
"Nina, keluar aku bilang!" usir Candra sambil mengekori Nina dari belakang.
Nina tak peduli, dia terus berjalan memasuki ruang tengah.
"Nina, kamu punya telinga gak sih?! Keluar aku bilang!" teriak Candra lagi.
Tapi lagi dan lagi Nina tak peduli.
Sesampainya di ruang tengah, Nina melihat di meja ada empat botol bir hitam yang sudah terbuka dan tiga botol yang masih tertutup.
"Astaga Mas, kamu udah minum bir empat botol?" tanya Nina.
"Kalau iya kenapa? Bukan urusan kamu juga kan aku mau minum bir empat botol, sepuluh botol, seratus botol!" jawab Candra.
"Inget kesehatan kamu, Mas! Patah hati boleh, tapi gak gini juga." balas Nina.
__ADS_1
"Gak usah nasehatin aku kamu! Ini semua gara-gara kamu! Kalau aja waktu itu kamu gak dateng saat aku kesepian, semua gak akan kayak gini! Sekarang aku harus kehilangan Harum gara-gara kamu!" bentak Candra.
"Ya kalau Mbak Harum udah gak mau sama Mas, kan masih ada aku Mas, kita bisa mulai hubungan kita yang baru." balas Nina.
Candra tersenyum sinis mendengar kata-kata Nina.
"Apa kamu bilang? Menjalin hubungan yang baru sama kamu? Tau diri kamu, Nin! Kamu tuh cuma pelampiasan n@f$u aku aja, jadi gak usah mimpi kamu bisa menggantikan posisi Harum di hati aku!" ucap Candra.
Mendengar itu, jelas hati Nina sakit bukan main. Walaupun dari awal dia tau kalau Candra hanya menjadikannya tempat pelampiasan dan tidak mengharapkan lebih dari hubungannya dengan Candra, tapi namanya juga Nina sudah pakai hati menjalin hubungan terlarang ini dengan Candra, rasa ingin memiliki Candra seutuhnya pun makin besar.
"Kenapa aku gak boleh mimpi bisa menggantikan posisi Mbak Harum di hati kamu? Kalau memang cinta kamu untuk Mbak Haruk begitu besar, gak mungkin kamu bisa tergoda sama aku, Mas! Kalau kamu bisa tergoda sama aku, itu artinya Mas Candra gak sepenuhnya mencintai Mbak Harum! Karena kalau memang cinta laki-laki untuk wanitanya sangat besar, mereka tidak akan pernah kalah dengan n@f$u mereka! Tidak akan pernah ada kata khilaf kalau memang cinta laki-laki itu sangat besar untuk wanitanya!" balas Nina.
Dia jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa iya kalau cintanya untuk Harum tak sebesar yang dia selalu dia ucapkan? Mungkin saat pacaran, cintanya untuk Harum memang sebesar yang selalu dia katakan pada Harum, tapi setelah menikah, tanpa dia sadari rasa cinta mulai terkikis oleh rasa bosan, bosan karena dirinya yang harus terus mengalah pada Harum dan memberi perhatian dan pengertian pada Harum, makanya saat pacaran dulu, secantik dan sebohay apapun wanita yang menggodanya, dia sama sekali tidak tertarik, tapi setelah menikah, dengan mudahnya dia tergoda melihat tubuh Nina.
Saat Candra sedang introspeksi dirinya, tiba-tiba Nina memeluknya.
__ADS_1
"Mas, move on Mas, lepaskan saja Mbak Harum dan kita mulai hidup baru. Nina gak masalah kalau Mas Candra belum bisa cinta sama Nina, tapi Nina yakin suatu hari nanti pasti Mas Candra bisa buka hati Mas Candra untuk Nina." ucap Nina.
"Lepas! Gila kamu! Gak mungkin aku melepas Harum! Aku akan memperjuangkan rumah tangga aku sampai titik darah penghabisan!" balas Candra sambil berusaha melepaskan pelukan Nina.
Nina mengerahkan semua tenaganya agar pelukannya tidak terlepas dari Candra, bahkan tanpa Candra duga, Nina langsung menaiki tubuh Candra seperti anak koala.
Karena aksi Nina yang tiba-tiba, Candra sampai hilang keseimbangan dan mereka pun terjatuh di lantai dengan posisi Nina diatas tubuh Candra.
"Aaargh..." teriak Candra karena merasakan sakit di bagian belakangnya.
Saat Candra sedang kesakitan, Nina malah menggunakan kesempatan itu untuk mencium bibir Candra.
Spontan Candra mendorong tubuh Nina hingga ciuman Nina terlepas lalu membalikkan posisi mereka. Kini, Nina lah yang ada di bawah kungkungan Candra.
"Ini kan yang kamu mau, hah! Oke aku turuti kemauan kamu!" ucap Candra dengan sorot mata tajam lalu mencium bibir Nina dengan kasar dan tangannya mere.mas gundukan kenyal Nina dengan kuat sampai Nina kesakitan.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...