Ketika Di Sakiti

Ketika Di Sakiti
#35


__ADS_3

Azzura dan Dina menuju ke Salon yang tidak jauh dari butik. Salon ini hanya melayani wanita, karyawannya juga wanita semua. Termasuk petugas kebersihan.


"Ayo, Kak." Dina menggandeng tangan Azzura.


"Selamat datang di salon kami." Sapa karyawan Salon.


"Iya, Kakak. Aku sama kakak aku mau perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki, sama nanti di make up oke." Kata Dina.


"Baik, silakan. Nona-nona." Karyawan salon tersenyum.


Azzura dan Dina mengikuti karyawan salon, lalu karyawan mengajak Azzura dan Dina masuk keruangan SPA.


"Silakan nona-nona melepas pakaian dan menggunakan ini." Karyawan memberikan handuk.


"Din, masa kita menggunakan ini sih. Aku malu banget." Bisik Azzura, ia merasa malu kalau hanya menggunakan handuk. Karena ini pertama kalinya Azzura perawatan ke salon.


"Tidak apa-apa, kak. Di sini semua karyawannya wanita, jadi kakak tenang aja. Tidak ada satu pun laki-laki di sini, Kak." Dina menjelaskan.


"Tapi tetap aja malu, Din."


"Udah tidak apa-apa, Kakak ganti di sana. Aku ganti disana ya." Dina menunjukkan arah kamar mandi.


"Iya dech." Terpaksa Azzura mengikuti kemauan Dina.


"Baru kali ini aku perawatan ke salon, sumpah banget aku sungguh malu. Jika tubuh ku di lihat orang lain, walau mereka perempuan." Kata Azzura dalam hati.


Azzura dan Dina sudah mengganti pakaian dengan handuk yang di lilit di dada, lalu mereka di suruh tengkurap. Mereka akan di pijat.


Awalnya Azzura merasa risih, karena tubuhnya di pegang. Tapi lama-lama ia merasa rileks.


"Ya Allah, sungguh nikmatnya. Begini rasanya SPA, badan jadi lebih enak dan enteng." Kata Azzura dalam hati.


"Ck, katanya malu dan risih. Dia malah menikmati, sampai ketiduran. Hahaha." Dina melihat Azzura yang tengah tidur.


Tak lama kemudian, mereka sudah di SPA. Lanjut creambath dan mani pedi nail.


"Ternyata perawatan ke salon itu memerlukan waktu yang sangat lama dan bertahap, sungguh repotnya." Gumam Azzura dalam hati.


Dina tengah asyik berbalas pesan dengan Azzam dan diam-diam Dina memfoto Azzura, tapi hanya jari Azzura nya saja. Membuat Azzam geram dengan kelakuan adik sepupunya itu.


"Kalian selesai jam berapa?lama sekali sih." Kata pesan Azzam.


"Udah jangan bawel, nanti Abang juga tau sendiri hasilnya. Pokoknya tidak bakalan kecewa, semuanya percayakan sama Dina." Kata Dina membalas pesan Azzam.


Setelah creambath dan mani pedi nail, mereka di make over. Azzura sudah merasa bosan, karena hampir seharian mereka di Salon.


Tak lama kemudian, mereka sudah di make over dan sudah menggunakan gaun yang baru saja mereka beli.


"Masya Allah, Kakak cantik sekali. Aku sampai pangling." Dina merasa takjub melihat kecantikan Azzura.


"Masa?apa ini tidak berlebihan, Din?. Aku merasa tidak pede berdandan seperti ini." Azzura merasa tidak percaya diri.

__ADS_1


"Ih! Kakak harus percaya diri, Kakak ini sangat cantik luar dalam. Ayo semangat tuan putri, kita berangkat ke pesta." Dina menyemangati Azzura.


"Iya, Din. Tapi nanti di sana kamu jangan tinggalkan sendirian ya, aku tidak mengenal siapa-siapa selain keluarga kalian."


"Tenang, Kakak. Aku tidak akan meninggalkan kakak, Ya udah yuk kita berangkat."


"Yuk."


