Ketika Di Sakiti

Ketika Di Sakiti
#22


__ADS_3

Hari menjelang malam, rumah yang di tempati Azzura ada yang mengetuk. Di pikir Azzura adalah Umi Aisyah dan Azzam, tapi pas pintu di buka adalah kurir yang datang membawa berkas yang sudah di tandatangani Saka.


"Alhamdulillah, Saka sudah menandatangi berkasnya. Aku harus segera memberitahu kepada Mas Azzam." Azzura menutup pintu dan menghubungi Azzam


"Assalamualaikum Mas, Saka sudah menandatangi surat perceraian." Kata Azzura terlihat senang.


"Wa'alaikumsalam Alhamdulillah, baik kalau begitu. Saya dan Umi akan segera kesana." Kata Azzam, ia tidak kalah senang.


Tak lama kemudian, Umi Aisyah dan Azzam datang.


"Umi sangat senang, Nak." Umi Aisyah memeluk Azzura.


"Iya, Umi. Aku juga senang, tadinya aku sempat khawatir Saka ngga mau menceraikan aku. Tapi nyata sangat mudah ia mau menceraikan aku, pasti sih wanita murahan itu yang membujuknya." Kata Azzura.


"Bisa jadi, Ra. Yang penting kamu bisa terlepas dari pria brengsek itu." Kata Azzam.


"Ya udah kamu pulang sana, biar Umi nginap disini temanin Azzura." Umi Aisyah mengusir Azzam.


"Loh! Kok aku di usir, Mi. Aku juga mau nginap disini." Azzam merengek seperti anak kecil.


"Sudah beberapa kali Umi bilang, Azzura itu masih istri orang. Udah sana kamu pulang, ngga baik seorang pria berkunjung malam-malam di rumah wanita yang masih status istri orang."


"Iya-iya aku pulang, Ra. Besok aku kesini lagi untuk menjemput mu, kita akan bertemu dengan pengacara yang akan menangani perceraian mu dengan sih brengsek."


"Iya, Mas."

__ADS_1


Rumah Azzam dan Azzura hanya bersebelahan, Azzam sengaja membeli 2 unit rumah bersebelahan. Agar ia cepat menemui Azzura.


Ddrrtt


Ddrrtt


Ponsel Azzam berdering.


"Assalamualaikum, Abang sama Umi dimana?Aku pulang kalian ngga ada di rumah." Yang telepon adalah Ibrahim, sang adiknya.


"Wa'alaikumsalam Kami sedang ada di Bandung, tumben biasanya pulang selalu kabarin Abang atau Umi." Kata Azzam.


"Aku tadinya akan memberi kejutan kepada kalian, eh! Malah aku yang mendapatkan kejutan dari kalian. Oia Abang dan Umi ngapain di Bandung?Aku susul kalian ya, ngga enak sendirian di sini." Ucap Ibrahim.


"Ini sudah malam sebaiknya besok aja kamu kesini sekalian nanti abang share lokasinya."


Sambungan di putus oleh Azzam.


"Kebiasaan Abang, aku belum selesai bicara malah di tutup aja. Untung Abang aku, kalau bukan tak tonjok nih orang." Kesal Ibrahim.


"Tapi kenapa Umi dan Abang ke Bandung, ya?Ngga biasanya Umi pergi minta di anterin sama Bang Azzam."


"Sudahlah, aku ngga mau berpikir macam-macam. Lebih baik aku istirahat, badan ku pada pegal semua."


Ibrahim berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Masih tetap sama, Umi memang the best. I love Umi forever, jadi ingin meluk Umi."


Sebelum ia tidur, Ibrahim membersihkan tubuhnya.


"Segernya."


Di Sisi lain


Alex sudah bisa membaca Iqra, bocah itu sangat cepat tanggap. Surat-surat pendek Al Qur'an dia hafal 5, Papi Revan sangat bangga dengan kepintaran yang di miliki Alex.


Papi Revan yakin bila kelak besar nanti dia akan menjadi pemimpin yang amanah dan agamis, tidak seperti Saka dan Sonya yang selalu mementingkan duniawinya.


Cara bicara Alex sudah agak mulai lancar tidak terlalu cadel, semua berkat didikan guru-guru dan pendamping Alex. Walau Alex cuma baru seminggu ia berada di pesantren, tapi ia sudah bisa menguasai pembejaran dengan cepat.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2