
Mobil yang di naiki Harum cs pun memasuki cluster rumah Harum.
"Pak, pelan-pelan aja jalannya, biar kita lihat ada yang masang cctv gak di rumah mereka." ucap Bayu pada supir. Saat ini pengacara Batara sudah duduk di kursi penumpang bagian depan, sedangkan di bagian tengah ada Bayu dan Pak Danu dan di paling belakang ada Bu Darmi dan Harum.
"Baik Pak." jawab si supir. Supir pun mengendari mobil dengan kecepatan lambat menyusuri cluster rumah Harum. Bayu, pengacara Batara dan Pak Danu pun langsung memasang mata mencari kamera cctv di rumah tetangga Harum dari dalam mobil dan tanpa membuka kaca mobil. Sedangkan Bu Darmi dan Harum, mereka juga ikutan celingak-celinguk tapi bukan untuk mencari kamera cctv.
"Loh itu bukannya Nina?" ucap Pak Danu tiba-tiba saat tak sengaja melihat Nina sedang memasuki halaman rumah Candra-Harum.
Sontak semua mata langsung mengarah ke rumah yang beberapa meter di depan mereka, lebih tepatnya tiga rumah dari tempat mereka berada sekarang.
"Iya itu Nina." ucap Harum yang penglihatannya masih bagus dari Pak Danu dan Bu Darmi.
"Maju Pak, maju Pak." pinta Bayu pada supir.
Supir pun melajukan mobil sampai di depan rumah Harum-Candra.
Bu Darmi yang sudah geregetan langsung mendesak Pak Danu untuk keluar agar Bu Darmi bisa keluar dari dalam mobil.
"Cepetan keluar Pak, Ibu udah gak sabaran mergokin mereka!" ucap Bu Darmi.
Pak Danu pun memegang handle pintu, namun saat Pak Danu hendak menarik handle pintu, Bayu mencegah Pak Danu membuka pintu.
__ADS_1
"Jangan keluar dulu, Pak. Kita tunggu sampai perempuan itu masuk." ucap Bayu.
"Loh kok nunggu sampe Nina masuk? Yah keburu mereka berbuat mesum lah di rumah itu!" protes Bu Darmi yang emosinya sudah di ubun-ubun.
"Loh bagus dong kalau mereka berbuat mesum disana. Kita tinggal rekam, terus jadi barang bukti. Iya kan?" jawab Bayu santai.
"Bukannya tujuan kita kesini untuk mencari barang bukti perselingkuhan suaminya Mbak Harum? Nah, sekarang suaminya Mbak Harum lagi menyiapkan sendiri barang buktinya, jadi kita tunggu aja beberapa saat lagi." kata Bayu lagi.
Pak Danu mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan kata-kata Bayu.
Bu Darmi pun diam dan menuruti perkataan Bayu, walau sebenarnya hatinya sudah sangat panas sekarang.
Saat ini Harum hanya bisa diam, walau dalam hatinya sedang menangis meraung-raung.
💋💋💋
Karena Candra tak bisa di hubungi sejak kejadian di hotel itu, maka dari itu, sesampainya di kampung, setelah mengembalikan kopernya ke posko, Nina pun langsung mendatangi rumah Candra.
Melihat mobil Candra dan motor Harum terparkir di halaman rumah, Nina pun yakin kalau Candra ada di dalam rumah, meski pintu rumah dalam keadaan tertutup.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Nina mengetuk pintu rumah.
Candra yang sedang galau sambil minum bir hitam di ruang tengah pun langsung berdiri dari duduknya, dia yakin kalau yang datang itu adalah Harum. Kenapa dia sangat yakin? Karena kunci rumah yang biasa di pegang Harum ketinggalan di kamar.
Tanpa melihat siapa yang datang dari jendela, Candra yang penampilannya sudah kacau langsung saja membuka pintu.
Dengan wajah yang bahagia Candra menyambut kedatangan orang yang dia pikir Harum, tapi senyum lebarnya langsung punah begitu melihat orang yang di hadapannya adalah Nina.
"Nina! Ngapain kamu kesini? Pergi sana! Kita udan gak punya urusan apa-apa lagi!" usir Candra.
Nina tidak menjawab, hatinya sakit melihat keadaan Candra yang sangat kacau, apalagi Nina mencium bau bir yang keluar dari mulut Candra saat Candra bicara.
"Mas Candra kok kacau banget sih? Pasti di dalam Mas Candra minum bir yah? Habis berapa botol bir yang sudah Mas minum?" tanya Nina.
"Bukan urusan kamu! Pergi sana kamu!" usir Candra.
Tapi bukannya pergi, Nina langsung mendorong Candra dan menyerobot masuk begitu saja.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1