Mereka berjalan anggun menuju mobil, semua orang yang di salon menatap takjub melihat kecantikan Azzura dan Dina. Lalu mereka berbondong-bondong meminta karyawan salon, agar di dandanin seperti Azzura dan Dina.


Tibalah mereka di tempat tujuan, lampu pun mati. Tapi terlihat seperti bintang, lampu-lampu itu itu juga di keliling bunga. Sehingga menambah indah di lihat, tapi buat Azzura tidak. Karena ia merasa ketakutan.


"Din, kok malah mati sih lampunya." Azzura agak ketakutan.


"Ikuti lampu-lampu kecil, yak Kak. Aku mau ke toilet sebentar." Kata Dina.


"Tapi aku takut sendirian, Din."


"Kakak, tenang aja. Percaya sama aku, Kakak ikuti lampu-lampu kecil itu ya. Nanti aku nyusul, soalnya aku sudah tidak tahan."


"Iya, dech. Kakak tunggu disana, ya. Kamu jangan lama-lama, Ya." Azzura tidak merasa curiga sama sekali.


"Iya, Kakak ku cantik. Kakak ku sayang."


Azzura berjalan pelan mengikuti lampu-lampu kecil, tiba-tiba lampu menyoroti dirinya. Ia tambah ketakutan.


"Ya Allah, ini apa yang terjadi. Aku takut, Din... Dina... kamu dimana." Azzura memanggil nama Dina.


Dengarkanlah, wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu, dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


'Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang 'tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


"Azzura Bareeka, saya Azzam Mahendra melamar mu untuk menjadi pendamping hidup ku dan menjadi ibu dari anak-anak ku. Mau kah kamu menerima pinangan ku?." Laki-laki itu adalah Azzam, lampu menyoroti tubuh Azzam. Azzura menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia merasa tidak percaya. Kalau di hadapannya itu Azzam.


Azzam mendekati Azzura, lalu berlutut.

__ADS_1


"Azzura Bareeka bersediakah kamu menjadi istri ku dan ibu dari anak-anak ku kelak."


"Sungguh ini sangat mengejutkan buat ku, baru kali ini ada yang melamar ku seperti ini."


"Aku akan melakukan semua demi kamu, agar kamu bisa bahagia bersama ku. Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu sama kamu, tapi aku akan berusaha semampu ku. Untuk membuat bahagia dan tidak akan ada air mata yang keluar dari mata mu, hanya aja air mata kebahagiaan. Bagaimana maukah kamu menjadi istri ku."


"Aku bersedia, mas." Jawab Azzura malu-malu.


"Alhamdulillah, terimakasih. Sayang." Azzam mencium tangan Azzura.


"Iya, Mas. Sama-sama."


Lampu di nyalakan kembali, di sekeliling sudah ada Umi Aisyah, Abi Ismail, Alex, Dina dan sepasang suami istri baru Ibrahim dan Zahwa. Mereka merasa senang, pada akhirnya Azzam dan Azzura akan menikah.


"Umi, Abi, Alex, Baim, Zahwa dan Dina." Kata Azzura.


"Mama, Papa. Berarti nanti kita bisa tidur bertiga." Alex senang, lalu memeluk Azzura dan Azzam.


"Iya, Sayang." Azzam menggendong Alex.


"Kamu ini dari tadi malah pegang-pegangan, belum sah. Tidak boleh belum mukhrim." Umi Aisyah menjewer telinga Azzam.


"Adduuhh, Mi. Sakit, ini aku lagi gendong Alex nanti takut jatuh." Azzam memegang erat Alex agar tidak jatuh.


"Pokoknya Umi tidak mau minggu depan kamu harus sudah nikah sama Azzura." Umi Aisyah nampak kesal.


"Dengan senang hati, Umi." Azzam malah senang.


"Apa tidak terlalu cepat Umi?." Azzura merasa terlalu cepat, bukan menolak.


"Kan lebih bagus sayang, kalau lebih cepat."


"Tapi aku mau nanti ayah kandung ku yang menikahi ku, Umi." Azzura menunduk.


"Ya Udah besok kita kesana, Umi sudah tau alamat kedua orangtua mu."


.


.


.


.


.


.



Di sambi bikin kue... 😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2