang barusan.
"Hati-hati kamu kalau ngomong Nin! Kalau ada yang denger gimana!" protes Candra.
"Makanya kita pergi dari sini Mas, biar gak ada yang denger." jawab Nina.
Candra menghela nafasnya.
"Masuk!" perintah Candra lalu membuka pintu mobil bagian kemudi dan masuk ke dalam mobil, dan disusul Nina yang juga masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian depan.
Tujuan Candra sekarang adalah rumah. Karena hanya di rumahnya lah tempat yang aman berbicara dengan Nina.
💋💋💋
Kini Candra dan Nina sudah berada di rumah Candra.
"Mau ngomong apa?" tanya Candra.
"Kenapa Mas Candra hindarin Nina selama dua hari ini?" tanya Nina.
__ADS_1
"Terus mau kamu Mas harus gimana?" Candra malah bertanya balik pada Nina.
"Setelah apa yang udah kita lakuin, harusnya Mas Candra gak boleh menghindari Nina seperti itu! Nina sedih Mas kalau Mas Candra hindarin Nina seperti itu." protes Nina.
"Kamu pikir Mas suka dengan sikap Mas ini? Gak Nin! Mas juga merasa gak enak sama kamu. Tapi mau gimana lagi, kamu sendiri yang membuat Mas kayak gini. Kalau kamu mau Mas bersikap seperti dulu ke kamu, kamu harus terima Mas gak bisa tanggung jawab nikahin kamu, tapi Mas janji akan memberikan apa yang kamu mau sebagai kompensasi keperawanan kamu. Kalau kamu gak terima dengan keputusan Mas, yah jangan salahkan Mas kalau Mas terpaksa hindarin kamu, Mas gak mau kamu berharap lebih sama Mas." jawab Candra.
Nina diam sambil menundukkan kepala.
Hatinya terasa sakit sekali mendengar kata-kata Candra, tapi hatinya lebih sakit saat Candra menghindarinya.
Nina pun membulatkan keputusan yang sudah dia pikirkan selama dua hari ini. Setelah tekadnya bulat, perlahan Nina mengangkat wajahnya dan menatap Candra.
"Nina gak pa-pa, Mas gak nikahin Nina, tapi tolong jangan hindarin Nina, Mas. Nina gak bisa di hindarin Mas Candra, Nina mau Mas Candra tetap memperhatikan Nina." ucap Nina.
"Tadi Mas bilang akan memberikan apapun mau Nina sebagai ganti keperawanan Nina, mau Nina cuma satu Mas, kita tetap menjalin hubungan dan Nina mau Mas memperlakukan Nina seperti Mas memperlakukan Mbak Harum." kata Nina.
Candra cukup tercengang mendengar kata-kata Nina.
Apa sebenarnya yang ada di pikiran Nina sampai-sampai Nina berani mengambil keputusan itu? Apa segitu cintanya Nina pada Candra sampai-sampai Nina rela menjalin hubungan tanpa status dengan Candra. Atau Nina sebenarnya mengalami fatherless, makanya dia mencari sosok pria yang bisa mengganti peran ayah dalam hidupnya. Tapi bukannya ayah Nina masih hidup?
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1